Program Tahunan atau Prota adalah komponen penting dalam perencanaan pendidikan. Ia dibuat oleh guru sebelum tahun ajaran baru dan memuat alokasi waktu untuk tujuan pembelajaran. Prota kurikulum merdeka juga menjadi acuan untuk program semester dan rencana pelaksanaan pembelajaran.

Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah (MI) fase C menekankan pada pengambilan hikmah dari kisah masa lalu. Murid diarahkan untuk menghubungkan peristiwa sejarah dengan kehidupan kontemporer.
Sebuah Prota kurikulum merdeka yang efektif mengandung beberapa komponen esensial. Komponen pertama adalah identitas madrasah, mata pelajaran (Sejarah Kebudayaan Islam), dan kelas (V). Identitas ini mencantumkan nama Madrasah Ibtidaiyah, tahun pelajaran, dan nama guru pembuat. Kedua adalah capaian pembelajaran dan tujuan pembelajaran. capaian pembelajaran diambil langsung dari yang ditetapkan pemerintah.
Komponen ketiga adalah materi pokok yang akan diajarkan setiap semester. Materi pokok SKI kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah meliputi sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW. Periode Mekkah dan Madinah menjadi fokus utama pembahasan. Selain itu, kisah para sahabat Khulafaurrasyidin juga turut diajarkan.
Komponen keempat adalah alokasi waktu yang terperinci per minggu. Alokasi waktu ini disesuaikan dengan kalender pendidikan dan hari efektif. Terakhir, sumber belajar dan media penunjang. Guru mencantumkan buku teks, modul, dan referensi digital lainnya. Semua komponen tersebut saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan utuh.
Langkah awal membuat Prota kurikulum merdeka adalah menganalisis capaian pembelajaran (CP). CP fase C SKI kelas 5 MI mempunyai tiga elemen utama. Elemen pertama adalah sejarah peradaban Islam klasik. Kedua adalah tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh. Ketiga adalah nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial. Guru harus memetakan ketiga elemen tersebut ke dalam tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran (TP) dirumuskan secara operasional dan terukur. Kemudian, TP tersebut dijabarkan menjadi alur tujuan pembelajaran (ATP). ATP menjadi petunjuk urutan materi yang sistematis.
Misalnya, murid bisa menceritakan peristiwa Hijrah ke Madinah. Murid juga bisa meneladani sikap sabar Nabi Muhammad SAW. Setiap TP harus memperhatikan tingkat perkembangan kognitif murid kelas 5. Murid pada fase ini sudah bisa menganalisis secara sederhana. Mereka bisa membedakan fakta dan opini dalam kisah sejarah. Prota SKI kelas 5 fase C kurikulum merdeka yang baik mencerminkan hasil analisis CP yang mendalam. Hasil analisis tersebut menjadi dasar penentuan durasi dan kedalaman materi.
Alokasi waktu menjadi pertimbangan teknis yang sangat penting dalam Prota SKI kelas 5 MI fase C kurikulum merdeka. Guru menghitung jumlah minggu efektif dalam satu tahun pelajaran. Perhitungan tersebut berdasarkan kalender pendidikan dari Kementerian Agama. Biasanya, satu tahun pelajaran terdiri dari 40 hingga 44 minggu. Namun, beberapa minggu tidak efektif karena libur dan ujian. Guru harus mengurangi minggu tidak efektif tersebut dengan cermat. Misalnya, libur awal puasa dan libur hari raya. Kemudian, ada juga pekan asesmen tengah semester dan akhir semester. Setelah perhitungan, biasanya tersisa sekitar 32-36 minggu efektif.
Jumlah ini dibagi untuk dua semester yang berjalan. Semester ganjil biasanya mempunyai 16 hingga 18 minggu efektif. Semester genap mempunyai durasi yang kurang lebih sama. Prota SKI kelas 5 fase C kurikulum merdeka akan mencantumkan rincian minggu efektif setiap bulan. Guru mengalokasikan waktu untuk setiap tujuan pembelajaran secara proporsional. Materi yang kompleks membutuhkan waktu lebih banyak daripada materi ringan. Distribusi waktu yang adil mencegah ketertinggalan materi di akhir tahun.
Pemetaan tujuan pembelajaran merupakan jantung dari proses pembuatan Prota SKI kelas 5 fase C kurikulum merdeka. Guru mengelompokkan beberapa tujuan pembelajaran yang mempunyai keterkaitan tematik. Pengelompokan ini bertujuan membuat pembelajaran yang holistik dan bermakna. Misalnya, tujuan pembelajaran tentang perjuangan Nabi di Mekkah disatukan dalam satu tema. Tema tersebut bisa berjudul “Keteguhan Hati dalam Menghadapi Cobaan”. Kemudian, tujuan pembelajaran tentang perjanjian Aqabah dan Hijrah disatukan dalam tema berikutnya. Tema kedua bisa berjudul “Strategi Dakwah dan Pembangunan Masyarakat Baru”.
Pemetaan tematik tersebut memudahkan guru SKI kelas 5 MI dalam mendesain proyek penguatan dimensi profil lulusan. Selain itu, guru bisa mengintegrasikan nilai-nilai Panca Cinta (kurikulum berbasis cinta). Setiap tema besar diberikan alokasi waktu selama beberapa minggu. Penentuan durasi didasarkan pada luasnya cakupan materi dan kedalaman analisis. Dengan pemetaan yang jelas, aktivitas belajar menjadi lebih terfokus dan terstruktur. Murid juga merasakan alur cerita yang runtut dari satu peristiwa ke peristiwa lain.