Pendidikan Agama Islam di tingkat dasar, khususnya pelajaran Al-Qur’an Hadis kelas 6 di Madrasah Ibtidaiyah (MI), mempunyai peranan krusial dalam membangun fondasi akidah, akhlak, dan spiritualitas para murid. Pada kelas 6 MI, para murid mengalami fase transisi yang signifikan, di mana pemahaman keagamaan perlu beralih dari sekadar menghafal menuju penghayatan yang lebih mendalam dan relevan. Dalam menghadapi tantangan ini, diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang menyentuh aspek kognitif, emosional, dan spiritual.

Perangkat ajar KBC Al-Qur’an Hadis kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah yang mencakup CP, ATP, Prota, Promes, Modul Ajar, dan KKTP bisa dibuat untuk menggabungkan Kurikulum Berbasis Cinta (berdasarkan Panca Cinta) dengan prinsip Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang meliputi Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning.
Sebelum membahas desain perangkat ajar kurikulum berbasis cinta (KBC) Al-Qur’an Hadis kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah, penting untuk mendalami dua konsep utama yang akan diintegrasikan.
Konsep ini berasal dari nilai-nilai universal Islam yang mendukung kemanusiaan. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang berlandaskan Panca Cinta umumnya meliputi:
Kurikulum berbasis cinta ini bertujuan untuk menumbuhkan pembelajaran yang penuh kasih, menghargai potensi setiap anak, serta membangun hubungan yang positif antara guru, murid, dan materi ajar. Dalam mata pelajaran Al-Qur’an Hadis kelas 6 MI, hal ini berarti mengajarkan ayat dan hadis sebagai ungkapan cinta Tuhan yang perlu dicintai dan dijalankan, bukan sebagai beban norma yang kaku.
Deep Learning adalah aktivitas belajar yang melebihi sekadar mengingat. Ini mencakup mindful learning, di mana murid terlibat dengan fokus dan refleksi. Murid juga mengalami meaningful learning, di mana materi Al-Qur’an Hadis kelas 6 MI dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari serta pengetahuan yang mereka miliki. Di samping itu, joyful learning menghadirkan suasana belajar yang ceria dan membuat murid merasa aman serta terlibat secara aktif.
Kombinasi dari kedua pendekatan dalam perangkat ajar KBC kelas 6 membuat ekosistem pembelajaran di mana murid menyadari (mindful) keberadaan Allah di setiap pelajaran, mengartikan (meaningful) ayat-ayat-Nya dalam kehidupan sehari-hari, serta merasakan kegembiraan (joyful) dalam mencintai dan mempelajari ajaran Islam.
Berikut ini adalah penerapan integrasi Panca Cinta dan Deep Learning dalam setiap elemen perangkat ajar KBC Al-Qur’an Hadis kelas 6 MI.
CP dibuat tidak hanya dengan penekanan pada penguasaan materi (contohnya: menghafal Q. S. Al-Ma’un), tetapi juga mencakup hasil afektif dan psikomotor yang mencerminkan kurikulum berbasis cinta (KBC) dan deep learning.
Contoh CP: “Pada akhir fase C, murid menunjukkan rasa cinta (Cinta kepada Allah dan Rasul) terhadap nilai-nilai sosial dalam Al-Qur’an (seperti kepedulian terhadap anak yatim) dengan memahami makna pesan Q. S. Al-Ma’un dan hadis yang relevan dalam konteks kehidupan sosial di sekitarnya (Meaningful), serta mampu mensimulasikan tindakan kepedulian dengan kesadaran dan ketulusan (Mindful) dalam sebuah proyek kolaboratif yang menyenangkan (Joyful).”
Prota dan Promes mengorganisir waktu serta materi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Integrasi dilakukan dengan menetapkan tema besar untuk setiap semester yang mencakup nilai-nilai Panca Cinta. Sebagai contoh, tema yang diangkat pada Semester 1 adalah “Menjadi Pencinta Allah yang Peduli Sesama,” yang mencakup materi Al-Qur’an Hadis kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah seperti Q. S. Al-Ma’un, Q. S. Al-Humazah, dan hadis yang membahas tentang sedekah. Pembagian waktu dalam Promes tidak hanya terbatas pada mengulang pelajaran dan menghafal, tetapi juga melibatkan pembelajaran berbasis proyek, refleksi, serta presentasi kreatif. Ini memastikan bahwa ketiga dimensi dari pembelajaran mendalam bisa terpenuhi.
ATP membagi CP menjadi tujuan-tujuan pembelajaran yang terurut dan sistematis. Setiap tujuan bertujuan untuk membantu murid dalam menghayati nilai-nilai. Sebagai contoh, ATP untuk Q. S. Al-Ma’un terdiri dari beberapa tahap. Tahap 1 mengajak murid untuk mengenali ketidakpedulian sosial di sekeliling mereka. Tahap 2 meliputi kegiatan membaca dan menganalisis ayat serta hadis yang relevan. Tahap 3 mengarahkan murid untuk membuat dan melaksanakan aksi kepedulian, seperti membagikan takjil. Tahap 4 meminta murid untuk merefleksikan pengalaman tersebut sebagai wujud cinta kepada Allah, sesama, dan pengetahuan.
Modul ajar ajar kurikulum berbasis cinta (KBC) Al-Qur’an Hadis kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah berfungsi sebagai alat operasional yang berisi langkah-langkah rinci dalam pembelajaran. Di situlah integrasi benar-benar diterapkan.
KKTP adalah cara untuk menilai keberhasilan yang fleksibel dan bersifat manusiawi. Kriteria ini bertujuan untuk mengevaluasi pemahaman serta penghayatan, bukan hanya sekadar hafalan. Sebagai contoh, KKTP untuk tujuan pembelajaran “Mendemonstrasikan kepedulian sosial berdasarkan Q. S. Al-Ma’un” menunjukkan beragam tingkat pencapaian: Baik Sekali, Baik, Cukup, dan Perlu Pendampingan. Pada tingkat Baik Sekali, murid mampu menjelaskan hubungan antara ayat dan realitas sosial serta aktif dalam proyek kepedulian, menganggap pengalaman tersebut sebagai ibadah. Di tingkat Baik, murid ikut serta secara aktif dan merenungkan manfaat yang diperoleh. Pada tingkat Cukup, murid dapat menjelaskan makna ayat, tetapi membutuhkan arahan dalam berpartisipasi. Sementara itu, di tingkat Perlu Pendampingan, murid mengalami kesulitan dalam memahami makna ayat dan kurang berpartisipasi.
Silahkan download perangkat ajar KBC Al-Qur’an Hadis kelas 6 MI klik disini
Perangkat ajar kurikulum berbasis cinta (KBC) Al-Qur’an Hadis kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah yang berlandaskan Panca Cinta dan diintegrasikan dengan Deep Learning dalam pembelajaran mempunyai peranan yang vital. Strategi tersebut bertujuan untuk memperkuat ikatan antara murid dengan Allah Swt dan prinsip-prinsip-Nya. Melalui capaian pembelajaran yang menyeluruh, yang terstruktur hingga internalisasi nilai-nilai, serta modul ajar KBC kelas 6 yang memberikan pengalaman bermakna, tujuan kita bukan hanya supaya murid memahami ajaran agama Islam, tetapi juga untuk membuat generasi yang cinta kepada Allah, Rasul, sesama, lingkungan, dan ilmu. Proses pendidikan ini harus mampu membuat ajaran terasakan dalam hati dan terlihat dalam tindakan penuh kasih dan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari murid.