Kurikulum merdeka menghadirkan transformasi besar dalam bidang pendidikan. Salah satu unsur yang sangat penting adalah Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). ATP Seni Rupa kelas 10 SMA/MA fase E kurikulum merdeka berfungsi sebagai panduan untuk guru dalam proses mengajar.

Alur Tujuan Pembelajaran terdiri dari beberapa komponen. Pertama adalah tujuan pembelajaran itu sendiri, yang diambil dari capaian pembelajaran (CP). Tujuan tersebut harus dibuat dengan cara yang jelas dan mudah diukur. Misalnya, “Murid dapat menggambar bentuk geometris.” Bukan hanya “Murid mengerti menggambar.” Perbedaan ini sangat penting bagi pengajar. Mereka mudah menilai dengan lebih mudah sejauh mana murid telah mencapai.
Komponen kedua adalah urutan waktu pembelajaran. ATP Seni Rupa kelas 10 SMA/MA fase E kurikulum merdeka menunjukkan langkah-langkah aktivitas dari awal hingga akhir. Urutan ini dibuat berdasarkan tingkat kesulitan materi yang diajarkan. Materi yang lebih mudah diajarkan terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan materi yang lebih kompleks. Transisi antar tujuan harus dilakukan dengan lancar. Murid tidak merasa seperti melompat-lompat saat belajar.
Komponen ketiga adalah aspek penilaian. Setiap tujuan pembelajaran membutuhkan metode penilaian yang sesuai. Metode ini bisa berupa ujian atau proyek. Dalam pelajaran Seni Rupa kelas 10 SMA/MA, penilaian melalui portofolio sangat relevan. Murid akan mengumpulkan karya mereka sepanjang semester, dan guru akan menilai perkembangan mereka secara berkala. Selain itu, penilaian juga bisa dilakukan melalui diskusi, di mana murid mempresentasikan ide karyanya di depan kelas.
Komponen keempat adalah refleksi dan perbaikan. ATP kurikulum merdeka bukanlah dokumen yang statis. Guru perlu menilai efektivitas dokumen setiap tahun. Apakah murid berhasil mencapai semua tujuan yang ditetapkan? Jika tidak, elemen mana yang perlu ditingkatkan? Proses refleksi tersebut sangat krusial untuk kualitas dokumen yang terus berkembang.
Bagaimana cara pembuatan ATP kurikulum merdeka yang baik oleh guru? Pertama, guru harus memahami Capaian Pembelajaran (CP), yaitu target akhir dari fase pembelajaran. Selanjutnya, guru harus memecah CP menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik. Pemecahan tersebut memerlukan analisis yang mendalam, dan guru perlu mengetahui urutan konsep yang tepat.
Kedua, libatkan murid dalam proses perencanaan. Ini mungkin jarang dilakukan, tetapi sangat bermanfaat. Tanyakan kepada murid tentang topik yang mereka minati. Sesuaikan alur pembelajaran dengan minat mereka. Dengan cara ini, motivasi murid untuk belajar akan meningkat, dan mereka merasa lebih bertanggung jawab terhadap aktivitas pembelajaran mereka.
Ketiga, terapkan prinsip backward design. Dimulai dengan menentukan bukti capaian akhir terlebih dahulu. Misalnya, murid akan menghasilkan portofolio digital. Kemudian, identifikasi aktivitas yang mengarah pada pencapaian tersebut. Setelah itu, barulah buat tujuan pembelajaran untuk setiap harinya. Pendekatan tersebut menjaga supaya semua aktivitas terfokus.
Keempat, buatlah ATP Seni Rupa kelas 10 SMA/MA fase E kurikulum merdeka dengan sifat yang fleksibel. Jangan terlalu ketat dalam membuat jadwal. Berikan ruang untuk penyesuaian. Misalnya, jika tiba-tiba ada tema yang menarik, guru mudah menambahkannya. Atau jika murid membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahami, guru bisa mengulangi materi. Fleksibilitas merupakan kunci dari kurikulum merdeka.
Kelima, lakukan kolaborasi dengan guru seni lainnya. Jika ada beberapa guru seni rupa di sekolah, mereka sebaiknya membuat ATP kelas 10 SMA/MA secara bersama-sama. Ini memungkinkan mereka untuk berbagi pengalaman dan sumber daya. Selain itu, kolaborasi di antara berbagai mata pelajaran juga sangat bermanfaat. Seni rupa bisa dihubungkan dengan sejarah atau ilmu pengetahuan. Misalnya, menggambar flora dalam konteks biologi.
Setelah Alur Tujuan Pembelajaran disusun, langkah selanjutnya adalah menerapkannya. Guru perlu mengubah ATP Seni Rupa kelas 10 fase E kurikulum merdeka menjadi rencana pembelajaran. Rencana ini lebih terperinci untuk setiap pertemuan. Namun, jangan terikat sepenuhnya pada rencana tersebut. Amati terus respons murid. Jika perlu, sesuaikan strategi di tengah pelaksanaan.
Pada fase E yang pertama, mungkin murid masih merasa terkejut. Mereka sudah terbiasa dengan cara belajar yang terencana. Sekarang, mereka diminta untuk lebih mandiri. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk mengatur transisi ini dengan hati-hati. Mulailah dengan tugas-tugas yang mudah. Berikan instruksi yang sangat jelas. Selanjutnya, secara perlahan kurangi dukungan. Biarkan murid mencari cara mereka sendiri.
Satu tantangan yang dihadapi adalah penilaian yang autentik. Menilai seni rupa hanya dengan angka saja sulit dilakukan. Suatu karya yang dianggap indah oleh seseorang, mungkin tidak sama bagi orang lain. Oleh sebab itu, gunakan rubrik penilaian yang jelas. Rubrik tersebut harus mencakup kriteria teknis dan kreativitas. Murid juga dapat melakukan penilaian diri. Penilaian antar teman juga bisa diterapkan.