(Deep Learning) Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 1

Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti untuk kelas 1 fase A Sekolah Dasar mempunyai peranan yang sangat penting. Ini bukan hanya soal mengenal ritual dan hafalan, tetapi lebih sebagai fondasi awal untuk membentuk karakter, identitas keagamaan, dan nilai-nilai moral yang baik dalam diri anak. Dalam kerangka kurikulum merdeka yang mengutamakan pembelajaran yang membebaskan, relevan, dan mendalam, metode pengajaran juga perlu mengalami perubahan.

Modul Ajar Deep Learning PAI dan Budi Pekerti Kelas 1 SD

Di sinilah integrasi Deep Learning, yang dipahami sebagai pembelajaran yang mendalam, penuh makna, dan holistik, melalui prinsip Mindful Learning (Pembelajaran Penuh Kesadaran), Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna), dan Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan) menjadi suatu keharusan.

Memahami Esensi Kurikulum Merdeka dan Deep Learning dalam PAI dan Budi Pekerti Kelas 1

Kurikulum merdeka memberikan kebebasan kepada guru dan institusi pendidikan untuk menyusun pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks siswa (pembelajaran diferensiasi). Fokus utama adalah pada pengembangan kompetensi dan karakter melalui Deep Learning, bukan hanya pada pencapaian materi dengan cepat dan luas.

Deep Learning dalam konteks ini merujuk pada metode pembelajaran di mana siswa aktif membangun pemahaman, menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman dan informasi lama, serta bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tiga pilar utamanya dalam pembelajaran PAI dan Budi Pekerti kelas 1 SD fase A adalah:

  1. Mindful Learning: Pembelajaran dengan penuh kesadaran, melibatkan perhatian, refleksi, dan penghayatan. Dalam modul ajar deep learning PAI dan Budi Pekerti kelas 1 kurikulum merdeka, ini berkaitan dengan kesadaran akan keberadaan Allah, rasa syukur, serta introspeksi diri.
  2. Meaningful Learning: Pembelajaran yang mempunyai makna dan relevansi dengan kehidupan sehari-hari anak. Konsep-konsep agama dihubungkan dengan pengalaman konkret anak berusia 7-8 tahun.
  3. Joyful Learning: Pembelajaran yang menyenangkan, meningkatkan partisipasi positif, mengurangi kecemasan, dan menciptakan pengalaman belajar yang baik. Ini penting untuk menumbuhkan cinta terhadap ajaran agama Islam sejak usia dini.

Modul Ajar Deep Learning Kurikulum Merdeka sebagai Peta Perjalanan Belajar

Modul ajar deep learning kurikulum merdeka berfungsi sebagai pedoman lengkap untuk guru yang mencakup tujuan, langkah-langkah, alat penilaian, dan materi ajar untuk satu unit pembelajaran. Untuk Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti, modul ajar deep learning kelas 1 fase A harus dibuat dengan memperhatikan karakteristik perkembangan anak yang konkret, suka bermain, meniru, dan penuh rasa ingin tahu.

Integrasi Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning dalam Modul Ajar Deep Learning PAI dan Budi Pekerti Kelas 1

Berikut adalah contoh penerapan ketiga pendekatan dalam pengembangan modul ajar deep learning PAI dan Budi Pekerti kelas 1 kurikulum merdeka untuk beberapa tema penting:

1. Tema: Mengenal Rukun Iman (Asmaul Husna: Ar-Rahman dan Ar-Rahim)

  • Capaian Pembelajaran: Siswa mengenali sifat Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang melalui ciptaan-Nya.
  • Aktivitas Pembelajaran:
    • Joyful & Meaningful: “Puzzle Karunia Indra”. Siswa dibagi dalam kelompok dan masing-masing kelompok menerima teka-teki gambar bagian tubuh (mata, telinga, tangan, dan lain-lain) yang menarik dan berwarna. Mereka berlomba untuk menyusunnya. Setelah selesai, guru memfasilitasi diskusi.
    • Meaningful & Mindful: Guru bertanya, “Siapa yang menciptakan mata supaya kita bisa melihat pelangi?” “Siapa yang memberikan telinga untuk mendengar suara burung?” Siswa diminta untuk menyebutkan karunia lain yang mereka rasakan (keluarga, teman, makanan). Di sini, konsep abstrak Ar-Rahman dan Ar-Rahim dihubungkan dengan pengalaman nyata (meaningful). Selanjutnya, guru mengajak siswa untuk sejenak menutup mata, merasakan napas, dan bersyukur atas karunia tersebut (mindful).
    • Joyful: Bernyanyi lagu “Allah Maha Pengasih” dengan gerakan sederhana, atau membuat “Kartu Syukur” bergambar untuk diberikan kepada orang tua.
  • Penilaian: Mengamati sikap syukur, hasil karya kartu syukur, dan kemampuan menceritakan kembali karunia Allah yang mereka sukai.

2. Tema: Meneladani Sikap Nabi Muhammad SAW (Jujur dan Amanah)

  • Capain Pembelajaran: Siswa mencontoh sifat kejujuran Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari mereka.
  • Aktivitas Pembelajaran:
    • Joyful: Mengadakan permainan peran “Kantin Kejujuran”. Di kelas, dibuat suasana kantin sederhana di mana siswa bisa membeli makanan dengan membayar sendiri dan mengambil kembalian mereka sendiri. Guru mengamati perilaku siswa.
    • Meaningful & Mindful: Setelah bermain peran, guru mengajak siswa duduk melingkar untuk melakukan refleksi. “Apa yang kalian rasakan ketika diberikan kepercayaan?” “Apa yang terjadi jika kita tidak jujur tentang kembalian yang kita ambil?” Cerita tentang Nabi Muhammad yang dikenal sebagai Al-Amin disampaikan menggunakan wayang atau boneka. Siswa didorong untuk merasakan lega saat berkata jujur dan gelisah saat berbohong.
    • Meaningful: Siswa diminta untuk membuat “Janji Kejujuranku” yang sederhana, contohnya menggambar tangan dengan tulisan “Aku berjanji untuk selalu berkata jujur pada Ibu”. Janji ini kemudian ditempel di tempat yang mudah terlihat.
  • Assesmen: Observasi saat bermain peran, partisipasi dalam diskusi, dan hasil dari “Janji Kejujuranku”.

3. Tema: Praktik Bersuci (Wudhu)

  • Capain Pembelajaran: Siswa melaksanakan langkah-langkah wudhu dengan teratur dan benar.
  • Aktivitas Pembelajaran:
    • Joyful: “Lomba Menyusun Urutan Wudhu”. Gambar atau kartu urutan wudu diacak, siswa dibagi dalam kelompok untuk menyusunnya dengan cepat dan tepat. Atau bisa menggunakan lagu “Air Wudhu” yang membantu dalam menghafal urutan tersebut.
    • Meaningful: Guru mengaitkan wudhu dengan aktivitas sehari-hari. “Sebelum makan, kita mencuci tangan. Sebelum shalat, kita membersihkan diri dengan wudhu. Wudhu membuat kita segar dan bersih secara zahir dan batin.” Praktik dilakukan langsung di tempat wudhu sekolah dengan bimbingan.
    • Mindful: Sebelum praktik, guru mengarahkan siswa untuk bernafas dengan tenang. Saat praktik, siswa diajarkan untuk merenungkan setiap guyuran air: “Air ini menyegarkan dan membersihkan. Saat mencuci wajah, kita diingatkan untuk menjaga pandangan dari hal-hal yang buruk.” Ini mengubah aktivitas yang biasanya mekanis menjadi sebuah ibadah yang penuh kesadaran.
  • Assesmen: Penampilan dalam praktik wudhu, ketepatan dalam menyusun urutan, dan refleksi sederhana mengenai perasaan setelah melaksanakan wudhu.

Peran Guru sebagai Fasilitator yang Mindful, Meaningful, dan Joyful

Keberhasilan pelaksanaan modul ajar deep learning PAI dan Budi Pekerti kelas 1 kurikulum merdeka sangat tergantung pada guru. Guru harus mampu beralih dari sekadar pemberi informasi menjadi seorang fasilitator yang:

  1. Mindful: Hadir dengan sepenuh hati, sabar, menjadi pendengar yang baik, dan bisa menciptakan suasana yang tenang untuk refleksi.
  2. Meaningful: Mampu menghubungkan ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda Tuhan di alam) dengan ayat qauliyah (Al-Qur’an), serta menjelaskan nilai-nilai agama dalam konteks kehidupan siswa.
  3. Joyful: Kreatif dalam membuat berbagai permainan, bernyanyi, bercerita, dan melakukan eksperimen, sehingga pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti menjadi kegiatan yang dinanti-nantikan oleh siswa.

Silahkan download modul ajar deep learning PAI dan Budi Pekerti kelas 1 kurikulum merdeka disini

Tantangan dan Penutup

Tantangan utama adalah kebutuhan waktu persiapan yang lebih banyak, kreativitas dari guru, dan kemungkinan keterbatasan alat dan bahan. Namun, hasil yang didapat sangat bernilai. Melalui modul ajar deep learning PAI dan Budi Pekerti kelas 1 SD fase A kurikulum merdeka yang menggabungkan Unsur Mindful, Meaningful, dan Joyful akan menjadikan pembelajaran tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang membosankan, melainkan sebagai sebuah petualangan yang menyenangkan untuk mengenal Sang Pencipta, mengasihi ajaran-Nya, dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, tujuan kita bukan hanya supaya anak-anak bisa menghafal doa dan urutan wudhu, tetapi juga supaya mereka tumbuh dengan kesadaran spiritual, memahami makna ibadah dalam hidup mereka, dan merasakan kebahagiaan saat menjalankan ajaran agama. Inilah dasar yang kuat untuk membentuk generasi yang bukan hanya cerdas dalam akademis, tetapi juga mempunyai akhlak mulia dan karakter yang kuat.

You might also like
Modul Ajar Deep Learning Kelas 10 Kurikulum Merdeka

Modul Ajar Deep Learning Kelas 10 Kurikulum Merdeka

Modul Ajar Deep Learning Kelas 9 Kurikulum Merdeka

Modul Ajar Deep Learning Kelas 9 Kurikulum Merdeka

Modul Ajar Deep Learning Kelas 8 Kurikulum Merdeka

Modul Ajar Deep Learning Kelas 8 Kurikulum Merdeka

Modul Ajar Deep Learning Kelas 7 Kurikulum Merdeka

Modul Ajar Deep Learning Kelas 7 Kurikulum Merdeka

Modul Ajar Deep Learning Kelas 6 Kurikulum Merdeka

Modul Ajar Deep Learning Kelas 6 Kurikulum Merdeka

Modul Ajar Deep Learning Kelas 5 Kurikulum Merdeka

Modul Ajar Deep Learning Kelas 5 Kurikulum Merdeka