Kurikulum merdeka muncul untuk memberikan warna baru bagi sistem pendidikan. Pendekatan tersebut menyoroti pentingnya pembelajaran yang memberikan makna. Para guru diberikan kebebasan untuk mengembangkan metode penilaian. Salah satu dokumen krusial adalah KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran). KKTP kurikulum merdeka berfungsi sebagai ukuran keberhasilan belajar murid.

KKTP Fikih kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah (MI) fase A kurikulum merdeka harus terdefinisi dengan baik. Mengapa hal tersebut penting? Karena pada usia dini, anak-anak belajar dasar-dasar ibadah. Mereka memerlukan panduan yang sesuai.
Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran merupakan standar penilaian yang diterapkan oleh guru untuk menilai pencapaian murid, yang dibuat berdasarkan tujuan dari Capaian Pembelajaran (CP) Fikih kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah fase A yang ditetapkan oleh Kementerian Agama. Dokumen ini bersifat adaptif dan kontekstual, memberikan ruang bagi setiap madrasah untuk menyesuaikan, namun tetap mengacu pada standar nasional.
Berbeda dengan KKM, dokumen tersebut menyajikan deskripsi kualitatif yang lebih edukatif. KKTP kurikulum merdeka berfungsi sebagai acuan penilaian, memberikan umpan balik kepada murid, mengevaluasi aktivitas pembelajaran, menjadi dokumen akuntabilitas, dan sebagai pedoman untuk memperbaiki metode pengajaran. Guru Fikih kelas 1 di Madrasah Ibtidaiyah diharuskan memahami karakteristik anak-anak usia dini, dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan indikator yang jelas.
Pembuatan KKTP Fikih kelas 1 MI fase A kurikulum merdeka harus mengikuti beberapa prinsip dasar. Prinsip pertama adalah fokus pada murid, mencerminkan kebutuhan belajar mereka. Yang kedua adalah terukur dan objektif, melalui pengamatan perilaku murid. Ketiga adalah sesuai dengan materi yang sesuai dengan kemampuan murid. Keempat adalah memberikan arahan bagi murid untuk belajar. Prinsip kelima adalah berkelanjutan, dengan penilaian yang dilakukan secara terus-menerus.
Prinsip keenam adalah transparan, sehingga murid dan orang tua memahami penggunaan KKTP kelas 1. Yang ketujuh adalah holistik, mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dalam Fikih kelas 1 MI fase A, materi mencakup bersuci, sholat, dan doa sehari-hari. Guru mengklasifikasikan tingkat pencapaian ke dalam dua kategori: sesuai harapan dan belum sesuai harapan.
Tahap awal dalam membuat Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran adalah menganalisis Capaian Pembelajaran (CP). CP Fikih kelas 1 MI fase A menyatakan: “Murid mengenal rukun Islam, rukun iman, dan mampu melaksanakan bersuci serta sholat fardu dengan bimbingan.” Dari CP ini, tujuan pembelajaran diturunkan. Setiap tujuan pembelajaran harus disertai KKTP kelas 1. Tahap kedua adalah menetapkan indikator. Indikator merupakan perilaku yang dapat diamati. Contoh indikator termasuk “menyebutkan”, “mempraktikkan”, “mencontohkan”, “membedakan”. Hindari indikator yang bersifat abstrak seperti “memahami”, karena sulit diukur secara langsung. Gunakan kata kerja operasional sesuai dengan taksonomi Bloom. Untuk fase A, kata kerja level C1 (mengingat) dan C2 (memahami) sudah cukup. Misalnya: menyebutkan, menirukan, menunjukkan, dan mengidentifikasi.
Tahap ketiga adalah menulis deskripsi kriteria. Deskripsi harus bersifat positif dan memotivasi. Contoh: “Murid dapat menyebutkan 3 rukun Islam.” Bukan “Murid tidak salah menyebut rukun Islam.” Hindari penggunaan kalimat negatif. Yang keempat adalah menentukan rentang pencapaian. Rentang bisa berupa frekuensi, akurasi, atau kualitas. Untuk Fikih kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah, akurasi 75% sudah dianggap baik. Frekuensi misalnya “3 kali berturut-turut”. Kualitas misalnya “bacaan terdengar jelas oleh guru”. Tahap kelima adalah menguji. Lakukan percobaan di kelas dengan beberapa murid. Apakah kriteria tersebut mudah diamati?, apakah murid mudah mencapainya? Jika terlalu sulit, turunkan standar. Jika terlalu mudah, tingkatkan. Tahap keenam adalah merevisi. Revisi harus dilakukan secara berkala setiap semester. Proses tersebut menjamin KKTP kelas 1 tetap relevan.
Setelah KKTP Fikih kelas 1 MI fase A kurikulum merdeka dibuat, guru perlu mengimplementasikannya. Pertama, jelaskan dokumen ini kepada para murid. Gunakan bahasa yang sangat sederhana. Sampaikan, “Kamu sukses jika bisa menyebutkan 4 rukun wudhu.” Tempelkan poster dokumen di dinding kelas. Orang tua juga harus diberi informasi. Kirimkan pemberitahuan lewat grup WhatsApp. Atau bisa juga tempelkan di buku penghubung.
Dengan cara tersebut, semua pihak mempunyai visi yang sama. Kedua, sambungkan KKTP kelas 1 dalam setiap aktivitas. Saat mengajarkan wudhu, guru langsung melakukan penilaian. Gunakan ceklis sederhana sambil mengamati. Catat hasilnya tanpa memberikan tekanan kepada murid. Ketiga, berikan umpan balik secara langsung. Ucapkan, “Wah, kamu sudah mahir membasuh muka dengan urut.” Atau, “Coba ingat lagi, rukun wudhu yang keempat itu apa?” Umpan balik ini bisa meningkatkan motivasi murid.
Keempat, terapkan berbagai metode asesmen. Asesmen tidak selalu berupa tes tertulis. Untuk Fikih kelas 1 MI, asesmen praktik sangat sesuai. Murid melakukan wudhu di depan kelas. Murid lainnya mengamati dan memberikan tepuk tangan. Guru juga bisa menerapkan asesmen lisan. Tanyakan dengan singkat sebelum murid pulang. Atau buat asesmen produk dengan membuat kartu doa.
Setiap metode menghasilkan data yang mudah diandalkan. Kelima, catat pencapaian murid. Buatlah portofolio yang sederhana. Portofolio itu berisi foto, catatan anekdot, dan karya murid. Orang tua senang melihat portofolio anak mereka. Keenam, lakukan refleksi bersama. Tanyakan kepada murid, “Apa yang sudah kalian kuasai?” Diskusikan masalah yang dihadapi. Refleksi membantu murid menyadari aktivitas pembelajaran mereka.
KKTP Fikih kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah fase A kurikulum merdeka memberikan banyak manfaat untuk guru dan murid. Bagi guru, untuk mempermudah dalam menilai dan mengevaluasi metode pengajaran. Kriteria penilaian menjadi jelas, sehingga guru tidak bingung dalam menentukan kelulusan. Murid mendapatkan kepastian tentang kompetensi yang harus dikuasai dan merasa lebih percaya diri.
KKTP kelas 1 mengarahkan pembelajaran yang menuntaskan, dengan remedial yang menyenangkan, seperti bermain peran atau membuat video pendek. Setelah remedial, murid diuji kembali dan jika memenuhi kriteria, dinyatakan tuntas. Rapor menjadi lebih jelas, dengan deskripsi capaian kompetensi yang membantu orang tua dalam mendukung pembelajaran di rumah.
Dalam pelaksanaannya pasti menghadapi beberapa tantangan. Pertama, guru harus beradaptasi dari sistem penilaian angka ke deskripsi, yang memerlukan pelatihan intensif dan kerja sama dalam pembuatan KKTP Fikih kelas 1 fase A kurikulum merdeka. Kedua, waktu guru yang terbatas membuat kolaborasi antar guru dan penggunaan platform Merdeka Mengajar untuk berbagi perangkat ajar menjadi sangat penting. Ketiga, orang tua belum memahami dan masih menginginkan nilai angka; sosialisasi yang rutin diperlukan untuk menjelaskan manfaatnya.
Keempat, murid yang berada dalam fase A cenderung cepat bosan, sehingga variasi metode seperti permainan dan lagu sangat penting. Kelima, jumlah murid yang banyak di setiap kelas memerlukan asesmen dalam kelompok kecil. Keenam, keterbatasan fasilitas mengarahkan kreativitas dalam pelaksanaan KKTP kurikulum merdeka.
Download KKTP Fikih kelas 1 fase A kurikulum merdeka selengkapnya klik disini
Kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP) adalah inti dari asesmen dalam kurikulum merdeka. KKTP Fikih kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah fase A harus dibuat dengan sangat hati-hati. Mari kita wujudkan pembelajaran Fikih yang bermakna. Dengan KKTP kurikulum merdeka, setiap anak mudah mencapai tujuannya. Selamat berkarya untuk pendidikan di Indonesia.