Program Semester (Promes) adalah dokumen yang merencanakan kegiatan belajar selama satu semester. Dokumen ini mencakup tujuan pembelajaran, materi yang akan dipelajari, metode pengajaran, media yang digunakan, dan cara asesmen yang dilakukan. Tujuan utama dari Promes kurikulum merdeka adalah untuk memastikan adanya hubungan yang erat antara Program Tahunan (Prota) dan modul ajar kurikulum merdeka, dengan harapan capaian pembelajaran (CP) bisa diukur secara tepat dan terstruktur. Promes kelas 3 SD/MI berperan sebagai panduan dalam pelaksanaan pembelajaran, memudahkan dalam memantau perkembangan siswa, serta membantu dalam evaluasi dan tindak lanjut yang diperlukan.

Diuraikan berdasarkan setiap elemen CP kurikulum merdeka:
Contoh CP Fase B Bahasa Indonesia Kelas 3: “Mengenali informasi jelas dari teks naratif atau fabel pendek.”
Merupakan turunan dari CP, diuraikan berdasarkan bab atau materi:
Dikelompokkan berdasarkan tema/unit, sesuai dengan buku ajar atau inovasi dari guru:
Tahap pertama adalah studi mendalam tentang ATP dan Prota. Guru harus memeriksa tema, tujuan pembelajaran, serta total alokasi waktu. Dari Prota, subtema dan tujuan pembelajaran (TP) yang akan dibahas selama satu semester dipilih. Analisis tersebut memastikan keterhubungan antara semester satu dengan semester yang lain.
Setelah TP ditentukan, tetapkan jumlah minggu efektif dan jam pelajaran dalam seminggu. Alokasi waktu yang ditentukan harus realistis, dengan mempertimbangkan hari libur, ujian, dan kegiatan lainnya di sekolah. Misalnya, terdapat total 18 minggu efektif per semester dengan 2 jam pelajaran per minggunya.
Langkah selanjutnya, setiap TP dijelaskan melalui indikator pencapaian. Sebagai contoh, TP “Menulis kalimat sesuai kaidah ejaan” dapat diuraikan menjadi indikator “Menggunakan huruf kapital pada awal kalimat” atau “Menambahkan titik di akhir kalimat”. Indikator ini akan memudahkan dalam hal asesmen dan memberikan umpan balik.
Untuk memastikan keberhasilan Promes Bahasa Indonesia kelas 3 SD/MI fase B kurikulum merdeka, guru harus menerapkan strategi pembelajaran yang terstruktur dan relevan. Berikut adalah langkah-langkah strategis yang bisa diambil:
Sesuai dengan gaya belajar dan kebutuhan siswa, pilihlah model pembelajaran yang tepat. Contohnya, untuk siswa yang cenderung visual dan kinestetik, model Project Based Learning (PBL) dan Learning by Doing lebih efektif karena melibatkan aktivitas praktis seperti membuat poster cerita.
Gunakan metode Think–Pair–Share untuk menggali pemahaman terhadap teks cerita bergambar; terapkan Role Play untuk melatih percakapan; dan Jigsaw untuk membagi kelompok dalam diskusi mengenai kosakata baru. Penggabungan model-model ini mendorong partisipasi aktif serta interaksi antar siswa.
Manfaatkan alat seperti tablet atau komputer agar bisa mengakses teks interaktif, video animasi singkat, dan aplikasi untuk berlatih ejaan. Platform online seperti Google Classroom dapat digunakan untuk mendistribusikan lembar kerja dan kuis formatif.
Gambar dari cerita bergambar yang dicetak bisa dilengkapi dengan label kosakata yang bisa dipindai dengan kode QR, sehingga siswa dapat mendengarkan pengucapan kata melalui ponsel mereka.
Latihan menulis paragraf sederhana bisa dilakukan dalam kelompok di kelas (luring) lalu direvisi secara terus-menerus melalui dokumen bersama secara daring. Hal ini meningkatkan semangat belajar karena siswa merasakan kemajuan dalam hasil karya mereka.