Pendidikan Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah (MA) berperan dalam pembangunan karakter kaum muda, dengan guru mempunyai peranan yang sangat krusial dalam proses tersebut. Kurikulum merdeka memberi kesempatan baru untuk para pengajar, yang membutuhkan perencanaan yang cermat melalui KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran) sebagai alat untuk menilai.

Fase E mencakup kelas 10, di mana murid diharapkan bisa mempunyai pemahaman tentang akidah dan akhlak yang lebih mendalam. Guru menyiapkan KKTP Akidah Akhlak kelas 10 fase E kurikulum merdeka dengan pendekatan ini.
Pertama, pengajar perlu memahami tujuan pembelajaran secara menyeluruh. Tujuan tersebut tercantum dalam Capaian Pembelajaran (CP). CP menjadi dasar utama dalam pembuatan KKTP kurikulum merdeka. Selanjutnya, guru mengidentifikasi capaian pembelajaran dari materi ajar. Materi Akidah Akhlak kelas 10 Madrasah Aliyah mempunyai banyak variasi dan makna. Guru memilih kompetensi yang paling vital untuk murid. Kompetensi vital ini terdiri dari tiga ranah utama, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Ketiga, guru perlu merumuskan indikator pencapaian yang jelas dan mudah diukur. Indikator tersebut harus bisa diamati secara langsung dan sesuai dengan perkembangan murid kelas 10. Keempat, guru menentukan rentang nilai atau deskriptor kualitatif. Deskriptor menggambarkan kualitas pencapaian murid dengan jelas. Rentang nilai menunjukkan tingkat penguasaan materi ajar. Kelima, guru perlu menyampaikan KKTP kelas 10 kepada semua murid. Murid berhak mengetahui target pembelajaran mereka sejak awal. Keterbukaan tersebut meningkatkan motivasi dan rasa tanggung jawab murid. Murid akan berupaya mencapai target yang telah ditentukan bersama.
KKTP Akidah Akhlak kelas 10 MA fase E kurikulum merdeka yang ditujukan untuk ranah kognitif berfokus pada pemahaman konsep keimanan. Murid harus mampu menjelaskan rukun iman secara rinci, memahami dalil naqli dari Al-Quran dan Hadis, serta menggunakan akal sehat untuk dalil aqli. Mereka juga harus bisa membedakan antara iman, Islam, dan ihsan, serta mengenali nama-nama Allah dan pengetahuan tentang malaikat.
Materi Akidah Akhlak kelas 10 Madrasah Aliyah mengenai kitab-kitab Allah dan para rasul juga sangat penting. Murid perlu percaya dengan hari akhir serta qadha dan qadar. Guru menggunakan berbagai jenis soal untuk menguji pemahaman. Nilai minimal yang dibutuhkan adalah 70, dengan kategori nilai tertentu untuk penilaian. Nilai di bawah 70 membutuhkan program remedial.
Ranah afektif menjadi fokus utama dalam Akidah Akhlak kelas 10 MA, meliputi sikap dan perilaku murid dalam kehidupan sehari-hari yang diperhatikan oleh guru selama aktivitas belajar. Pengamatan dilakukan secara berkelanjutan dan sistematik, menilai sikap seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, percaya diri, toleransi, dan kerjasama. Guru mencatat perilaku dalam jurnal harian sebagai bukti pencapaian ranah afektif.
Kriteria penilaian mencakup frekuensi kemunculan perilaku: konsisten, sering, mulai, dan belum. Misalnya, murid yang menunjukkan kejujuran tidak melakukan penipuan dan mengakui kesalahannya. Penilaian bersifat deskriptif kualitatif, di mana deskripsi perilaku lebih penting dibandingkan angka. Penilaian juga melibatkan penilaian teman dan penilaian diri untuk meningkatkan kesadaran murid. Semua sumber penilaian digabungkan untuk membuat deskripsi sikap yang akurat.
Ranah psikomotorik mempunyai peranan yang krusial dalam KKTP kelas 10, terkait dengan keterampilan praktis yang harus dimiliki murid di bidang keagamaan. Murid diharuskan untuk mengimplementasikan nilai-nilai akhlak dalam aksi nyata, di antaranya dengan membaca doa-doa sehari-hari secara tepat, seperti doa sebelum dan setelah aktivitas belajar, ketika keluar atau memasuki rumah, serta saat tidur dan bangun. Selain itu, murid juga dilatih untuk membaca Al-Quran dengan tartil dan tajwid yang benar.
Guru Akidah Akhlak kelas 10 Madrasah Aliyah melaksanakan praktik shalat berjamaah sebagai sarana untuk mengasah kerja sama dan kemampuan kepemimpinan. Keterampilan lainnya mencakup menulis kaligrafi yang sederhana serta membuat karya seni dengan tema Islami. Penilaian terhadap praktik dilakukan oleh guru menggunakan rubrik yang jelas, memberikan skor antara 1 hingga 4. Murid dinyatakan tuntas bila mendapatkan skor paling kurang 3 serta diberi kesempatan untuk berlatih berulang kali demi peningkatan keterampilan. Umpan balik yang konstruktif dapat membantu proses perbaikan. Kebiasaan positif terbentuk melalui praktik yang baik.