(Deep Learning) Modul Ajar Geografi Kelas 10 SMA/MA
6 menit membaca
Share this:
Dalam perkembangan sistem pendidikan di Indonesia, kurikulum merdeka muncul sebagai sebuah inovasi yang menekankan kebebasan, relevansi, dan kedalaman pembelajaran. Pada pelajaran Geografi kelas 10 SMA/MA fase E, kurikulum tersebut memberikan kesempatan untuk pendekatan pengajaran yang lebih transformatif.
Di sini, konsep Deep Learning diwujudkan melalui prinsip Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning menjadi sangat penting untuk membangkitkan semangat belajar siswa dan membantu mereka memahami dunia dengan lebih mendalam.
Memahami Dasar Filsafat Deep Learning
Deep Learning adalah bentuk respons terhadap kebutuhan tersebut. Ini lebih dari sekedar metode; ini merupakan filosofi pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan potensi manusia secara menyeluruh.
Mindful Learning: Menekankan pada aktivitas belajar yang berlangsung saat ini. Siswa didorong untuk sepenuhnya terlibat, mengamati, dan merenungkan materi pembelajaran sambil menghubungkannya dengan pengalaman pribadi dan lingkungan mereka.
Meaningful Learning: Pengetahuan yang diperoleh saling terkait, bukan terpisah-pisah, dan relevan dengan pengalaman nyata serta isu-isu terkini. Siswa perlu memahami “mengapa” dan “bagaimana” suatu fenomena, bukan sekedar “apa.”
Joyful Learning: Suasana belajar yang positif, menantang tetapi tidak menakutkan, serta memicu rasa ingin tahu menjadi dasar pengalaman belajar yang mendalam. Kegembiraan ini menjadi pendorong intrinsik bagi siswa untuk terus belajar.
Menggabungkan ketiganya dalam modul ajar deep learning Geografi kelas 10 kurikulum merdeka akan menciptakan lingkungan belajar di mana siswa tidak hanya mengetahui tentang bumi tetapi juga memahami, peduli, dan termotivasi untuk mengambil tindakan.
Rancangan Modul Ajar Deep Learning Geografi Kelas 10
Berikut contoh kerangka modul ajar deep learning Geografi kelas 10 SMA/MA fase E dalam kurikulum merdeka.
Integrasi Mindful Learning: Menjadi Pengamat yang Sadar
Mindful Learning dalam modul ajar deep learning Geografi kelas 10 kurikulum merdeka berfokus pada pengembangan kepekaan terhadap fenomena geosfer yang terjadi di sekitar.
Aktivitas dalam Pembelajaran:
Meditasi Geografis: Di awal kelas, ajak siswa menutup mata selama dua menit dan membayangkan perjalanan dari pusat bumi hingga ke permukaan. Dorong mereka merasakan suhu, tekanan, dan gerakan yang terjadi. Aktivitas tersebut melatih fokus dan mendorong rasa ingin tahu sebelum membahas materi tentang tektonik lempeng.
Jurnal Observasi Digital: Siswa diminta untuk mengamati lingkungan di sekitar mereka, seperti halaman sekolah, rumah, atau taman. Mereka harus mengambil foto dan mendeskripsikan batuan, bentuk lahan, atau tanda erosi yang mereka lihat, kemudian mengunggahnya ke platform digital seperti Padlet atau blog kelas. Mereka juga perlu menuliskan pengamatan, pertanyaan, dan perasaan mereka. Ini melatih kesadaran dan kemampuan observasi.
Refleksi Terarah Pasca-Bencana Alam: Ketika membahas gempa bumi atau tsunami, sebagai gantinya, guru memfasilitasi sesi refleksi daripada hanya menyajikan data. Pertanyaan seperti, “Apa yang kau rasakan ketika melihat gambar ini?” atau “Bagaimana perasaanmu jika berada di situasi itu?” meminta siswa untuk menghubungkan materi dengan empati dan kesadaran emosional, menjadikan pembelajaran lebih manusiawi.
Tujuan: Siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga menjadi peserta aktif yang menyadari setiap aspek aktivitas belajar mereka.
Integrasi Meaningful Learning: Menjalin Jaringan Makna
Meaningful Learning memastikan bahwa modul ajar deep learning Geografi kelas 10 SMA/MA fase E tentang Litosfer tidak hanya menjadi penghafalan yang monoton, tetapi mempunyai relevansi nyata dengan kehidupan siswa.
Aktivitas dalam Pembelajaran:
Proyek “Geologis Cilik”: Meneliti Sejarah Bumi Melalui Batu-Batu di Sekitarku: Siswa dibagi ke dalam kelompok. Tiap kelompok mencari contoh batuan yang ada di sekitar mereka (misalnya, batu kali, marmer di lantai, atau batu bata). Kemudian, mereka menganalisis jenis batuan tersebut, proses yang menghasilkannya, serta hubungannya dengan sejarah geologis daerah mereka. Contohnya, siswa di Bandung bisa mengaitkan batuan sedimen yang mereka temui dengan keberadaan Danau Bandung Purba.
Simulasi Konferensi Tata Ruang: Rancang sebuah skenario di mana sebuah pusat perbelanjaan baru akan dibangun di lahan yang rentan terhadap longsor. Siswa berperan sebagai berbagai pihak yang berkepentingan: geolog, pemimpin desa, pengusaha, aktivis lingkungan, dan masyarakat lokal. Mereka harus mendiskusikan berdasarkan data geologi (tipe tanah, kemiringan lereng, sejarah bencana) untuk mencapai kesepakatan. Kegiatan ini menghubungkan pemahaman tentang pergerakan lempeng dan geomorfologi dengan isu sosial dan ekonomi yang nyata.
Cerita “Perjalanan Sebutir Pasir”: Siswa membuat cerita kreatif dari perspektif sebutir pasir, yang menceritakan perjalanan dari batuan beku yang hancur, terbawa air, menjadi sedimen, dan mungkin suatu saat berubah menjadi batuan metamorf. Ini membantu mereka memahami siklus batuan sebagai proses dinamis yang penuh narasi, bukan sekadar diagram statis.
Tujuan: Siswa menyadari bahwa teori mengenai Litosfer adalah alat untuk memahami dan menyelesaikan masalah di dunia nyata. Pengetahuan menjadi relevan karena memiliki tujuan dan konteks.
Integrasi Joyful Learning: Menemukan Kebahagiaan dalam Penjelajahan
Joyful Learning dalam modul ajar deep learning Geografi kelas 10 kurikulum merdeka membuat suasana belajar di mana rasa ingin tahu dihargai, tantangan dirayakan, dan belajar terasa seperti sebuah petualangan.
Aktivitas dalam Pembelajaran:
Kamar Pelarian “Gempa Bumi”: Buatlah sebuah “ruang pelarian” secara digital atau fisik di kelas. Siswa perlu memecahkan teka-teki yang berkaitan dengan materi litosfer untuk “keluar”. Misalnya, mereka harus menyusun lapisan bumi berdasarkan data seismik, atau memetakan aktivitas gempa untuk menemukan episentrum sebagai petunjuk selanjutnya. Kegiatan ini penuh dengan semangat bermain dan kerja sama.
Praktikum “Tektonik Beruang Gummy”: Gunakan permen bergetah (gummy bear) untuk menggambarkan gerakan lempeng tektonik. Siswa bisa meregangkan, menekan, dan menumpuknya untuk melihat bagaimana pegunungan terbentuk (konvergen), patahan (divergen), dan gesekan mendatar (transform) terjadi. Aktivitas interaktif yang menyenangkan dan mudah diingat ini menjadikan konsep-konsep abstrak lebih jelas.
Karya Seni “Peta Topografi 3D”: Siswa menciptakan model 3D dari peta topografi suatu area menggunakan karton, tanah liat, atau bahan yang didaur ulang. Kemudian, mereka memberikan warna dan label. Proses kreatif ini tidak hanya mengajarkan cara membaca kontur, tetapi juga memberikan rasa bangga dan kebahagiaan saat menciptakan sebuah karya.
Tujuan: Menghapus kesan bahwa geografi adalah suatu subjek yang kaku dan membosankan. Dengan menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan, motivasi intrinsik siswa akan tumbuh, yang pada akhirnya akan mendorong pencapaian pembelajaran yang lebih mendalam.
Silahkan download modul ajar deep learning Geografi kelas 10 kurikulum merdeka disini
Kesimpulan
Penggabungan Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning ke dalam modul ajar deep learning Geografi kelas 10 SMA/MA fase E kurikulum merdeka lebih dari sekadar perubahan dalam metode, tetapi merupakan sebuah perubahan dalam perspektif filosofis. Modul ajar deep learning kurikulum merdeka tidak lagi berfungsi sebagai buku pedoman yang kaku, tetapi bertransformasi menjadi peta petualangan yang membantu siswa untuk menjadi penjelajah, pemikir kritis, dan agen perubahan yang penuh kasih. Pada akhirnya, modul ajar deep learning kelas 10 akan membentuk generasi yang tidak hanya mengerti tentang “ruang” di peta, tetapi juga siap dan termotivasi untuk menjadi penjaga bijak bagi “ruang kehidupan” mereka sendiri. Inilah inti dari pembelajaran merdeka.