Kurikulum merdeka membawa perubahan signifikan dalam pembelajaran Seni Musik kelas 10 SMA/MA fase E. Perubahan tersebut menuntut guru mendesain pembelajaran secara sistematis. Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) menjadi instrumen kunci dalam perencanaan pembelajaran yang terstruktur.

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) membuat tujuan pembelajaran menjadi tujuan-tujuan kecil. Tujuan kecil itu tersusun secara logis dan berjenjang. Guru mendesainnya berdasarkan capaian pembelajaran (CP) final. Fungsi utamanya adalah memberikan arah yang jelas. Arah itu mencegah pembelajaran melompat-lompat tanpa dasar. Selanjutnya, ATP kurikulum merdeka membantu guru mengukur kemajuan murid. Guru mudah melihat pencapaian setiap tahap secara objektif.
ATP Seni Musik kelas 10 SMA/MA fase E kurikulum merdeka juga menjadi alat komunikasi antar sesama guru. Komunikasi tersebut menyamakan persepsi tentang metode mengajar. Kurikulum sebelumnya menggunakan silabus yang cenderung kaku. Kurikulum merdeka lebih fleksibel dan dinamis. Namun, fleksibilitas tetap membutuhkan batasan yang jelas. Oleh karena itu, ATP kelas 10 menyediakan batasan sekaligus memberikan kebebasan. Guru menentukan urutan sesuai kondisi murid masing-masing.
Kondisi murid sangat beragam antar satu sekolah lain. Dengan demikian, ATP Seni Musik kelas 10 fase E kurikulum merdeka bersifat adaptif dan kontekstual. Guru tidak perlu khawatir kehilangan arah mengajar. ATP kelas 10 menjaga esensi capaian nasional tetap terjaga utuh. Esensi itu memuat pengetahuan dan keterampilan musikal dasar. Karena itu, guru wajib memahaminya secara mendalam.
ATP kelas 10 SMA/MA fase E mengacu pada empat elemen kurikulum merdeka. Elemen pertama adalah pengalaman musikal secara langsung. Murid mendengarkan berbagai jenis musik dari dalam negeri. Mereka juga merespons bunyi melalui gerakan tubuh. Selanjutnya, elemen kedua adalah produksi atau penciptaan karya. Murid membuat bunyi dan melodi sederhana sendiri. Mereka menggunakan suara dan alat-alat di sekitar.
Kemudian, elemen ketiga adalah apresiasi terhadap karya seni. Murid menilai pertunjukan dari berbagai sudut pandang. Teraakhir, elemen keempat adalah refleksi atas aktivitas belajar. Refleksi membuat murid sadar akan kekuatan dan kelemahan. Keempat elemen tersebut tidak berdiri secara terpisah. Guru mengaitkan keempatnya dalam setiap bab pembelajaran. Sebagai contoh, murid mendengarkan lagu tradisional dari Papua. Kemudian, mereka menirukan pola ritme lagu tersebut.
Setelah itu, mereka mendiskusikan kesan mendalamnya. Terakhir, mereka mencatat kesulitan selama berlatih. Proses tersebut membuat siklus belajar yang utuh. Siklus tersebut memperkuat pemahaman musikal secara menyeluruh. Dengan cara tersebut, musik tidak lagi menjadi hafalan teori semata. Seni Musik kelas 10 SMA/MA menjadi pengalaman personal yang membekas di hati.
Seni Musik kelas 10 SMA/MA semester satu berfokus pada pengenalan notasi dan ritme. Guru mulai dengan not angka sederhana, mengajarkan murid membaca not angka satu hingga tujuh dan nilai ketukan dasar seperti setengah, seperempat, dan seperdelapan. Selanjutnya, murid berlatih menepuk pola ritme berulang dan mengikuti rekaman contoh ritme. Setelah menguasai ritme, guru memperkenalkan tangga nada mayor Do=C, di mana murid menyanyikannya naik dan turun untuk meningkatkan kepekaan nada. Kemudian, murid juga belajar tentang interval nada sederhana, dengan contoh lagu “Pelangi.” Di pertengahan semester, murid mencoba rekorder, belajar meniup dan menghafal posisi jari. Latihan harian selama lima menit diadakan untuk memainkan nada C hingga G. Mereka kemudian memainkan melodi lagu pendek “Balonku.” Di akhir semester, murid tampil individu dan dinilai berdasarkan ketepatan nada dan ritme.