Kurikulum merdeka hadir sebagai angin segar bagi dunia pendidikan Indonesia. Pendekatan tersebut menekankan pembelajaran yang berpusat pada murid. Guru berperan sebagai fasilitator yang aktif dan inovatif. Komponen penting dalam kurikulum ini adalah Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang menjadi petunjuk esensial untuk guru dalam mendesain aktivitas belajar. Fokus utama ATP Seni Rupa kelas 12 SMA/MA fase F kurikulum merdeka adalah pencapaian kompetensi secara bertahap dan sistematis.

Kita urai komponen-komponen penting dalam ATP Seni Rupa kelas 12 fase F kurikulum merdeka. Komponen pertama adalah tujuan pembelajaran yang spesifik dan terukur. Setiap tujuan dirumuskan dengan kata kerja operasional yang jelas. Contohnya, “menganalisis”, “mengevaluasi”, atau “membuat”. Kedua, memuat indikator pencapaian tujuan. Indikator tersebut menjadi penanda ketercapaian kompetensi murid. Ketiga, memuat materi pokok yang akan diajarkan. Materi pokok disesuaikan dengan tujuan dan Capaian Pembelajaran (CP) fase F yang ditetapkan. Kemudian yang keempat, memuat alokasi waktu untuk setiap tujuan. Penentuan waktu mempertimbangkan kompleksitas materi dan aktivitas.
Selanjutnya yang kelima, ATP Seni Rupa kelas 12 SMA/MA fase F kurikulum merdeka dilengkapi dengan rekomendasi metode dan media pembelajaran. Rekomendasi tersebut membantu guru dalam memilih pendekatan yang tepat. Terakhir yang keenam, terdapat asesmen atau penilaian yang menyertainya. Asesmen didesain untuk mengukur pencapaian setiap tujuan pembelajaran. Semua komponen tersebut tersusun dalam sebuah alur yang koheren.
Perumusan tujuan pembelajaran merupakan jantung dari ATP kurikulum merdeka. Tujuan harus mencerminkan kompetensi yang ingin dibangun. Kompetensi tersebut memuat pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Untuk Seni Rupa kelas 12 SMA/MA, kompetensi sikap sangat penting. Sikap apresiatif, kritis, dan bertanggung jawab perlu dikembangkan. Guru merumuskan tujuan dengan memperhatikan tingkat kognitif murid. Taksonomi Bloom menjadi salah satu acuan yang berguna. Mulailah dari level mengingat dan memahami. Kemudian, naik ke level mengaplikasikan dan menganalisis.
Terakhir, capailah level mengevaluasi dan mencipta. Sebagai contoh, tujuan awal: “Murid mengidentifikasi unsur-unsur rupa pada karya seni.” Selanjutnya, tujuan menengah: “Murid membandingkan gaya seni rupa modern dan kontemporer.” Tujuan akhir yang lebih tinggi: “Murid membuat karya seni instalasi sederhana.” Tujuan tersebut mencerminkan peningkatan kompleksitas berpikir. Akhirnya, alur pembelajaran menjadi jelas dan bertahap.
Setelah tujuan pembelajaran dirumuskan, guru membuat alur aktivitas ATP Seni Rupa kelas 12 SMA/MA fase F kurikulum merdeka. Alur tersebut merupakan langkah-langkah konkret di dalam kelas. Setiap aktivitas harus mendukung tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Aktivitas awal biasanya berupa pertanyaan pemantik atau apersepsi. Pertanyaan pemantik bertujuan untuk menggugah minat dan pengetahuan awal murid. Selanjutnya, aktivitas inti berisi eksplorasi dan pendalaman materi. Di sini, murid aktif bereksperimen dan berdiskusi.
Kemudian, aktivitas penutup berisi refleksi dan penguatan pemahaman. Refleksi penting untuk mengonsolidasi pengalaman belajar murid. Guru juga menyisipkan proyek kolaboratif antar murid. Proyek (kokurikuler) tersebut mengasah kemampuan kerja sama dan komunikasi. Selain itu, guru bisa mengadakan kunjungan ke galeri atau museum. Kunjungan memberikan pengalaman langsung dan konteks nyata. Semua aktivitas diikat oleh benang merah tujuan pembelajaran. Hasilnya, alur tersebut bersifat dinamis dan mudah disesuaikan.
ATP Seni Rupa kelas 12 fase F kurikulum merdeka tidak terlepas dari Dimensi Profil Lulusan. Profil ini menjadi tujuan besar pendidikan nasional. Terdapat enam dimensi yang harus diintegrasikan. Dimensi tersebut adalah keimanan, kewargaan, dan kolaborasi. Lalu, ada dimensi kemandirian, penalaran kritis, dan kreativitas. Seni Rupa kelas 12 SMA/MA sangat sesuai untuk mengembangkan dimensi kreativitas. Murid berkreasi dan menghasilkan karya orisinal melalui proses panjang. Proses tersebut membutuhkan pemikiran inovatif dan imajinatif.
Selain itu, apresiasi seni memperkuat dimensi kewargaan. Murid belajar menghargai keragaman ekspresi budaya dari berbagai daerah. Diskusi karya seni melatih kemampuan bernalar kritis murid. Mereka belajar memberi dan menerima kritik yang membangun. Kolaborasi dalam proyek seni mengasah semangat gotong royong. Dengan demikian, ATP kurikulum merdeka menjadi wahana pengembangan karakter holistik. Akibatnya, guru perlu secara sadar mendesain aktivitas yang memunculkan dimensi-dimensi ini.