Program Tahunan (Prota) SKI kelas 10 fase E mempunyai beberapa komponen penting untuk mengatur pembelajaran selama satu tahun. Guru harus membuat bagian-bagian secara teratur dan saling terkait.

Prota kurikulum merdeka yang baik menunjukkan hubungan antara tujuan pembelajaran dan alokasi waktu. Komponennya membantu guru merencanakan materi semester, menyesuaikan dengan kalender pendidikan, dan menjaga konsistensi perangkat pembelajaran. Ini menjadi dasar penting dalam pelaksanaan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Aliyah (MA).
Komponen pertama dalam Prota kurikulum merdeka adalah identitas satuan pendidikan yang memberikan informasi mengenai madrasah. Guru perlu mencantumkan nama Madrasah Aliyah, mata pelajaran (Sejarah Kebudayaan Islam), kelas (X), fase (E), dan tahun pelajaran supaya dokumen jelas dan mudah dikenali. Penulisan identitas harus lengkap dan konsisten untuk mempermudah pengarsipan administrasi. Guru juga bisa mencantumkan nama pembuatnya sesuai format madrasah. Setelah identitas, guru melanjutkan pembuatan substansi yang menjelaskan materi dan waktu pembelajaran. Identitas berfungsi sebagai pengenal dokumen yang penting untuk administrasi yang rapi dalam evaluasi dan revisi.
Capaian Pembelajaran (CP) penting untuk membuat Prota SKI kelas 10 MA fase E kurikulum merdeka. Guru harus memahami CP sebelum memilih materi pembelajaran, karena CP mencerminkan kompetensi yang harus dicapai murid. Program Tahunan tidak boleh hanya berdasarkan daftar materi; materi harus mendukung CP. Setelah memahami CP, guru mudah merencanakan tujuan pembelajaran secara bertahap, membantu menentukan arah pembelajaran selama setahun dan memilih materi yang relevan. CP juga membantu mendalami tingkat pembelajaran, apakah membutuhkan analisis atau hanya pemahaman. Guru harus mencerminkan perbedaan tersebut dalam perencanaan tahunan dan menggunakan CP dalam evaluasi. Dengan ini, CP Fase E Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) berfungsi sebagai petunjuk utama dalam Prota kelas 10.
Setelah memahami CP, guru harus memetakan Tujuan Pembelajaran (TP) yang menjelaskan kemampuan yang harus dikuasai murid. Guru membuat TP berdasarkan analisis CP dan mengurutkannya sesuai alur pembelajaran yang logis. Tujuan tidak boleh terlalu luas atau terlalu sempit supaya memudahkan penentuan asesmen. Hubungan TP dengan materi pembelajaran menjadi dasar pembagian waktu dalam Prota SKI kelas 10 fase E kurikulum merdeka, dengan waktu lebih panjang untuk tujuan kompleks dan lebih singkat untuk tujuan sederhana. Tujuan pembelajaran juga berguna untuk refleksi guru terhadap pencapaian dan penguatan yang diperlukan, membuat pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) lebih terarah dan bermakna.
Komponen berikutnya ialah materi pembelajaran SKI kelas 10 Madrasah Aliyah. Guru perlu memilih materi yang mendukung tujuan pembelajaran. Materi juga harus sesuai dengan capaian pembelajaran pada fase E. Guru mudah mengelompokkan materi berdasarkan tema, periode, tokoh, atau perkembangan peradaban. Pengelompokan tersebut membantu guru membuat alur pembelajaran secara sistematis. Materi sejarah juga perlu disajikan dengan mempertimbangkan hubungan sebab dan akibat. Murid tidak hanya menghafal fakta sejarah. Mereka perlu memahami mengapa sebuah peristiwa terjadi. Mereka juga perlu memahami dampak peristiwa tersebut terhadap perkembangan masyarakat. Karena itu, guru perlu memberikan ruang untuk pembelajaran analitis.
Materi SKI kelas 10 Madrasah Aliyah bisa disertai sumber sejarah, peta, gambar, timeline, atau media digital. Penggunaan sumber tersebut mudah membuat pembelajaran menjadi lebih menarik. Guru juga perlu menyesuaikan materi dengan kemampuan murid. Jangan memberikan terlalu banyak informasi dalam satu periode pembelajaran. Materi yang terlalu padat bisa mengurangi kesempatan murid melakukan analisis. Sebaliknya, materi yang terlalu sedikit bisa mengurangi kedalaman pembelajaran. Guru perlu menemukan keseimbangan antara keluasan dan kedalaman materi. Dengan begitu, Prota SKI kelas 10 fase E kurikulum merdeka mudah memberikan gambaran pembelajaran yang realistis.