Kurikulum merdeka hadir sebagai angin segar untuk dunia pendidikan Indonesia. Kurikulum ini menekankan pembelajaran yang berpikirkan murid sebagai subjek utama. Guru menerima kebebasan untuk mendesain pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Salah satu komponen penting dalam kurikulum ini adalah Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). ATP Seni Tari kelas 8 SMP/MTs fase D kurikulum merdeka berfungsi sebagai petunjuk pencapaian kompetensi secara bertahap dan sistematis.

Mari kita telaah Capaian Pembelajaran Seni Tari fase D secara terperinci. CP Seni Tari fase D memuat tiga elemen utama yang saling terkait. Elemen pertama adalah pengalaman estetis atau kemampuan apresiasi seni. Selanjutnya, elemen kedua adalah eksperimentasi dan keterampilan berkarya tari secara mandiri. Kemudian, elemen ketiga adalah refleksi dan kemampuan berpikir artistik secara kritis. Pada elemen apresiasi, murid mampu mengamati pertunjukan tari dari berbagai sumber. Mereka juga harus bisa memberikan tanggapan terhadap nilai estetis sebuah tarian.
Pada elemen berkarya, murid diarahkan untuk mengeksplorasi ragam gerak tari. Eksplorasi tersebut berdasarkan pada gerak tradisi atau kreasi baru yang orisinal. Murid juga harus mampu membuat koreografi sederhana secara berkelompok dengan kompak. Pada elemen refleksi, murid belajar mengevaluasi proses dan hasil karyanya sendiri. Mereka juga memahami peran tari dalam konteks sosial dan budaya masyarakat. Ketiga elemen tersebut menjadi dasar pembuatan ATP Seni Tari kelas 8 fase D kurikulum merdeka yang utuh dan seimbang.
Guru Seni Tari kelas 8 SMP/MTs harus merumuskan tujuan pembelajaran yang bersifat operasional dan terukur. Tujuan pembelajaran adalah pencapaian yang mudah diamati dalam setiap pertemuan kelas. Contohnya, murid bisa mengidentifikasi enam ragam gerak dasar tari Bali dengan tepat. Contoh lainnya, murid mudah mempraktikkan gerakan mengayun dengan hitungan 4×8 secara sinkron. Tujuan-tujuan kecil tersebut akan saling berkaitan dan membentuk sebuah alur yang padu. Alur ini harus logis dan sesuai dengan kemampuan kognitif murid kelas 8.
Guru tidak boleh melompati tahapan yang fundamental untuk pemahaman dasar tari. Misalnya, sebelum menari berkelompok, murid harus menguasai gerak individu terlebih dahulu. Penguasaan individu menjadi prasyarat untuk kerja sama kelompok yang harmonis. Oleh karena itu, urutan tujuan pembelajaran sangat krusial untuk keberhasilan belajar murid. Guru perlu memetakan setiap tujuan dalam ATP kurikulum merdeka dari yang paling sederhana hingga kompleks.
Bagaimana membuat alur yang efektif untuk kelas 8 fase D secara praktis? Awal tahun ajaran bisa difokuskan pada pengenalan kembali gerak dasar tari. Gerak dasar tersebut menjadi fondasi untuk eksplorasi gerak selanjutnya yang lebih variatif. Selanjutnya, guru Seni Tari kelas 8 SMP/MTs bisa memperkenalkan unsur-unsur komposisi tari secara bertahap. Unsur tersebut memuat ruang, waktu, dan tenaga sebagai elemen utama koreografi. Murid bereksperimen dengan ketiga unsur tersebut secara bergantian dalam latihan kecil.
Setelah itu, guru mengarahkan murid untuk menggali potensi gerak dari lingkungan sekitar. Gerak dari aktivitas sehari-hari bisa diangkat menjadi bahan tari yang menarik. Kemudian, murid mulai merangkai gerakan-gerakan tersebut menjadi pola lantai sederhana. Pola lantai sederhana seperti lingkaran atau diagonal mulai dikenalkan dalam pertemuan. Secara bertahap, kompleksitas gerak dan pola lantai meningkat seiring waktu.
Pada pertengahan semester, murid diarahkan untuk mengapresiasi karya tari daerah Nusantara. Mereka menonton video pertunjukan tari dari berbagai provinsi di Indonesia. Setelah menonton, mereka mendiskusikan keunikan setiap tarian tersebut secara aktif. Diskusi tersebut memicu kemampuan berpikir kritis dan analitis murid secara langsung. Pada akhir semester, murid diberikan proyek kelompok bertema lingkungan hidup. Proyek tersebut adalah membuat koreografi pendek yang sarat makna. Seluruh proses ini tercermin dalam ATP Seni Tari kelas 8 fase D kurikulum merdeka yang telah didesain sebelumnya.