(Deep Learning) Modul Ajar Sejarah Kelas 10 SMA/MA
6 menit membaca
Share this:
Modul ajar deep learning Sejarah kelas 10 SMA/MA fase E kurikulum merdeka kini bukan sekadar kumpulan informasi, melainkan sebuah peta yang membantu guru mengarahkan siswa untuk menjelajahi perjalanan waktu secara mendalam dan menarik.
Pendekatan Deep Learning, yang mengutamakan Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning, menjadi kerangka ideal untuk merealisasikan visi kurikulum merdeka dalam pembelajaran Sejarah kelas 10 SMA/MA fase E.
Memahami Dasar Deep Learning dalam Sejarah Kelas 10
Pendekatan Deep Learning mengajak siswa untuk belajar lebih dari sekadar permukaan dengan tiga pilar utama:
Mindful Learning: Siswa didorong untuk sepenuhnya hadir, menyadari aktivitas belajar mereka, merefleksikan informasi yang diterima, dan mengelola pemikiran mereka. Dalam modul ajar deep learning Sejarah kelas 10 kurikulum merdeka, ini berarti menyadari bahwa setiap narasi sejarah dibangun berdasarkan interpretasi dari bukti, bukan merupakan kebenaran yang absolut.
Meaningful Learning: Pengetahuan yang baru diperoleh dihubungkan dengan pengetahuan yang sudah ada serta konteks kehidupan siswa saat ini. Sejarah tidak lagi dianggap sebagai masa lalu yang terpisah, melainkan sebagai rangkaian sebab dan akibat yang membentuk kondisi sosial, politik, dan budaya yang mereka hadapi sekarang.
Joyful Learning: Lingkungan belajar diciptakan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, keterlibatan aktif, dan kepuasan intelektual. Aktivitas belajar sejarah yang menyenangkan tidak hanya tentang permainan, tetapi juga tentang menciptakan pengalaman “aha moment” ketika siswa berhasil menghubungkan masa lalu dengan diri mereka sendiri.
Rencana Modul Ajar Deep Learning Sejarah Kelas 10
Di bawah ini adalah skema dan contoh pengintegrasian tiga pilar tersebut dalam modul ajar deep learning Sejarah kelas 10 SMA/MA fase E.
A. Tujuan Pembelajaran dan Penilaian
Tujuan Pembelajaran: Perumusan tujuan harus mencerminkan aspek pengetahuan, keterampilan berpikir sejarah, dan sikap.
Contoh: “Setelah mempelajari topik ini, siswa bisa menganalisis pola kehidupan manusia purba di Indonesia berdasarkan bukti dari arkeologi (meaningful), merangkai narasi kehidupan sehari-hari mereka dalam sebuah karya kreatif (joyful), serta merefleksikan nilai-nilai ketahanan hidup dan adaptasi yang relevan dengan kehidupan mereka (mindful).”
Penilaian: Penilaian dirancang untuk mengevaluasi pencapaian deep learning.
Tugas Kinerja: Siswa berperan sebagai arkeolog atau sejarawan yang perlu membuat podcast, video dokumenter pendek, atau pameran virtual tentang situs purbakala atau candi. Tugas tersebut mencakup penelitian, analisis, kreativitas, dan kemampuan komunikasi.
Portofolio Reflektif: Siswa membuat jurnal pembelajaran yang merekam proses inquiry mereka, pertanyaan yang muncul, tantangan, dan refleksi mengenai bagaimana pembelajaran ini mengubah pandangan mereka tentang Indonesia atau diri mereka sendiri (mindful).
Rubrik Analitis: Rubrik penilaian tidak hanya fokus pada kebenaran fakta, tetapi juga pada kedalaman analisis, kreativitas presentasi, dan kualitas refleksi.
B. Aktivitas Pembelajaran: Menghidupkan Sejarah di Kelas
1. Fase Meaningful Learning: Menghubungkan Masa Lalu dengan Masa Kini
Strategi: Pembelajaran berbasis inquiry dan Pembelajaran berbasis proyek.
Contoh Aktivitas: “Menelusuri Jejak Hindu-Buddha di Kotaku”
Permainan Misteri (Joyful): Pembelajaran dimulai dengan permainan teka-teki. Guru menampilkan gambar detail arsitektur candi (misalnya, relief atau patung) atau nama tempat di lingkungan sekitar yang kemungkinan besar dipengaruhi tradisi Hindu-Buddha. Siswa diajak untuk menebak asal-usul dan makna dari gambar tersebut.
Penelitian Kelompok (Meaningful): Siswa dikelompokkan menjadi tim “ahli”: Tim Arkeolog (mempelajari artefak), Tim Sejarawan (menganalisis prasasti dan dokumen), Tim Antropolog (meneliti tradisi lokal yang masih ada), dan Tim Sosiolog (menginvestigasi pengaruh warisan tersebut terhadap masyarakat sekarang, seperti dalam konteks pariwisata dan identitas budaya).
Presentasi Kreatif (Joyful & Meaningful): Setiap tim menyajikan hasil penelitian mereka tidak melalui presentasi PowerPoint yang formal, melainkan sebagai pemandu museum virtual, pembuat infografis digital, atau bahkan drama pendek yang menggambarkan kehidupan di era kerajaan tersebut.
2. Fase Mindful Learning: Mengembangkan Pemikiran Kritis dan Reflektif
Strategi: Pemikiran Historis (Sumber, Konteks, Konsistensi) dan Diskusi Reflektif.
Aktivitas Contoh: “Menganalisis Mitos dan Fakta Sejarah”
Analisis Sumber (Mindful): Guru memberikan berbagai sumber tentang satu kejadian atau tokoh, contohnya Sumpah Palapa Gajah Mada. Sumber-sumber ini bervariasi, mulai dari kitab Negarakertagama, dokumen sejarah modern, hingga mitos atau cerita rakyat. Siswa diajarkan untuk mengevaluasi keandalan sumber (sourcing), mengerti latar belakang zaman ketika sumber ditulis (contextualization), dan membandingkan informasi dari berbagai sumber demi menciptakan narasi yang objektif (corroboration).
Diskusi Sokrates (Mindful): Guru memfasilitasi diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang mendalam, misalnya: “Apa yang menyebabkan keruntuhan sebuah kerajaan? Apakah yang paling berpengaruh adalah ekonomi, politik, atau kondisi alam?”, “Bagaimana hubungan antara kekuasaan dan agama di masa itu?”, “Apa yang bisa kita petik dari keberhasilan atau kegagalan peradaban masa lalu untuk kemajuan Indonesia ke depan?”.
Jurnal Refleksi (Mindful): Di akhir sesi pembelajaran, siswa diminta untuk mencatat pemahaman baru yang mereka peroleh, perubahan sudut pandang mereka, serta nilai-nilai yang mereka temui dari sejarah yang relevan dengan karakter Pelajar Pancasila.
3. Fase Joyful Learning: Membuat Pengalaman Belajar yang Berkesan
Strategi: Pembelajaran Berbasis Permainan, Simulasi, dan Pembelajaran Berbasis Seni.
Aktivitas Contoh: “Kehidupan Sehari-Hari di Zaman Prasejarah”
Simulasi Arkeologi (Joyful): Guru menyediakan “kotak penggalian” yang berisi pasir dan replika artefak (seperti alat batu, gerabah tiruan, dan lain-lain). Siswa berperan sebagai arkeolog yang perlu menggali, mengidentifikasi, dan mendokumentasikan temuan mereka, kemudian menyimpulkan tentang kehidupan masyarakat yang membuat artefak tersebut.
Pembuatan Karya (Joyful & Meaningful): Siswa mencoba membuat replika alat batu sederhana (menggunakan batu dan kayu yang aman) atau motif gerabah prasejarah. Aktivitas praktis tersebut tidak hanya menyenangkan tetapi juga mendorong siswa untuk menghargai kerumitan teknologi dan estetika dari masa lalu.
Escape Room Sejarah Digital (Joyful): Guru menciptakan ruang pelarian virtual di platform seperti Genially. Siswa harus memecahkan teka-teki dan tantangan yang terkait dengan materi sejarah (contohnya, menerjemahkan “prasasti” rahasia, mencocokkan candi dengan dewa yang disembah) untuk “keluar” dalam waktu yang ditentukan.
Contoh Rinci Aktivitas dalam Satu Pertemuan
Berikut contoh aktivitas pembelajaran dalam modul ajar deep learning Sejarah kelas 10 kurikulum merdeka untuk satu pertemuan
Pembukaan (10 menit – Joyful): Kuis Interaktif “Benar atau Salah?” mengenai fakta-fakta menarik tentang komoditas perdagangan di Nusantara di masa lalu (contohnya, pala dan cengkih memiliki nilai lebih tinggi dari emas di Eropa).
Kegiatan Inti (70 menit):
Meaningful & Mindful – Analisis Peta dan Sumber: Siswa meneliti peta jalur perdagangan kuno. Mereka mendapatkan kutipan dari catatan pedagang Tiongkok (I-Tsing) dan Arab. Dengan metode sumber dan konteks, mereka menjawab pertanyaan: “Apa yang membuat Sriwijaya menjadi pusat perdagangan? Bagaimana agama Buddha mampu menyebar lewat jalur ini?”
Joyful & Meaningful – Bermain Peran “Perdagangan dan Dialog”: Siswa melakukan simulasi kegiatan perdagangan di pelabuhan. Sebagian berpura-pura menjadi pedagang dari Gujarat, Tiongkok, dan Jawa; sementara yang lain berperan sebagai penguasa pelabuhan Sriwijaya dan biksu Buddha. Mereka perlu bernegosiasi, memperkenalkan budaya dan agama mereka, sambil menyelesaikan konflik yang ditugaskan oleh guru.
Penutup (10 menit – Mindful): Refleksi Terpandu: Guru memandu siswa dalam refleksi dengan pertanyaan: “Nilai toleransi dan kerukunan apa yang bisa kita ambil dari proses akulturasi di zaman Sriwijaya dan Majapahit? Bagaimana penerapan nilai-nilai tersebut dalam konteks masyarakat majemuk saat ini?”
Silahkan download modul ajar deep learning Sejarah kelas 10 kurikulum merdeka disini
Kesimpulan
Modul ajar deep learning Sejarah kelas 10 SMA/MA fase E dalam kurikulum merdeka bukanlah sekadar dokumen perencanaan. Ini adalah sebuah manifesto pendidikan yang berupaya menghidupkan kembali semangat pelajaran sejarah. Dengan memadukan Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning, sejarah tidak hanya berhenti pada ujian tulis, tetapi menjadi bagian hidup dalam tindakan dan cara berpikir siswa untuk membangun masa depan Indonesia.