Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti di tingkat dasar, khususnya pada kelas 1 fase A, mempunyai peranan yang sangat penting. Ini bukan hanya tentang mengenal huruf hijaiyah atau menghafal doa, tetapi juga suatu proses penanaman nilai-nilai spiritual dan karakter yang baik sejak dini.

Dalam konteks kurikulum merdeka, pendekatan ini mendapatkan ruang yang lebih luas dan relevan. Program Tahunan (Prota) untuk mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti kelas 1 SD fase A berfungsi sebagai panduan yang strategis, yang mengarahkan seluruh aktivitas pembelajaran untuk mencapai dimensi profil lulusan dengan dimensi Keimanan, Ketakwaan kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia.
Memahami Konteks: Kurikulum Merdeka dan Fase A
Kurikulum merdeka dibuat dengan tujuan memberikan kebebasan kepada institusi pendidikan dan guru untuk membuat pembelajaran yang sesuai dengan kondisi, kebutuhan, dan karakteristik siswa. Struktur kurikulum dibagi menjadi beberapa fase, di mana kelas 1 dan 2 SD termasuk dalam fase A. Fase ini difokuskan pada pembentukan dasar literasi dan numerasi, dan yang paling penting, penanaman nilai serta sikap yang positif.
Di dalam mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti kelas 1 SD, Fase A menekankan pada:
- Pengenalan yang Menarik: Memperkenalkan konsep ketuhanan, kenabian, dan akhlak melalui pengalaman langsung, cerita, serta aktivitas yang relevan dengan dunia anak.
- Pembiasaan, bukan Hanya Hafalan: Menitikberatkan pada praktik ibadah yang sederhana dan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.
- Integrasi dengan Budi Pekerti: Nilai-nilai agama Islam tidak diajarkan secara terpisah, tetapi diintegrasikan dalam pembentukan budi pekerti seperti kejujuran, sopan santun, disiplin, dan kepedulian.
Prota PAI dan Budi Pekerti Kelas 1: Lebih dari Sekadar Jadwal
Program Tahunan (Prota) adalah rencana pembelajaran untuk mata pelajaran selama satu tahun ajaran yang diuraikan dari Capaian Pembelajaran (CP) fase A. Prota kurikulum merdeka lebih dari sekadar daftar topik; ia adalah kerangka waktu yang menunjukkan alokasi, urutan, dan pendalaman materi supaya CP bisa dicapai dengan baik.
Komponen utama dalam Prota PAI dan Budi Pekerti kelas 1 fase A kurikulum merdeka biasanya meliputi: identitas (satuan pendidikan, kelas, tahun ajaran), alokasi waktu (total jam pelajaran per tahun), dan matriks yang mengatur pembagian materi pokok per semester atau per bulan sesuai dengan elemen CP.
Elemen CP PAI dan Budi Pekerti fase A menjadi dasar dalam penyusunan Prota kelas 1 SD. Elemen-elemen tersebut adalah:
- Al-Qur’an dan Hadis: Memperkenalkan huruf hijaiyah, menghafal surat dan doa pendek dengan tepat, serta memahami pesan moral sederhana dari kisah dalam Al-Qur’an.
- Akidah: Memahami konsep Allah SWT sebagai Pencipta, mencintai Nabi Muhammad SAW, dan mengenal dua kalimat syahadat.
- Akhlak: Membiasakan perilaku baik (jujur, hormat, bersih, disiplin) dan menjauhi perilaku buruk (dusta, malas) dalam aktivitas sehari-hari.
- Fikih: Melaksanakan tata cara bersuci (thaharah) dasar, salat, serta mengetahui makanan yang halal dan haram.
- Sejarah Peradaban Islam: Mengenal secara sederhana kisah teladan Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya.
Menyusun Program Tahunan (Prota) yang Kontekstual dan Bermakna
Penyusunan Prota PAI dan Budi Pekerti kelas 1 SD fase A harus mempertimbangkan prinsip-prinsip kurikulum merdeka:
- Berpusat pada Siswa: Materi dan waktu alokasi disesuaikan dengan perkembangan psikologis anak usia 6-7 tahun yang kongkret, gemar bermain, dan meniru. Prota kelas 1 harus fleksibel supaya bisa menyesuaikan dengan kecepatan belajar siswa.
- Pembelajaran Diferensiasi: Prota kurikulum merdeka memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan penyesuaian terhadap isi, cara, atau hasil pembelajaran. Contohnya, dalam aspek Al-Qur’an, siswa dengan latar belakang kemampuan yang bervariasi bisa diberi tugas yang berbeda: ada yang mulai belajar mengenal huruf, ada yang sudah bisa merangkai, dan ada yang mulai belajar menghafal.
- Menggunakan Lingkungan Sekolah dan Area Sekitarnya: Prota PAI dan Budi Pekerti kelas 1 fase A kurikulum merdeka seharusnya dibuat supaya aktivitas belajar tidak hanya terbatas di dalam kelas. Contoh nyata termasuk kebiasaan melaksanakan shalat berjamaah di mushola sekolah, praktik bersuci di tempat wudhu, atau proyek kecil “Peduli Lingkungan” yang mencerminkan sikap baik terhadap alam.