Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) berfungsi untuk membantu guru dalam menilai pencapaian murid. KKTP kurikulum merdeka menggantikan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan mengarahkan perubahan cara pandang dalam asesmen yang dilakukan oleh guru.

KKTP Seni Rupa kelas 10 SMA/MA fase E kurikulum merdeka mempunyai peranan penting dalam mendukung proses kreatif. Murid dikembangkan untuk mampu mengamati, bereksplorasi, mencipta, merefleksikan, dan mempresentasikan karya seni dengan indikator yang jelas dan terukur.
Pembuatan KKTP Seni Rupa kelas 10 SMA/MA fase E kurikulum merdeka memerlukan perencanaan yang sistematis untuk mendukung pembelajaran. Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) harus terhubung dengan Capaian Pembelajaran, Alur Tujuan Pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan asesmen.
Oleh karena itu, guru perlu memahami setiap tahapan pembuatan untuk menetapkan kriteria yang objektif dan terukur. Penilaian dalam Seni Rupa kelas 10 SMA/MA harus mempertimbangkan aspek kreativitas, kemampuan berpikir artistik, dan kegiatan pembelajaran.
Langkah pertama dalam membuat KKTP kurikulum merdeka adalah menganalisis Capaian Pembelajaran (CP) Seni Rupa kelas 10 SMA/MA fase E. Guru perlu mempelajari setiap elemen dalam CP supaya bisa memahami kompetensi yang harus dikuasai oleh murid pada akhir fase pembelajaran. Analisis tersebut menjadi dasar dalam menentukan arah pembelajaran selama satu fase atau satu tahun ajaran.
Guru juga harus mengidentifikasi kemampuan utama yang perlu dikembangkan, seperti kemampuan mengamati, mengeksplorasi ide, membuat karya, melakukan refleksi, dan mengapresiasi karya seni. Melalui analisis yang mendalam, guru bisa membuat tujuan pembelajaran yang lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan murid. Tahap tersebut merupakan fondasi utama karena seluruh komponen KKTP Seni Rupa kelas 10 fase E kurikulum merdeka akan merujuk pada kompetensi yang telah ditetapkan dalam CP.
Setelah memahami CP, guru membuat Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) sebagai petunjuk dalam pelaksanaan pembelajaran. ATP menggambarkan urutan kompetensi yang perlu dipelajari oleh murid, mulai dari materi yang paling sederhana hingga yang lebih kompleks. Pembuatan ATP membantu guru dalam mengorganisasi kegiatan belajar secara sistematis, sehingga murid bisa memperoleh pengalaman pembelajaran yang berkesinambungan.
Dalam mata pelajaran Seni Rupa kelas 10 SMA/MA, ATP dapat mencakup urutan pembelajaran mengenai unsur seni rupa, prinsip desain, teknik berkarya, eksplorasi media, hingga penyajian karya. Urutan yang logis akan mempermudah murid dalam memahami setiap konsep sebelum memasuki materi berikutnya. Dengan ATP yang tersusun baik, guru juga lebih mudah dalam menentukan tujuan pembelajaran yang akan digunakan sebagai dasar dalam pembuatan KKTP Seni Rupa kelas 10 fase E kurikulum merdeka.
Langkah selanjutnya adalah merumuskan Tujuan Pembelajaran (TP) yang spesifik, jelas, dan terukur. Tujuan pembelajaran harus mencerminkan kemampuan yang diharapkan dimiliki oleh murid setelah mengikuti kegiatan belajar. Guru sebaiknya menggunakan kata kerja operasional yang mudah diamati, seperti mengidentifikasi, menganalisis, menjelaskan, mendesain, membuat, mempresentasikan, atau mengevaluasi.
Rumusan tujuan pembelajaran yang baik akan mempermudah guru dalam menentukan indikator keberhasilan. Sebaliknya, tujuan-tujuan yang terlalu umum akan menyulitkan proses penilaian karena tidak menunjukkan kemampuan yang ingin dicapai dengan jelas. Oleh karena itu, setiap tujuan pembelajaran perlu dibuat sesuai dengan karakteristik materi Seni Rupa kelas 10 SMA/MA dan mempertimbangkan tingkat perkembangan murid.
Setelah tujuan pembelajaran dirumuskan, langkah berikutnya adalah menentukan indikator ketercapaian yang sesuai. Indikator tersebut berfungsi sebagai tolok ukur untuk melihat sejauh mana murid telah mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Indikator ketercapaian harus jelas dan terukur supaya bisa memberikan arahan yang tepat dalam proses penilaian.
Misalnya, jika tujuan pembelajaran adalah supaya murid bisa membuat karya ilustrasi, indikator yang digunakan bisa mencakup kemampuan membuat komposisi visual, memilih warna yang tepat, menerapkan prinsip keseimbangan, dan menjelaskan makna dari karya yang dihasilkan.
Indikator yang spesifik akan membantu guru dalam melakukan penilaian secara objektif, karena setiap aspek mempunyai ukuran yang jelas. Selain itu, hal ini juga membolehkan murid untuk memahami kompetensi yang harus mereka capai, sehingga kegiatan pembelajaran menjadi lebih terarah.