Terdapat beberapa kendala teknis dalam penerapan modul ajar kurikulum merdeka, antara lain keterbatasan akses terhadap teknologi dan sumber daya pembelajaran. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru dapat menggunakan media alternatif, seperti alat peraga sederhana atau materi cetak yang dirancang secara kreatif.
Matematika sering melibatkan konsep abstrak yang dapat menjadi sulit dipahami oleh siswa. Oleh karena itu, guru perlu menerapkan pendekatan yang lebih konkret, seperti menggunakan studi kasus atau simulasi, untuk membantu siswa mengaitkan teori dengan aplikasi dalam kehidupan nyata.
Di salah satu sekolah menengah pertama, guru Matematika melaksanakan modul ajar SMP berbasis proyek untuk topik statistika. Dalam kegiatan tersebut, siswa diharuskan mengumpulkan data dari lingkungan sekitar, melakukan analisis, dan mempresentasikan hasil analisis mereka di depan kelas.
Pendekatan tersebut berhasil meningkatkan keterlibatan siswa, di mana mereka merasa bahwa materi yang dipelajari memiliki relevansi dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, siswa menunjukkan peningkatan dalam kemampuan analitis dan komunikasi, yang merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran Matematika.
Modul ajar Matematika kelas 9 SMP/MTs fase D yang terdapat dalam kurikulum merdeka merupakan alat yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan karakteristik yang fleksibel, berbasis kompetensi, dan berpusat pada siswa, modul ajar kelas 9 tersebut bisa membantu guru dan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih maksimal.