Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) Seni Teater kelas 9 fase D kurikulum merdeka membantu guru menentukan tingkat penguasaan kompetensi murid. Guru mudah menggunakan kriteria tersebut untuk membaca perkembangan kemampuan murid secara lebih terarah. Karena itu, KKTP kurikulum merdeka perlu selaras dengan tujuan pembelajaran dan ciri khas Seni Teater kelas 9 SMP/MTs.

KKTP kurikulum merdeka mempunyai fungsi penting dalam membantu guru mengelola asesmen. Pertama, guru mudah menentukan bukti belajar yang harus ditunjukkan murid. Kedua, guru bisa mengidentifikasi kemampuan yang sudah berkembang. Ketiga, guru mudah menemukan kompetensi yang masih membutuhkan penguatan.
Dalam Seni Teater kelas 9 SMP/MTs, fungsi tersebut menjadi semakin penting. Kemampuan murid sering berkembang melalui proses latihan yang bertahap. Seorang murid mungkin belum percaya diri saat latihan awal. Namun, murid tersebut bisa menunjukkan perkembangan ketika memperoleh arahan yang tepat.
Karena itu, guru sebaiknya tidak hanya menilai pertunjukan akhir. Guru perlu mengamati proses eksplorasi dan latihan secara berkala. Guru bisa mencatat perkembangan vokal, ekspresi, gerak, penghayatan, dan kerja sama. Data tersebut kemudian membantu guru memberikan umpan balik yang lebih tepat.
KKTP kelas 9 juga membantu murid memahami target belajar. Murid mudah melihat kemampuan yang perlu mereka tingkatkan. Mereka kemudian bisa melakukan refleksi terhadap kegiatan belajar sendiri. Akhirnya, penilaian tidak terasa seperti kegiatan mencari kesalahan murid.
KKTP Seni Teater kelas 9 SMP/MTs fase D kurikulum merdeka perlu memuat beberapa komponen utama. Setiap komponen harus mempunyai hubungan dengan tujuan pembelajaran. Selain itu, setiap kriteria harus menggambarkan kemampuan yang bisa guru amati. Dengan demikian, guru mudah menggunakan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) sebagai pedoman dalam menilai perkembangan kompetensi murid.
Komponen pertama adalah tujuan pembelajaran. Bagian ini menjadi dasar dalam menentukan kemampuan yang harus murid capai. Guru bisa merumuskan tujuan pembelajaran menggunakan kata kerja operasional yang jelas. Misalnya, guru bisa menggunakan kata menganalisis, mengeksplorasi, memainkan, membuat, mendesain, dan merefleksikan.
Selanjutnya, guru mudah menentukan bukti yang menunjukkan ketercapaian tujuan tersebut. Tujuan pembelajaran harus sesuai dengan kompetensi Seni Teater kelas 9 fase D. Guru juga perlu menyesuaikan tujuan pembelajaran dengan tingkat perkembangan murid kelas 9 SMP/MTs.
Komponen kedua adalah indikator ketercapaian tujuan pembelajaran. Indikator perlu menggambarkan kemampuan yang mudah guru amati selama pembelajaran. Misalnya, murid mampu menggunakan vokal sesuai karakter tokoh. Murid juga mampu mengembangkan ekspresi melalui mimik dan gerak tubuh.
Selain itu, murid mampu memainkan karakter dengan percaya diri dan sesuai alur cerita. Indikator sebaiknya menggunakan kata kerja yang menunjukkan tindakan nyata. Dengan demikian, guru mudah menilai kemampuan murid secara lebih objektif.
Komponen ketiga dalam KKTP Seni Teater kelas 9 SMP/MTs fase D kurikulum merdeka adalah kriteria tingkat ketercapaian. Guru mudah menentukan beberapa tingkatan untuk menggambarkan perkembangan kemampuan murid. Setiap tingkatan perlu mempunyai deskripsi yang jelas dan mudah dipahami. Guru mudah menggunakan kategori seperti belum berkembang, mulai berkembang, berkembang sesuai harapan, dan sangat berkembang. Namun, guru tetap bisa menyesuaikan kategori tersebut dengan kebutuhan sekolah. Kriteria juga perlu menunjukkan perbedaan kemampuan pada setiap tingkat.
Komponen berikutnya dalam KKTP Seni Teater kelas 9 fase D kurikulum merdeka adalah bukti asesmen. Pembelajaran Seni Teater kelas 9 SMP/MTs membutuhkan bentuk asesmen yang sesuai dengan karakteristik seni pertunjukan. Guru bisa menggunakan praktik bermain peran, proyek pertunjukan, observasi, portofolio, jurnal refleksi, dan presentasi.
Pemilihan bentuk asesmen harus mengikuti tujuan pembelajaran yang ingin guru ukur. Guru bisa menggunakan praktik untuk menilai kemampuan memainkan karakter. Guru juga mudah menggunakan proyek untuk menilai kemampuan membuat pertunjukan.
Sementara itu, guru bisa menggunakan jurnal refleksi untuk menilai kemampuan murid mengevaluasi proses berkarya. Dengan variasi tersebut, guru bisa memperoleh gambaran kompetensi murid secara lebih utuh.