Kurikulum merdeka telah merombak cara pandang terhadap penilaian dalam pendidikan. Para guru kini tidak hanya berfokus pada angka semata. Mereka lebih memperhatikan kompetensi yang dimiliki murid. Salah satu perangkat ajar yang penting dalam hal ini adalah KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran).

Perangkat ajar tersebut menggantikan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ada sebelumnya. Perbedaannya sangat jelas dan mendasar. KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 9 Madrasah Tsanawiyah (MTs) fase D kurikulum merdeka menawarkan fleksibilitas dan konteks yang lebih baik. Para guru bisa menetapkan sasaran pembelajaran yang lebih bermakna.
Pertama, KKTP kurikulum merdeka memberikan petunjuk yang jelas. Guru dan murid mengetahui target yang ingin dicapai. Kedua, mendukung aktivitas pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. Setiap murid mempunyai kecepatan belajar yang berbeda-beda. Ketiga, mengurangi tekanan dari pencapaian nilai yang kaku. Murid tidak hanya berfokus pada angka minimal. Mereka berupaya untuk menguasai kompetensi secara utuh.
Keempat, mempermudah dalam mengidentifikasi keperluan remedial. Para guru bisa melihat hasil pembelajaran secara bertahap. Kelima, sejalan dengan prinsip kurikulum merdeka. Kurikulum ini menekankan pembelajaran yang bebas dan berfokus pada murid. Oleh karena itu, KKTP kurikulum merdeka menjadi dasar penilaian yang lebih manusiawi.
Sebelum membuat Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran, guru perlu memahami komponen yang ada di dalamnya. Terdapat tiga komponen utama dalam KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 9 Madrasah Tsanawiyah fase D kurikulum merdeka. Pertama, kompetensi yang ingin dicapai. Kedua, indikator untuk mengukur ketercapaian. Ketiga, rentang kriteria dari berkembang sampai mahir. Komponen pertama mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP). Yang kedua menjabarkan tujuan pembelajaran.
Komponen ketiga menggunakan deskripsi kualitatif. Contohnya, “membaca Q. S. Al-Hujurat dengan baik”. Deskripsi tersebut mencakup tingkat ketepatan tajwid serta kelancaran dan makhraj huruf. Selanjutnya, guru menentukan metode penilaian. Apakah dengan menggunakan tes tertulis? Atau dengan presentasi lisan? Bisa juga melalui portofolio atau observasi. Semua disesuaikan dengan karakter materi Al-Qur’an Hadis kelas 9 MTs.
Capaian Pembelajaran (CP) Al-Qur’an Hadis kelas 9 Madrasah Tsanawiyah fase D sudah ditentukan. Fase D mencakup kelas 7, 8, dan 9. Al-Qur’an Hadis terdiri dari beberapa elemen utama. Elemen pertama adalah membaca dan memahami Al-Qur’an. Yang kedua adalah memahami hadis-hadis terpilih. Elemen ketiga adalah menerapkan nilai-nilai dari Al-Qur’an. Elemen keempat adalah menulis ayat-ayat pendek. Di kelas 9, materi yang dipelajari lebih rumit. Murid belajar tentang surah Al-Hujurat ayat 10-13.
Mereka juga mempelajari hadis yang berkaitan dengan persaudaraan. Selain itu, ada materi mengenai etika dalam berkomunikasi. KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 9 fase D kurikulum merdeka harus mencakup semua pencapaian tersebut. Caranya adalah dengan memecah CP menjadi TP (Tujuan Pembelajaran). Setiap TP kemudian disertai kriteria pencapaian.
Langkah pertama adalah menganalisis CP. Guru membaca CP Al-Qur’an Hadis kelas 9 MTs fase D. Selanjutnya, guru memetakan CP untuk kelas 9. Langkah kedua, merumuskan Tujuan Pembelajaran (TP). Satu TP biasanya berisi satu capaian pembelajaran. Contoh TP: “Murid dapat membaca Q. S. Al-Hujurat ayat 10 dengan tartil.” TP tersebut jelas dan mudah diukur.
Langkah ketiga, menetapkan indikator pencapaian. Indikator menjadi bukti bahwa TP telah tercapai. Untuk TP membaca tartil, indikatornya seperti: (1) melafalkan makhraj huruf dengan benar, (2) menerapkan hukum tajwid nun sukun dan mim sukun, (3) membaca dengan lancar tanpa terputus. Setelah itu, langkah keempat adalah mendeskripsikan kriteria. Ada tiga tingkat: berkembang (belum tuntas), sesuai harapan (tuntas), dan sangat berkembang/mahir (tuntas dengan keunggulan). Setiap tingkat mempunyai deskripsi perilaku yang konkret.
Setelah menetapkan KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 9 MTs fase D kurikulum merdeka, guru mulai mengimplementasikannya dalam asesmen. Asesmen formatif dilakukan selama berlangsungnya pembelajaran. Contohnya, guru mengamati cara murid dalam membaca Al-Qur’an. Guru memanfaatkan daftar cek berdasarkan indikator yang telah ditentukan.
Setelah itu, guru memberikan umpan balik secara langsung. “Kamu sudah lancar, tetapi perhatikan mad wajib.” Umpan balik tersebut merujuk pada Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran. Asesmen sumatif dilakukan pada akhir sebuah bab. Misalnya, ada ujian praktik untuk membaca surah.
Guru membuat rubrik penilaian berdasarkan KKTP kelas 9. Rubrik tersebut berisi uraian untuk setiap level. Guru tidak hanya memberikan nilai angka. Guru juga menyertakan komentar kualitatif. Dengan cara tersebut, asesmen menjadi lebih berarti. Orang tua juga akan lebih mudah memahami prestasi anak. Mereka tidak menanyakan “dapat nilai berapa?” tetapi bertanya “apakah sudah mahir atau sesuai harapan?”
Tentu saja ada berbagai tantangan saat menerapkan KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 9 MTs fase D kurikulum merdeka. Pertama, guru sudah terbiasa dengan angka KKM. Perubahan pola pikir ini membutuhkan waktu. Untuk solusinya, sebaiknya diadakan pelatihan dan pendampingan. Kedua, merumuskan deskripsi kriteria bisa menjadi cukup rumit. Solusinya, bisa menggunakan contoh yang sudah disediakan oleh Kementerian Agama. Ketiga, penilaian dengan rubrik memerlukan waktu lebih lama. Guru harus mengamati setiap murid secara individu. Sebagai solusi, bisa digunakan asesmen teman sebaya atau penilaian diri.
Keempat, orang tua mungkin belum memahami deskripsi kualitatif. Oleh karena itu, penting untuk mensosialisasikan KKTP kurikulum merdeka dalam pertemuan wali murid. Kelima, dalam Al-Qur’an Hadis kelas 9 MTs, aspek tilawah bersifat subjektif. Solusinya, buat rekaman suara standar sebagai referensi. Dengan demikian, tantangan bisa diatasi secara bertahap. Guru di Madrasah Tsanawiyah sudah mulai beradaptasi. Hasilnya, aktivitas pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan tidak menegangkan.
Kurikulum merdeka juga mendukung pembelajaran yang berdiferensiasi. KKTP kelas 9 berfungsi sebagai alat yang sangat sesuai untuk tujuan ini. Hal ini karena perangkat ini mempunyai rentang kriteria yang memungkinkan. Guru bisa menyesuaikan capaian minimum untuk masing-masing murid. Misalnya, murid yang mengalami kesulitan membaca bisa diberikan target yang lebih rendah di awal. Target tersebut bisa ditingkatkan secara bertahap.
Sementara itu, untuk murid yang berbakat dalam tajwid, guru bisa menetapkan target mahir. Mereka mudah diberi tantangan untuk menghafal ayat. KKTP kelas 9 memberikan fleksibilitas tanpa perlu mengubah CP. Guru hanya perlu memodifikasi deskripsi dari kriteria yang ada. Pembelajaran berdiferensiasi menjadi lebih terukur. Setiap murid akan merasa dihargai atas kemampuannya. Hal ini sejalan dengan semangat Al-Qur’an. Allah menciptakan manusia dengan beragam kemampuan. Oleh karena itu, KKTP kurikulum merdeka merupakan instrumen yang adil.
Download KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 9 fase D kurikulum merdeka selengkapnya klik disini
Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) adalah aspek baru dalam penilaian. KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 9 Madrasah Tsanawiyah fase D kurikulum merdeka sangat membantu untuk guru. Guru mudah menilai kemampuan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.
Dengan demikian, mari kita terapkan KKTP kurikulum merdeka secara konsisten. Para guru Al-Qur’an Hadis di Madrasah Tsanawiyah harus menjadi pelopor dalam hal ini. Mereka mengajarkan kitab suci yang penuh hikmah. Penilaian yang menyejukkan juga diperlukan. KKTP kelas 9 adalah wujud dari penilaian yang membawa rahmat tersebut. Semoga generasi yang Qur’ani lahir dari proses yang merdeka. Wallahu a’lam.