Dalam dunia pendidikan yang terus berubah, kurikulum merdeka muncul sebagai inovasi yang menekankan pada pembelajaran yang memperhatikan siswa, relevan dengan situasi kehidupan, dan memberi kebebasan kepada institusi pendidikan. Di Madrasah Tsanawiyah (MTs), pelajaran Al-Qur’an Hadis kelas 8 mempunyai peran penting sebagai pondasi keimanan, akhlak, dan pemahaman tentang ajaran Islam. Untuk menerapkan kurikulum merdeka secara efisien pada mata pelajaran ini, khususnya di kelas 8 fase D, dibutuhkan perencanaan yang sistematis dan terencana.

Di sinilah Program Tahunan (Prota) berfungsi sebagai panduan strategis yang mengarahkan seluruh aktivitas pembelajaran dalam satu tahun akademik. Prota kurikulum merdeka bukan hanya dokumen administratif, tetapi merupakan rancangan yang berfungsi menghubungkan Capaian Pembelajaran (CP) fase D dengan aktivitas belajar sehari-hari di dalam ruangan kelas.
Kurikulum merdeka membagi jenjang pendidikan menjadi beberapa fase. Kelas 8 di Madrasah Tsanawiyah (MTs) termasuk dalam fase D, yang biasanya ditujukan untuk siswa berusia 13 hingga 15 tahun (setara SMP/MTs). Karakteristik siswa di tahap ini adalah kemampuan berpikir abstrak yang mulai berkembang, rasa ingin tahu yang tinggi mengenai identitas dan nilai-nilai, serta kecenderungan untuk mengkritisi dan mengeksplorasi berbagai hal.
Capaian Pembelajaran (CP) Fase D untuk Al-Qur’an Hadis kelas 8 Madrasah Tsanawiyah (MTs) dibuat untuk membantu siswa mencapai pemahaman yang lebih mendalam, tidak hanya sekadar hafalan. Fokusnya meliputi:
Dengan memahami Capaian Pembelajaran (CP) fase D, penyusunan Prota kelas 8 bisa dilakukan dengan lebih terarah dan berarti.
Sebuah Prota Al-Qur’an Hadis kelas 8 MTs fase D yang baik dibuat dengan memperhatikan beberapa prinsip kunci dari kurikulum merdeka:
Prota Al-Qur’an Hadis kelas 8 MTs fase D kurikulum merdeka minimal harus mencakup komponen-komponen berikut:
Menghitung jumlah minggu efektif dalam satu tahun ajaran, kemudian menentukan alokasi waktu per materi berdasarkan tingkat kompleksitas dan kedalamannya.
Menetapkan Tujuan Pembelajaran yang diperinci dari Capaian Pembelajaran (CP) fase D. Tujuan Pembelajaran ini kemudian dirinci menjadi materi pokok. Contoh pemetaan untuk satu semester:
Memilih variasi metode pengajaran yang tepat, seperti diskusi kelompok (halaqah), bermain peran (dramatisasi cerita dalam Al-Qur’an), proyek kecil (membuat kutipan kaligrafi ayat), atau eksperimen sosial (menerapkan akhlak baik selama seminggu).
Membuat asesmen diagnostik di awal, asesmen formatif (kuis, observasi, catatan anekdotal, portofolio) selama aktivitas belajar, dan asesmen sumatif di akhir satu unit. Asesmen harus bisa menilai tidak hanya aspek kognitif (pemahaman), tetapi juga aspek afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan membaca).
Menunjukkan hubungan antara materi Al-Qur’an dan Hadis dengan tema proyek / kokurikuler. Misalnya, dalam tema “Bangunlah Jiwa dan Raganya”, materi mengenai pola makan dan kesehatan dari perspektif Hadis bisa disoroti sebagai kontribusi.
Pelaksanaan Prota Al-Qur’an Hadis kelas 8 MTs fase D kurikulum merdeka di lapangan mungkin menghadapi berbagai tantangan, seperti terbatasnya waktu, perbedaan kemampuan baca Al-Qur’an di antara siswa, atau kurangnya sarana penunjang. Beberapa strategi untuk mengatasinya adalah:
Download Prota Al-Qur’an Hadis kelas 8 fase D kurikulum merdeka selengkapnya klik disini
Prota Al-Qur’an Hadis kelas 8 Madrasah Tsanawiyah (MTs) dalam kurikulum merdeka fase D merupakan alat penting yang mengubah pembelajaran dari sekadar menyampaikan teks menjadi proses penghayatan nilai. Program Tahunan (Prota) ini merupakan wujud kebebasan guru untuk merancang materi yang kontekstual, mendalam, dan berarti bagi kehidupan siswa. Penyusunan Prota kurikulum merdeka yang teliti, dengan memperhatikan prinsip berorientasi pada siswa, relevansi, dan fleksibilitas, akan membuat pelajaran Al-Qur’an Hadis bukan sekadar beban hafalan, melainkan sebagai sumber inspirasi dan pencerahan yang bisa menerangi langkah generasi muda muslim di tengah kompleksitas zaman. Dengan Prota kelas 8 yang aktif dan dinamis, guru Al-Qur’an Hadis mampu menjalankan perannya sebagai murabbi (pendidik) yang mengarahkan siswa untuk mencintai, memahami, dan menerapkan petunjuk Ilahi dalam kehidupan sehari-hari.