Salah satu dokumen krusial dalam kurikulum merdeka adalah Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), yang merupakan rangkaian tujuan pembelajaran yang dibuat secara sistematis berdasarkan capaian pembelajaran (CP). ATP kurikulum merdeka berfungsi membantu guru dalam merencanakan aktivitas belajar dan menunjukkan arah pencapaian kompetensi murid.

Saat ini, perhatian tertuju pada ATP SKI kelas 8 Madrasah Tsanawiyah (MTs) fase D kurikulum merdeka, murid mulai bisa berpikir kritis dan analitis, memahami hubungan antara peristiwa dalam sejarah, serta belajar dari pengalaman masa lalu umat Islam untuk membentuk karakter dan identitas mereka.
Sebelum kita melanjutkan, penting untuk mengenali komponen di dalamnya. Setiap ATP SKI kelas 8 MTs fase D kurikulum merdeka terdiri dari beberapa komponen kunci. Pertama, komponen capaian pembelajaran yang menjadi dasar. Kedua, tujuan pembelajaran yang lebih spesifik. Ketiga, indikator untuk mencapai tujuan pembelajaran. Keempat, materi pokok yang akan diajarkan. Kelima, alokasi waktu untuk masing-masing tujuan. Seluruh komponen tersebut saling terkait satu sama lain.
Selanjutnya, guru harus memahami tahap perkembangan kognitif murid. Fase D memerlukan kemampuan berpikir yang lebih tinggi. Murid tidak hanya sekadar mengingat tahun dan nama-nama tokoh. Mereka harus bisa menganalisis peristiwa sejarah dalam konteks yang lebih luas. Selain itu, mereka harus mengaitkan masa lalu dengan situasi saat ini. Dengan cara tersebut, pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Tsanawiyah akan menjadi lebih bermakna.
Apa saja langkah untuk membuat ATP kurikulum merdeka yang baik? Pertama, analisis capaian pembelajaran (CP) terlebih dahulu. CP SKI kelas 8 MTs fase D sudah jelas. Murid diharapkan mudah menganalisis peristiwa-peristiwa sejarah Islam dan juga harus menjadikan tokoh-tokoh inspiratif sebagai teladan. Kedua, rincikan CP menjadi beberapa tujuan pembelajaran yang lebih spesifik. Tujuan pembelajaran harus bersifat jelas dan terukur. Ketiga, buat tujuan tersebut secara logis atau kronologis. Kronologis berarti berdasarkan urutan waktu, sementara logis mengacu pada tingkat kesulitan materi.
Sebagai contoh, kita bisa membuat ATP SKI kelas 8 MTs fase D kurikulum merdeka yang sederhana. CP: Murid menganalisis menyebabkan runtuhnya Dinasti Umayyah. Turunkan ini menjadi beberapa tujuan pembelajaran. Tujuan pertama: Menjelaskan keadaan Dinasti Umayyah sebelum terjadinya keruntuhan. Kedua: Mengidentifikasi faktor-faktor internal yang menyebabkan keruntuhan Dinasti Umayyah. Ketiga: Mengidentifikasi faktor-faktor eksternal yang berkontribusi pada keruntuhan Dinasti Umayyah. Keempat: Menganalisis dampak yang ditimbulkan akibat keruntuhan Dinasti Umayyah. Kelima: Membuat laporan analisis dalam bentuk tulisan. Semua tujuan tersebut saling berhubungan dan mendukung satu sama lain.
Selanjutnya, tetapkan indikator untuk masing-masing tujuan. Indikator harus bisa dipahami dan diamati dengan mudah. Misalnya, untuk tujuan pertama, indikatornya: Murid dapat menyebutkan tiga kondisi sosial politik yang ada. Selain itu, murid juga mendeskripsikan konflik internal yang muncul. Setelah itu, alokasikan waktu pembelajaran dengan proporsional. Setiap tujuan mudah dicapai dalam satu atau dua pertemuan. Guru perlu bersikap fleksibel sesuai dengan kebutuhan murid.
Setelah Alur Tujuan Pembelajaran tersusun, langkah berikutnya adalah melaksanakannya. Guru harus menerjemahkan ATP SKI kelas 8 fase D kurikulum merdeka menjadi modul ajar. Modul ajar berisi rencana pelaksanaan pembelajaran harian. Dalam modul ini terdapat metode, media, dan cara penilaian. Metode yang sesuai untuk Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) sangat bervariasi. Guru bisa menggunakan ceramah interaktif sebagai metode utama. Selain itu, diskusi dalam kelompok kecil juga terbukti efektif. Proyek penelitian sederhana juga bisa dilakukan, contohnya murid dapat membuat garis waktu digital untuk Dinasti Abbasiyah atau mengembangkan peta Kerajaan Islam di Nusantara.
Guru perlu memanfaatkan media pembelajaran yang menarik. Penggunaan gambar, video, dan peta sejarah sangat memberikan dukungan. Selain itu, kunjungan ke museum atau lokasi bersejarah juga bermanfaat. Namun, bila tidak memungkinkan, sumber daring bisa digunakan sebagai alternatif. Selanjutnya, asesmen dilakukan dalam dua bentuk, yaitu formatif dan sumatif. Asesmen formatif berlangsung selama aktivitas pembelajaran. Tujuannya yaitu untuk mengevaluasi kemajuan murid. Sementara asesmen sumatif dilaksanakan di akhir bab atau semester, dengan bentuk yang bisa berupa tes tertulis atau proyek.
Dengan penerapan ATP kelas 8, pembelajaran menjadi lebih fokus. Murid tidak akan merasa bingung dengan materi yang tidak teratur. Guru pun lebih mudah mengevaluasi pencapaian tujuan. Selain itu, murid menjadi lebih termotivasi karena sudah mengetahui target yang harus mereka capai. Mereka sadar mengenai pelajaran yang harus dikuasai hari ini dan bagaimana cara untuk mencapainya.