(Deep Learning) Modul Ajar Prakarya Kerajinan Kelas 7

Mata pelajaran Prakarya tidak hanya berfungsi sebagai pelajaran keterampilan praktis. Ia telah bertransformasi menjadi area bagi siswa untuk menjelajahi potensi lokal, meningkatkan kreativitas, dan mengembangkan semangat kewirausahaan. Yang sedang dalam proses penyesuaian dan penemuan minat, modul ajar deep learning Prakarya Kerajinan kelas 7 SMP/MTs fase D dalam kurikulum merdeka sangatlah penting.

Modul Ajar Deep Learning Prakarya Kerajinan Kelas 7 SMP/MTs

Namun, bagaimana cara memastikan bahwa modul ajar deep learning kurikulum merdeka tidak sebatas pada produk kerajinan, tetapi juga bisa menyentuh aspek yang lebih mendalam dari pembelajaran? Solusinya terletak pada penerapan pendekatan Deep Learning yang menekankan pada Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning.

Deep Learning dalam Kerangka Kurikulum Merdeka

Pendekatan Deep Learning sejalan dengan prinsip kurikulum merdeka yang berfokus pada pengembangan kompetensi dan karakter. Ketiga pilar Deep Learning bisa dijelaskan sebagai berikut:

1. Mindful Learning

Mengutamakan pengalaman saat ini. Siswa diminta untuk sepenuhnya hadir, memperhatikan detail, mengelola emosi seperti rasa frustrasi saat mengalami kegagalan, dan merenungkan setiap langkah yang diambil. Dalam modul ajar deep learning Prakarya Kerajinan kelas 7 kurikulum merdeka, hal ini berarti mempunyai perhatian penuh pada tekstur bahan, gerakan tangan, dan proses kreatif yang berlangsung.

2. Meaningful Learning

Pengetahuan baru dihubungkan dengan pemahaman yang sudah ada pada siswa. Pembelajaran menjadi lebih relevan ketika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat, budaya, serta potensi yang ada di sekitar. Siswa tidak sekadar membuat kerajinan, tetapi juga memahami tujuan dan arti dari kerajinan tersebut.

3. Joyful Learning

Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, tanpa tekanan yang berlebihan, full dengan rasa ingin tahu, eksplorasi, dan kepuasan. Rasa gembira muncul bukan hanya karena tidak sulitnya tugas, tetapi dari perasaan pencapaian, kerja sama, dan kebebasan untuk mengekspresikan diri.

Mengintegrasikan ketiga pilar tersebut dalam modul ajar deep learning Prakarya Kerajinan kelas 7 SMP/MTs fase D akan membangun pengalaman belajar yang menyeluruh, di mana siswa tidak hanya memahami dan mampu, tetapi juga merasakannya dan menjadi bagian dari proses itu.

Blueprint Modul Ajar Deep Learning Prakarya Kerajinan Kelas 7

Sebelum membahas setiap pilar secara rinci, berikut adalah gambaran umum modul ajar deep learning Prakarya Kerajinan kelas 7 kurikulum merdeka.

  1. Tujuan Belajar: Siswa dapat (1) mengenali jenis-jenis serat alami di sekitar, (2) merancang dan membuat produk kerajinan berguna (seperti tempat pensil atau wadah sederhana) dari serat alami, (3) menganalisis nilai ekonomi dan keberlanjutan produk yang dihasilkan, dan (4) menyampaikan proses serta makna karyanya dengan percaya diri.
  2. Model Pembelajaran: Inquiry – Creation – Reflection – Action.
  3. Asesmen: Asesmen diagnostik (kuis, diskusi), asesmen formatif (catatan proses, lembar observasi, diskusi antar teman), dan asesmen sumatif (portofolio proses dan produk, presentasi).

Mengaplikasikan Mindful Learning dalam Modul Ajar Deep Learning Prakarya Kerajinan Kelas 7

Kegiatan kerajinan tangan secara alami membutuhkan perhatian yang penuh. Oleh karena itu, modul ajar deep learning Prakarya Kerajinan kelas 7 SMP/MTs fase D harus dibuat untuk memperkuat aspek tersebut.

  • Fase Mindful Introduction: Kegiatan pembelajaran dimulai bukan dengan teori, melainkan dengan kegiatan “Pengamatan Indra”. Siswa dibagi ke dalam kelompok dan diberikan berbagai sampel serat alami (seperti pelepah pisang, daun pandan, enceng gondok kering, dan sebagainya). Mereka diminta untuk menutup mata sejenak, meraba, mencium, dan menggambarkan pengalaman yang mereka rasakan. Guru membimbing dengan pertanyaan pemantik: “Apa yang kamu rasakan? Bagaimana teksturnya? Dari mana kira-kira bahan ini berasal?” kegiatan tersebut melatih perhatian penuh dengan melibatkan semua indera secara maksimal.
  • Jurnal Proses: Setiap siswa mempunyai sebuah “jurnal proses” yang cukup sederhana. Di dalam jurnal tersebut, mereka menulis tentang tantangan yang dihadapi, seperti “seratnya rentan patah”, perasaan yang muncul seperti “saya merasa frustrasi karena anyaman tidak rapat”, dan temuan kecil seperti “ternyata jika sedikit dibasahi, serat menjadi lebih fleksibel”. Jurnal tersebut berfungsi sebagai alat refleksi yang efektif dan menjadi bukti nyata dari kegiatan mindful learning.
  • Sesi Refleksi Terarah: Di akhir setiap sesi, guru menyediakan waktu sekitar 5-10 menit untuk refleksi. Pertanyaan seperti, “Apa hal yang kamu ketahui tentang dirimu selama proses membuat kerajinan hari ini?” atau “Apa bagian dari proses tersebut yang paling membuatmu berkonsentrasi?” membantu siswa mengenali perjalanan belajar mereka sendiri.

Pages: 1 2
You might also like
Promes Fikih Kelas 7 MTs Fase D Kurikulum Merdeka

Promes Fikih Kelas 7 MTs Fase D Kurikulum Merdeka

KKTP Al-Qur’an Hadis Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka

KKTP Al-Qur’an Hadis Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka

ATP Akidah Akhlak Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka

ATP Akidah Akhlak Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka

Promes Akidah Akhlak Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka

Promes Akidah Akhlak Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka

Prota SKI Kelas 7 MTs Fase D Kurikulum Merdeka

Prota SKI Kelas 7 MTs Fase D Kurikulum Merdeka

KKTP Fikih Kelas 7 MTs Fase D Kurikulum Merdeka

KKTP Fikih Kelas 7 MTs Fase D Kurikulum Merdeka