Kurikulum merdeka mengubah paradigma pembelajaran secara fundamental. Peran guru kini bertransformasi menjadi fasilitator yang aktif dan responsif. Penilaian juga mengalami pergeseran, tidak lagi sekadar mengejar nilai angka, tetapi lebih fokus pada proses dan pemahaman yang bermakna. Dalam hal ini, Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) menjadi instrumen kunci yang sangat strategis, berfungsi sebagai tolok ukur pencapaian kompetensi murid secara nyata. Guru harus mendesain KKTP kurikulum merdeka sebelum memulai aktivitas belajar mengajar.

Pembelajaran Al-Qur’an Hadis kelas 2 pada fase A bersifat pengenalan dasar di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Anak diperkenalkan pada huruf hijaiyah dan bacaan-bacaan pendek. Mereka juga mulai menghafal surat-surat pendek pilihan secara bertahap. Nilai-nilai luhur dari hadis pun ditanamkan sejak dini dengan tujuan untuk membentuk karakter islami yang kokoh.
Kita perlu memahami karakteristik murid kelas 2 fase A yang berusia 7 hingga 8 tahun. Mereka belajar terbaik melalui pengalaman langsung dan mengalami kesulitan untuk fokus lama. Pembelajaran harus variatif dan menyenangkan, dengan aktivitas seperti mewarnai dan bermain peran. KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah fase A kurikulum merdeka harus menghindari tuntutan abstrak, dengan indikator keberhasilan yang sederhana seperti menunjukkan huruf hijaiyah. Selain kognitif, aspek afektif dan psikomotorik juga harus dinilai.
Selanjutnya, KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 2 MI fase A kurikulum merdeka dirumuskan berdasarkan tiga ranah utama, yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif. Masing-masing ranah mempunyai indikator dan kriteria yang berbeda.
Setelah itu, kita perlu membuat KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 2 fase A kurikulum merdeka secara operasional dan sistematis. Langkah pertama adalah merumuskan tujuan pembelajaran yang konkret, yang harus mengandung kata-kata kerja operasional yang terukur, seperti “menyebutkan”, “menunjukkan”, “membaca”, “menulis”, atau “menghafal”. Hindari penggunaan kata kerja yang ambigu, seperti “memahami” tanpa indikator yang jelas.
Kedua, tetapkan indikator pencapaian berdasarkan tujuan tersebut. Indikator harus bersifat spesifik dan dapat diobservasi secara langsung di dalam kelas. Ketiga, tentukan kriteria minimum yang harus dicapai oleh murid. Kriteria tersebut biasanya dinyatakan dalam skala persentase atau deskriptor kualitatif, misalnya “benar 80% dari total pertanyaan yang diberikan” atau “membaca dengan lancar tanpa terbata-bata”.
Keempat, buatlah rubrik penilaian yang sederhana dan praktis, yang memuat tingkat pencapaian dari “kurang” hingga “sangat baik”. Guru bisa menggunakan tiga atau empat tingkatan skala. Kelima, komunikasikan KKTP kelas 2 kepada murid dan orang tua murid. Anak-anak perlu mengetahui dengan jelas target yang harus mereka capai, sehingga orang tua juga bisa mendampingi aktivitas belajar di rumah secara aktif.
Keenam, gunakan KKTP kurikulum merdeka sebagai dasar refleksi pembelajaran harian. Guru mudah mengevaluasi metode yang paling efektif dan tepat. Penting untuk dicatat bahwa Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) bukanlah alat yang kaku; kita diperbolehkan untuk merevisinya di tengah semester apabila kondisi kelas memerlukan penyesuaian tertentu.