Kurikulum merdeka membawa banyak perubahan baru. Perubahan tersebut memberikan dampak besar untuk para guru. Murid juga merasakan dampak tersebut. Salah satu perubahan paling penting adalah dokumen ATP, singkatan dari Alur Tujuan Pembelajaran.

Dokumen ini digunakan guru sebagai acuan dalam mengajar. ATP kurikulum merdeka berfungsi seperti peta untuk perjalanan belajar. Peta ini sangat rinci dan terorganisir.
Pertama-tama, kita harus memahami bagian-bagian dari Alur Tujuan Pembelajaran. Setiap ATP Kimia kelas 10 SMA/MA fase E kurikulum merdeka terdiri dari komponen yang penting. Komponen pertama adalah capaian pembelajaran (CP). CP menunjukkan kompetensi yang harus dikuasai di akhir fase. Guru merinci CP menjadi TP. TP adalah tujuan pembelajaran yang lebih spesifik. TP dibuat dalam urutan tertentu. Urutan TP ini menjadi apa yang kita sebut ATP kurikulum merdeka.
Selain TP, terdapat indikator pencapaian yang juga penting. Indikator tersebut berfungsi untuk menilai keberhasilan murid. Guru perlu menetapkan waktu pelaksanaan juga. Alokasi waktu untuk setiap TP bervariasi. Ada TP yang membutuhkan satu jam pelajaran, sementara yang lain mungkin memerlukan tiga jam pelajaran. Semua komponen tersebut saling terintegrasi dalam satu dokumen.
Sebagai contoh, mari kita lihat topik “Hukum Dasar Kimia”. Dalam ATP kelas 10 SMA/MA fase E, topik tersebut sangat krusial. Hukum Lavoisier diajarkan terlebih dahulu. Selanjutnya, hukum Proust diajarkan. Setelah itu, hukum Dalton dan Gay Lussac. Akhirnya, hukum Avogadro menjadi penutupnya. Urutan tersebut tidak bisa diubah. Kenapa? Karena hukum yang pertama membentuk dasar pemahaman.
Murid harus memahami konsep kekekalan massa terlebih dahulu sebelum mengerti perbandingan tetap. Setiap hukum saling membangun atas konsep yang sebelumnya. Alur ini mencerminkan logika ilmiah dalam bidang kimia. Guru hanya perlu mengikuti alur ini. Mereka juga bisa melakukan sedikit penyesuaian. Namun, setiap modifikasi harus tetap mempertahankan urutan logis.
Bagaimana cara guru membuat ATP kurikulum merdeka yang baik? Pertama-tama, guru perlu membaca CP dengan teliti. CP adalah referensi utama dalam pembuatan. Kedua, guru memetakan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dipecah menjadi bagian-bagian kecil. Ketiga, guru membuat urutan dari yang paling sederhana ke yang lebih kompleks. Prinsip scaffolding sangat penting pada tahap ini. Keempat, guru menentukan waktu belajar untuk setiap TP. Satu TP bisa membutuhkan waktu antara 1 hingga 4 jam pelajaran.
Kelima, guru melakukan review terhadap alur yang telah dibuat. Review ini bisa dilakukan bersama rekan sejawat untuk mendapatkan masukan berharga. Terakhir, guru mengembangkan penilaian yang sesuai. Penilaian harus mencakup semua TP yang telah ditetapkan. Penting juga bagi guru untuk tetap fleksibel. Murid mempunyai kemampuan belajar yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, ATP Kimia kelas 10 SMA/MA fase E kurikulum merdeka bersifat adaptif. Guru bisa melakukan penyesuaian saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Namun, tujuan akhir tetap harus tercapai.
Sebagai contoh, saat mengajarkan materi ikatan kimia. Beberapa murid mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami. Guru bisa menambah satu sesi tambahan. Guru juga bisa menyediakan pembelajaran remedial. Alternatif lainnya, guru bisa memberikan tugas proyek kelompok. Ini semua diizinkan dalam kurikulum merdeka.
Hal yang terpenting adalah alur utama tetap terjaga. Guru perlu memastikan bahwa esensi urutan tetap dipatuhi. Dengan kata lain, ATP kelas 10 SMA/MA harus fleksibel namun tetap terarah.
Implementasi ATP Kimia kelas 10 fase E kurikulum merdeka membutuhkan pendekatan yang tepat. Pertama-tama, guru perlu merencanakan waktu dalam satu semester. Biasanya, satu semester terdiri dari 18 minggu yang efektif. Dikurangi dengan waktu untuk ulangan dan penilaian, tersisa sekitar 14 hingga 16 minggu untuk belajar. Bagi jumlah tujuan pembelajaran yang ada, bagi jumlah tersebut ke dalam minggu-minggu yang ada. Misalnya, jika total tujuan pembelajaran mencapai 32, maka setiap minggunya murid diwajibkan menyelesaikan 2-3 tujuan.
Hindari memasukkan terlalu banyak tujuan dalam satu waktu. Kualitas dalam belajar lebih utama dibandingkan dengan jumlahnya. Murid membutuhkan waktu untuk bereksperimen. Mereka juga memerlukan waktu untuk berdiskusi. Karena kimia adalah ilmu yang bersifat empiris, praktikum menjadi bagian penting dari kegiatan belajar. Oleh karena itu, ATP kurikulum merdeka harus menyediakan waktu yang cukup. Waktu untuk praktikum dan proyek.
Kedua, guru harus membuat modul ajar kurikulum merdeka. Modul ajar adalah pengembangan dari ATP kelas 10 SMA/MA yang berisi langkah-langkah yang spesifik. Guru bisa membuat LKPD Kimia kelas 10 yang berkaitan dengan setiap tujuan pembelajaran. Di kelas, guru memulai dengan pertanyaan yang merangsang. Contohnya, “Mengapa air dan minyak tidak bisa bercampur? “ Pertanyaan seperti ini dapat memicu rasa ingin tahu murid.
Selanjutnya, murid akan melakukan eksperimen sederhana. Eksperimen tersebut bertujuan untuk membuktikan konsep polaritas. Guru akan memandu murid dalam menarik kesimpulan. Kesimpulan hasil percobaan dicatat sebagai pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan cara ini, kegiatan belajar akan terasa lebih berarti.