Pendidikan di era digital abad ke-21 memerlukan inovasi dalam cara belajar. Kurikulum merdeka muncul sebagai solusi atas kebutuhan ini, memberikan kesempatan kepada guru dan siswa untuk belajar dengan lebih fleksibel, sesuai konteks, dan fokus pada penguasaan kompetensi. Dalam hal ini, modul ajar Bahasa Indonesia kelas 10 SMA/MA fase E berfungsi sebagai alat penting untuk menerapkan pendekatan Deep Learning yang menggabungkan Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning, ketiga pilar pembelajaran modern yang mendukung kesadaran, makna, dan kegembiraan dalam kegiatan belajar.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas 10 SMA/MA fase E, pendekatan Deep Learning bisa diterapkan dengan mengubah cara belajar dari sekadar “belajar teks” menjadi “mengalami dan memahami teks”. Contohnya:
Deep Learning dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas 10 SMA/MA fase E juga mengembangkan kemampuan literasi kritis, yaitu kemampuan untuk membaca dengan analitis, mendeteksi bias dalam teks, dan mengaitkan isi bacaan dengan konteks sosial budaya. Dengan pendekatan tersebut, siswa diajarkan untuk menjadi pembaca yang aktif dan penulis yang reflektif, bukan hanya penerima informasi.
Guru berfungsi sebagai fasilitator dalam berfikir, bukan hanya sebagai penyampai informasi. Dalam modul ajar deep learning Bahasa Indonesia kelas 10 kurikulum merdeka, guru perlu:
Guru yang menerapkan Deep Learning perlu peka terhadap beragam cara belajar siswa, mengarahkan kegiatan pembelajaran supaya setiap individu merasa dihargai dan bisa berkembang sesuai dengan potensi mereka.
Untuk bisa menerapkan modul ajar deep learning kurikulum merdeka dengan baik, guru harus merancang pengalaman belajar yang terstruktur dan interaktif. Beberapa strategi yang bisa digunakan meliputi:
Tiga pilar pembelajaran yang kontemporer, Mindful Learning (berkesadaran), Meaningful Learning (bermakna), dan Joyful Learning (menyenangkan) menjadi dasar dari metode Deep Learning. Ketiganya saling melengkapi satu sama lain: kesadaran membantu fokus, makna menumbuhkan relevansi, dan rasa bahagia menjaga semangat belajar.
Jika diterapkan bersama-sama, pengintegrasian tersebut memungkinkan siswa untuk belajar bukan hanya demi nilai, tetapi juga untuk berkembang sebagai individu utuh.
Mindful Learning mendorong siswa untuk belajar dengan perhatian penuh terhadap proses berpikir dan perasaan yang mereka alami. Dalam modul ajar deep learning Bahasa Indonesia kelas 10 SMA/MA fase E, pendekatan tersebut bisa dilakukan melalui kegiatan seperti:
Misalnya, ketika siswa menganalisis puisi “Aku” karya Chairil Anwar, guru bisa mendorong mereka untuk menyadari resonansi emosional dan makna eksistensial dari puisi tersebut, tidak hanya sekadar menghafal makna harfiah.
Pembelajaran bermakna terjadi ketika siswa mengaitkan informasi baru dengan pengalaman yang mereka miliki. Dalam modul ajar deep learning Bahasa Indonesia kelas 10 kurikulum merdeka, guru bisa membuat kegiatan seperti:
Dengan cara tersebut, siswa menyadari bahwa bahasa bukan hanya alat akademis, melainkan juga sarana untuk memahami diri sendiri dan lingkungan mereka.
Pembelajaran yang menyenangkan tidak selalu identik dengan bermain, tetapi menciptakan suasana positif di dalam kelas. Guru bisa menerapkan Joyful Learning melalui:
Joyful Learning membuat siswa lebih terbuka untuk mengeksplorasi bahasa, mengurangi kecemasan saat belajar, dan meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam berkomunikasi.
Berikut adalah ilustrasi alur kegiatan pembelajaran dalam modul ajar deep learning Bahasa Indonesia kelas 10 SMA/MA fase E dengan pendekatan Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning.
Silahkan download modul ajar deep learning Bahasa Indonesia kelas 10 kurikulum merdeka disini
Pendekatan pembelajaran yang menggabungkan Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning dalam modul ajar deep learning Bahasa Indonesia kelas 10 SMA/MA fase E kurikulum merdeka bukan hanya sebatas inovasi, melainkan suatu kebutuhan penting di zaman pendidikan modern. Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya bisa memahami bahasa secara struktural, tetapi juga menghayati nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan empati di dalamnya.
Guru mempunyai peranan yang krusial dalam memandu perkembangan pikiran dan perasaan siswa, menjamin bahwa setiap tahapan pembelajaran menjadi pengalaman yang menyentuh dan penuh makna.