Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) harus mempunyai komponen yang terhubung untuk membantu guru dalam kegiatan belajar. Guru perlu membuat ATP Seni Teater kelas 8 SMP/MTs fase D kurikulum merdeka berdasarkan capaian pembelajaran (CP). Selanjutnya, guru memecahnya menjadi tujuan pembelajaran yang menunjukkan kemampuan murid.

Tujuan diurutkan sesuai kompleksitas, mengarah dari pengalaman menuju penciptaan karya. ATP kurikulum merdeka menggambarkan perjalanan kompetensi, memperhatikan hubungan antara tujuan pembelajaran, kegiatan, materi, dan asesmen. Guru mudah menyesuaikan setiap komponen dengan kondisi kelas dan mengembangkan kegiatan teater yang relevan.
Capaian Pembelajaran (CP) menjadi dasar utama dalam pembuatan ATP Seni Teater kelas 8 fase D kurikulum merdeka. CP memberikan arah mengenai kompetensi yang perlu murid capai dalam satu fase. Karena itu, guru perlu memahami CP Seni Teater kelas 8 SMP/MTs fase D sebelum membuat tujuan pembelajaran. Guru kemudian bisa memetakan kemampuan yang berkaitan dengan pengalaman dan praktik teater. Proses pemetaan tersebut membantu guru menentukan kemampuan yang perlu berkembang secara bertahap. Murid tidak hanya belajar memahami konsep teater. Mereka juga perlu mengalami proses eksplorasi, penciptaan, penampilan, dan refleksi. Selanjutnya, guru mudah menghubungkan berbagai pengalaman tersebut dengan tujuan pembelajaran.
Dengan cara tersebut, setiap kegiatan kelas mempunyai hubungan dengan kompetensi yang ditargetkan. Guru juga mudah menentukan prioritas berdasarkan kebutuhan murid. Misalnya, kelas yang belum menguasai vokal membutuhkan latihan dasar terlebih dahulu. Sebaliknya, kelas yang sudah menguasai teknik dasar bisa langsung mengembangkan pemeranan. Dengan demikian, CP dalam ATP kelas 8 menjadi titik awal dalam membangun alur pembelajaran. Guru kemudian mengembangkan CP menjadi tujuan yang lebih konkret dan mudah diamati.
Tujuan Pembelajaran (TP) menjadi komponen inti dalam ATP Seni Teater kelas 8 fase D kurikulum merdeka. TP menjelaskan kemampuan yang perlu murid kuasai setelah mengikuti kegiatan belajar. Karena itu, guru perlu merumuskan tujuan dengan kata kerja yang jelas. Kata kerja seperti menganalisis, mengeksplorasi, mendesain, memainkan, membuat, dan merefleksikan mudah digunakan. Pemilihan kata kerja perlu menyesuaikan tingkat kemampuan yang ingin murid capai.
Selanjutnya, setiap tujuan perlu mempunyai hubungan dengan tujuan sebelumnya. Tujuan tersebut juga harus mengarah pada pencapaian CP secara keseluruhan. Misalnya, murid mudah menganalisis karakter sebelum memerankan tokoh. Mereka perlu memahami karakter supaya pemeranan mempunyai dasar yang kuat. Setelah itu, mereka bisa mengeksplorasi ekspresi, vokal, dan gerak. Berikutnya, mereka mudah mengembangkan hasil eksplorasi menjadi pemeranan. Pola tersebut menunjukkan alur kompetensi yang logis. Guru juga perlu menghindari tujuan yang terlalu luas dan sulit diukur. Rumusan yang spesifik akan membantu guru menentukan kegiatan dan asesmen. Murid juga mudah memahami target belajar dengan lebih mudah.
Materi pembelajaran menjadi sumber pengetahuan dan pengalaman untuk mencapai tujuan. Dalam Seni Teater kelas 8 SMP/MTs, materi bisa memuat berbagai aspek keaktoran dan penciptaan karya. Guru mudah memilih materi sesuai dengan tujuan pada setiap tahap pembelajaran. Materi bisa memuat olah tubuh, olah vokal, mimik, gestur, pemeranan, karakter, naskah, tata artistik, dan pementasan. Setiap materi sebaiknya mempunyai hubungan dengan kegiatan praktik. Misalnya, guru tidak hanya menjelaskan pengertian olah vokal. Guru juga bisa mengarahkan murid melakukan latihan artikulasi dan pernapasan.
Selanjutnya, murid mudah menerapkan teknik tersebut dalam dialog. Pendekatan tersebut membuat materi lebih mudah dipahami melalui pengalaman langsung. Guru juga bisa menggunakan naskah pendek sebagai sumber pembelajaran. Naskah tersebut bisa berasal dari cerita rakyat atau pengalaman kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, materi terasa dekat dengan kehidupan murid sehari-hari. Guru juga bisa memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber inspirasi. Pendekatan kontekstual tersebut mudah mengarahkan murid membuat karya yang lebih relevan.