Program Tahunan (Prota) Seni Teater kelas 10 SMA/MA fase E kurikulum merdeka harus memuat komponen yang jelas. Komponen tersebut saling berkaitan untuk membantu guru mengatur pembelajaran. Guru perlu menghubungkan capaian pembelajaran, tujuan, materi, alokasi waktu, dan semester.

Penyesuaian dalam kurikulum merdeka harus tetap mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP) Seni Teater. Murid melakukan eksplorasi, riset, improvisasi, dan kerja kolaboratif. Komponen Prota Seni Teater kelas 10 fase E kurikulum merdeka harus menggambarkan kegiatan belajar yang bertahap.
Tujuan Pembelajaran (TP) menjadi salah satu komponen penting dalam Prota Seni Teater kelas 10 fase E kurikulum merdeka. Guru perlu merumuskan tujuan yang menggambarkan kemampuan murid setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Tujuan tersebut bisa memuat kemampuan memahami konsep, mengamati lingkungan, mengeksplorasi karakter, melakukan improvisasi, membuat adegan, hingga mengevaluasi pertunjukan. Dengan demikian, tujuan pembelajaran mudah menjadi penghubung antara capaian pembelajaran dan kegiatan di kelas.
Guru sebaiknya menggunakan kata kerja operasional yang mudah diamati. Misalnya, guru mudah menggunakan kata mengidentifikasi, menjelaskan, mengamati, mengeksplorasi, mempraktikkan, membuat, menyajikan, dan mengevaluasi. Penggunaan kata kerja tersebut membuat tujuan lebih terukur. Selain itu, guru bisa menentukan bentuk asesmen berdasarkan kemampuan yang ingin dicapai. Dengan cara tersebut, setiap kegiatan dalam Prota kelas 10 mempunyai arah yang jelas.
Tujuan pembelajaran juga perlu mengikuti perkembangan kemampuan murid. Guru bisa memulai pembelajaran dengan kemampuan dasar. Kemudian, guru meningkatkan tingkat kompleksitas melalui kegiatan praktik. Setelah itu, murid bisa menggabungkan beberapa keterampilan dalam sebuah karya. Urutan seperti ini membuat pembelajaran terasa seperti perjalanan, bukan kumpulan materi yang berdiri sendiri.
Komponen berikutnya dalam Prota kurikulum merdeka adalah materi pembelajaran, guru perlu menyusunnya secara sistematis. Materi Seni Teater kelas 10 SMA/MA harus mendukung pencapaian tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan. Guru bisa memasukkan konsep dasar teater, unsur pertunjukan, observasi, riset, improvisasi, penulisan lakon, pemeranan, artistik, teknologi, dan pementasan. Namun, guru tetap perlu memilih materi sesuai kebutuhan murid.
Materi Seni Teater kelas 10 SMA/MA sebaiknya memuat pengalaman langsung supaya murid memahami ciri khas seni teater. Guru bisa menjelaskan konsep improvisasi dan mengarahkan murid untuk melakukan latihan improvisasi dalam situasi sederhana. Selain itu, guru bisa memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber materi. Murid bisa mengamati kebiasaan masyarakat dan mencatat peristiwa menarik, lalu mengembangkan pengamatan itu menjadi gagasan cerita atau adegan. Ini membuat pembelajaran lebih kontekstual dan relevan.
Alokasi waktu dalam Prota Seni Teater kelas 10 SMA/MA fase E kurikulum merdeka membantu guru menentukan durasi pembelajaran. Guru perlu menghitung jumlah minggu efektif dalam satu tahun pelajaran. Setelah itu, guru mudah membagi waktu berdasarkan tingkat kesulitan setiap materi. Kegiatan praktik biasanya membutuhkan waktu lebih panjang daripada penyampaian konsep dasar.
Pembagian waktu harus memperhatikan karakteristik pembelajaran Seni Teater kelas 10 SMA/MA. Pementasan memerlukan proses persiapan yang panjang, termasuk memilih gagasan, membuat naskah, membentuk kelompok, berlatih, menyiapkan artistik, dan melakukan pementasan. Guru harus menyediakan waktu yang cukup untuk setiap tahap supaya murid bisa bereksplorasi. Selain itu, guru juga perlu menyediakan ruang untuk asesmen dan refleksi, memungkinkan murid mengevaluasi proses dan memahami proses kreatif secara mendalam.
Komponen semester dalam Prota kurikulum merdeka membantu guru mengelompokkan pembelajaran berdasarkan waktu pelaksanaannya. Guru bisa membagi materi ke dalam semester 1 dan semester 2. Pembagian tersebut sebaiknya mengikuti urutan perkembangan kompetensi murid. Materi dasar mudah ditempatkan pada awal pembelajaran. Selanjutnya, guru bisa mengembangkan materi menuju kegiatan penciptaan dan pementasan.
Pada semester pertama, guru bisa memberikan perhatian pada pengenalan teater, observasi, riset, improvisasi, serta pengembangan gagasan. Murid bisa mulai memahami hubungan antara kehidupan sehari-hari dan penciptaan karya teater. Setelah itu, mereka mudah mengembangkan hasil pengamatan menjadi cerita atau adegan. Proses tersebut bisa menjadi fondasi untuk kegiatan pada semester berikutnya.
Pada semester kedua, guru bisa meningkatkan kegiatan praktik. Murid mudah mempelajari pemeranan, olah tubuh, olah vokal, tata artistik, teknologi pertunjukan, dan produksi karya. Selanjutnya, murid bisa mengintegrasikan berbagai keterampilan melalui pementasan. Pembagian seperti ini tentu bisa berubah sesuai kebutuhan sekolah dan karakter kelas.