Pendidikan pada tingkat dasar, terutama di Madrasah Ibtidaiyah (MI), tidak hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuan. Ini merupakan proses awal mendirikan fondasi keimanan serta membentuk karakter yang baik. Mata pelajaran Akidah Akhlak kelas 2 MI mempunyai tanggung jawab signifikan dalam membentuk pandangan dunia yang Islami dan perilaku sehari-hari anak yang masih berada dalam tahap konkret operasional. Untuk mengatasi beragam tantangan ini, diperlukan pendekatan yang tidak hanya bersifat struktural tetapi juga emosional dan mendalam. Penggabungan Kurikulum Berbasis Cinta dengan pendekatan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) dalam perangkat ajar KBC Akidah Akhlak kelas 2 MI menjadi suatu kebutuhan.

Setiap elemen dalam perangkat ajar kurikulum berbasis cinta (KBC) Akidah Akhlak kelas 2 MI, dari Program Tahunan (Prota), Program Semester (Promes), Capaian Pembelajaran (CP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), Modul Ajar, hingga Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP), bisa dibuat dan diimplementasikan untuk membangun pembelajaran yang mempunyai makna, menyentuh perasaan, dan memberikan dampak jangka panjang.
Sebelum membahas aspek teknis perangkat ajar KBC kelas 2, penting untuk memahami dua konsep dasar ini. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menekankan pentingnya membuat lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta penuh penghargaan. Guru berperan tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai sumber kasih sayang yang memahami kondisi emosional siswa. Dalam pelajaran Akidah Akhlak kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah, cinta menjadi sarana utama untuk mengenalkan Allah sebagai Zat yang Mahakasih dan Mahapenyayang, mencintai Rasulullah saw. , serta mengasihi sesama dan alam semesta.
Sementara itu, Deep Learning atau pembelajaran mendalam dalam konteks pedagogis merupakan pendekatan yang menekankan pada penguasaan kompetensi, pemahaman konsep, pengembangan karakter, serta kemampuan berpikir kritis-kreatif. Pembelajaran tidak hanya berhenti pada hafalan, tetapi juga mendorong siswa untuk mengaitkan konsep dengan kenyataan, merefleksikan, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kombinasi keduanya membuat ekosistem pembelajaran di mana siswa merasa dicintai sehingga berani bertanya, mencari tahu, dan secara emosional terbuka untuk menerima nilai-nilai spiritual. Deep Learning menjamin bahwa nilai-nilai tersebut tidak hanya mengalir di permukaan, tetapi mengakar, dipahami, dan diinternalisasi.
Berikut yang termasuk perangkat ajar KBC Akidah Akhlak kelas 2 MI:
Perencanaan dimulai dengan Program Tahunan (Prota) yang berorientasi pada cinta dan pembelajaran mendalam, bukan sekadar pembagian materi. Prota Akidah Akhlak kelas 2 MI menggagas peta perjalanan spiritual dan moral. Tema besar untuk Semester 1 adalah “Mengenal Allah dan Rasul-Nya dengan Hati Ceria” dan untuk Semester 2 adalah “Menjalani Akhlak Mulia dalam Kehidupanku”.
Program Semester (Promes) merupakan turunan dari Prota yang membuat rinci waktu dan jumlah pertemuan untuk mendalami materi pembelajaran. Sebagai contoh, materi “Mencintai Rasulullah saw. ” mencakup proyek seperti “Melakukan 1 Sunnah Rasul dalam Seminggu” dan refleksi. Promes bersifat fleksibel, memungkinkan penyesuaian terhadap dinamika emosional dan pertanyaan siswa.
Capaian Pembelajaran (CP) berfungsi sebagai panduan. CP Akidah Akhlak kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah dalam perspektif tersebut dibuat dengan menggabungkan tiga aspek secara proporsional:
Contohnya, “Siswa dapat menjelaskan dengan kalimat sederhana dua sifat wajib Allah (wujud dan qidam) serta mengaitkannya dengan ciptaan-Nya di sekitar sekolah”.
Contoh, “Siswa menunjukkan rasa syukur dan cinta kepada Allah lewat kebiasaan mengucapkan hamdalah serta menjaga kebersihan kelas”.
Misalnya, “Siswa melaksanakan adab saat bertemu teman dan guru dengan salam, senyuman, dan sapaan yang sopan”.
Capaian Pembelajaran semacam ini tidak hanya bisa dinilai dengan ujian tertulis, tetapi memerlukan observasi yang menyeluruh.
Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) mengubah capaian pembelajaran (CP) menjadi tujuan pembelajaran yang teratur. ATP berperan sebagai narasi pembelajaran. Contohnya, dalam tema “Menyayangi Binatang,” terdapat beberapa tujuan:
ATP tersebut dibuat secara bertahap, dimulai dari pengenalan emosi lalu berujung pada tindakan nyata.