Program Semester (Promes) adalah dokumen rencana pembelajaran yang mengatur tujuan, materi, dan waktu selama satu semester. Promes kurikulum merdeka membantu guru mengelola pembelajaran secara sistematis dan fleksibel, serta memastikan tujuan tercapai sesuai waktu.

Promes Fikih kelas 4 fase B kurikulum merdeka terdiri dari komponen yang saling berhubungan untuk perencanaan pembelajaran yang sistematis dan efektif. Pembuatannya fokus pada Capaian Pembelajaran (CP) dan pengembangan kompetensi murid. Guru harus memahami setiap komponen untuk mendesain pembelajaran yang realistis dan sesuai Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Komponen pertama adalah identitas Promes kurikulum merdeka. Bagian ini berfungsi sebagai informasi dasar yang menunjukkan dokumen pembelajaran yang akan digunakan selama satu semester. Identitas memudahkan guru, kepala Madrasah Ibtidaiyah, maupun pengawas dalam mengidentifikasi perangkat pembelajaran yang telah dibuat.
Identitas Promes kelas 4 umumnya memuat nama satuan pendidikan (MI), mata pelajaran (Fikih), kelas (IV), fase (B), semester (Ganjil/Genap), tahun pelajaran, serta nama guru pembuat. Beberapa madrasah juga menambahkan Nomor Induk Pegawai (NIP), logo Madrasah Ibtidaiyah, dan lembar pengesahan sebagai bagian dari administrasi pembelajaran. Meskipun terlihat sederhana, identitas yang lengkap menunjukkan bahwa dokumen dibuat secara profesional dan sesuai dengan kebutuhan administrasi pendidikan.
Komponen berikutnya adalah Capaian Pembelajaran (CP). Dalam kurikulum merdeka, CP menjadi landasan utama pembuatan seluruh perangkat pembelajaran, termasuk Promes kurikulum merdeka. Oleh karena itu, guru harus memahami isi CP Fikih kelas 4 MI fase B sebelum menentukan materi dan alokasi waktu pembelajaran.
Capaian Pembelajaran menggambarkan kompetensi yang diharapkan mudah dikuasai murid pada akhir fase pembelajaran. Pada mata pelajaran Fikih kelas 4 fase B, CP memuat pemahaman konsep ibadah, pelaksanaan berbagai bentuk ibadah wajib maupun sunnah, serta pembiasaan sikap yang mencerminkan nilai-nilai syariat Islam. Dengan menjadikan CP sebagai petunjuk, guru bisa memastikan bahwa seluruh kegiatan pembelajaran tetap mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan.
Setelah menganalisis Capaian Pembelajaran, guru membuat Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). ATP merupakan rangkaian tujuan pembelajaran yang dibuat secara logis dan berurutan sehingga murid mempelajari materi dari konsep yang paling sederhana menuju konsep yang lebih kompleks.
Dalam pembuatan Promes Fikih kelas 4 fase B kurikulum merdeka, ATP berfungsi sebagai dasar untuk menentukan urutan materi selama satu semester. Guru tidak lagi membuat materi berdasarkan kebiasaan mengajar, tetapi berdasarkan hubungan antarkompetensi yang telah didesain secara sistematis. Dengan demikian, murid memperoleh pengalaman belajar yang runtut dan mudah dipahami.
Komponen penting lainnya dalam Promes Fikih kelas 4 MI fase B kurikulum merdeka adalah Tujuan Pembelajaran (TP). Tujuan Pembelajaran merupakan penjabaran dari ATP yang menjelaskan kemampuan spesifik yang harus dicapai murid pada setiap kegiatan belajar. Setiap tujuan dibuat menggunakan kata kerja operasional yang mudah diamati dan diukur.
Keberadaan tujuan pembelajaran membantu guru menentukan metode, media, serta bentuk asesmen yang sesuai. Selain itu, murid juga memperoleh gambaran mengenai kompetensi yang akan mereka kuasai setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, tujuan pembelajaran harus dibuat secara jelas, spesifik, dan sesuai dengan ciri khas murid kelas 4.
Komponen yang tidak bisa dipisahkan dari Promes kelas 4 adalah materi pembelajaran. Materi dibuat berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sehingga seluruh kegiatan belajar mempunyai arah yang jelas. Pada mata pelajaran Fikih kelas 4 fase B, materi bisa memuat puasa Ramadan, puasa sunnah, shalat Jumat, shalat sunnah, rukhsah dalam shalat, khitan, baligh, mandi wajib, serta berbagai ketentuan ibadah lainnya sesuai CP yang berlaku.
Guru perlu membuat materi Fikih kelas 4 MI secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat kesulitan setiap pokok bahasan. Materi yang lebih sederhana sebaiknya dipelajari terlebih dahulu sebelum murid mempelajari konsep yang lebih kompleks. Pendekatan seperti ini membantu murid membangun pemahaman secara berkesinambungan.