Program Semester sering dirujuk dengan sebutan Promes. Promes Al-Qur’an Hadis kelas 4 fase B kurikulum merdeka merupakan rencana kerja untuk satu periode pembelajaran. Dokumen tersebut berfungsi sebagai petunjuk untuk guru di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Petunjuk ini sangat penting dalam kurikulum merdeka.

Kurikulum merdeka memberikan kebebasan kepada guru. Namun, kebebasan tersebut tetap memerlukan kerangka yang jelas. Ia menawarkan kerangka tersebut dengan sistematis. Tanpa Promes kurikulum merdeka, aktivitas pembelajaran mengajar bisa kehilangan fokus. Oleh sebab itu, penting untuk menganalisisnya lebih dalam.
Selanjutnya, kita akan membahas komponen utama dalam Promes Al-Qur’an Hadis kelas 4 fase B kurikulum merdeka. Program Semester yang baik mencakup beberapa komponen penting. Komponen pertama adalah identitas nama Madrasah Ibtidaiyah dan pengajar. Kedua adalah Capaian Pembelajaran yang disingkat CP. CP merupakan kompetensi yang perlu dikuasai oleh murid. Yang ketiga adalah Tujuan Pembelajaran yang disingkat TP. TP adalah rincian dari CP yang lebih spesifik.
Komponen keempat adalah alokasi waktu untuk pembelajaran. Alokasi waktu dihitung berdasarkan jam pelajaran. Kelima adalah tema materi pokok Al-Qur’an Hadis kelas 4 MI untuk setiap minggu. Yang keenam adalah rencana evaluasi dan proyek. Semua komponen tersebut saling berhubungan dengan erat. Pengajar harus mengintegrasikannya ke dalam satu tabel. Tabel tersebut berfungsi sebagai acuan selama satu semester.
Berikutnya, mari kita urutkan pembuatan Promes Al-Qur’an Hadis kelas 4 MI fase B kurikulum merdeka secara sistematis. Tahap pertama adalah melakukan analisis mendalam terhadap CP. Analisis tersebut memberikan gambaran umum tentang aktivitas pembelajaran. Yang kedua adalah merincikan CP menjadi TP. Contoh kata kerjanya meliputi membaca, menghafal, dan menjelaskan. Ketiga adalah mengklasifikasikan TP ke dalam semester ganjil. Klasifikasi TP juga harus berlaku untuk semester genap. Pembagian tersebut perlu dilakukan secara proporsional dan realistis.
Tahap keempat adalah menghitung jumlah minggu belajar yang efektif. Minggu efektif adalah hari-hari tanpa libur. Hari libur nasional dan sekolah harus diperhitungkan. Yang kelima adalah mendistribusikan TP ke setiap minggu. Satu TP bisa membutuhkan waktu dua hingga tiga minggu untuk diselesaikan. Terakhir adalah mencantumkan metode evaluasi. Evaluasi bisa dilakukan melalui tes lisan atau tertulis. Akhirnya, Promes kelas 4 harus mendapatkan persetujuan dari kepala Madrasah Ibtidaiyah. Persetujuan tersebut menandakan bahwa dokumen tersebut resmi untuk digunakan.
Selanjutnya, Promes kelas 4 juga harus mencakup strategi pembelajaran yang aktif. Guru tidak seharusnya hanya bergantung pada metode ceramah. Metode ceramah bisa membuat murid cepat merasa jenuh. Oleh karena itu, variakan dengan metode bermain peran. Bermain peran bisa digunakan untuk memahami hadits. Selain itu, terapkan metode menghafal dengan bernyanyi. Lagu-lagu religi bisa membantu murid mengingat ayat dengan lebih mudah.
Guru juga bisa menerapkan pembelajaran yang berbasis proyek (kokurikuler). Proyek sederhana seperti membuat poster ayat pilihan. Poster tersebut bisa dipajang di sudut kelas. Aktivitas tersebut mudah meningkatkan kreativitas dan pemahaman murid. Semua metode ini didokumentasikan. Promes kurikulum merdeka juga mencakup alokasi waktu untuk setiap metode. Peralihan antara metode harus dilakukan dengan lancar. Pengajar mengatur durasi setiap sesi dengan cermat. Dampaknya, lingkungan belajar menjadi lebih interaktif dan dinamis.
Promes Al-Qur’an Hadis kelas 4 fase B kurikulum merdeka harus mencakup rencana asesmen yang menyeluruh. Asesmen terdiri dari tiga kategori utama. Yang pertama adalah asesmen harian atau formatif. Asesmen tersebut dilakukan setelah menyelesaikan satu bab. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi kemajuan belajar murid. Jenis kedua adalah asesmen sumatif tengah semester (ASTS). ASTS dilaksanakan di tengah periode pembelajaran. Jenis ketiga adalah asesmen sumatif akhir semester (ASAS). ASAS dilakukan pada akhir periode genap.
Selain itu, terdapat asesmen sumatif tahun ajaran. Semua jadwal penilaian ini harus diatur dengan jelas. Jadwal yang jelas membantu menghindari aktivitas yang bertabrakan. Guru perlu mencantumkan bentuk soal yang akan digunakan. Soal bisa berbentuk pilihan ganda atau pertanyaan esai. Penilaian lisan juga sangat penting untuk menguji hafalan. Guru mencatat target hafalan di setiap sesi pertemuan. Contohnya, target hafalan satu surah dalam sebulan. Semua target tersebut dibuat supaya realistis dan terukur dengan baik.