Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Aliyah (MA) memiliki peranan yang signifikan dalam memberikan pemahaman tentang komunitas Muslim serta membentuk karakter dan identitas para murid. Para guru menghadapi tantangan untuk mengubah cara belajar SKI kelas 10 MA dari sekadar menghafal menjadi pengalaman belajar yang lebih mendalam dan relevan. Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan menerapkan pendekatan kurikulum yang terintegrasi dan menyeluruh.

Perangkat ajar KBC SKI kelas 10 Madrasah Aliyah yang mencakup Prota, Promes, CP, ATP, dan KKTP bisa dibuat dengan memadukan dua kerangka utama: Kurikulum Berbasis Cinta yang berlandaskan Panca Cinta dan prinsip Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) yang Mindful, Meaningful, dan Joyful.
Sebelum membahas lebih jauh tentang perangkat ajar KBC SKI kelas 10 Madrasah Aliyah, penting untuk memahami dasar-dasar filosofis yang melandasinya. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang berlandaskan Panca Cinta menekankan pada pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai cinta dalam berbagai aspek: Cinta Allah, meningkatkan kesadaran spiritual dan ibadah; cinta Rasulullah, mencontohkan akhlak dan perjuangannya; cinta ilmu, yang mendorong rasa ingin tahu dan berpikir kritis; cinta sesama dan lingkungan, yang mengembangkan empati dan tanggung jawab sosial; serta cinta tanah air, yang membantu membangun identitas positif dan kontribusi dalam kemajuan.
Deep Learning lebih memfokuskan pada pemahaman yang mendalam dan bukan sekedar mengingat. Ini melibatkan prinsip mindful learning, di mana aktivitas belajar dilakukan dengan perhatian penuh; meaningful learning yang relevan dengan kehidupan sehari-hari; dan joyful learning, yang menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan, mendorong kreativitas, serta kolaborasi.
Penggabungan kedua kerangka ini membentuk pendekatan dalam perangkat ajar kurikulum berbasis cinta (KBC) SKI kelas 10 MA menjadi sebuah proses internalisasi nilai-nilai Panca Cinta melalui pengalaman kognitif dan emosional yang mendalam serta menyenangkan (Deep Learning).
Di bawah ini adalah cara penerapan integrasi tersebut dalam masing-masing komponen perangkat ajar kurikulum berbasis cinta (KBC) SKI kelas 10 Madrasah Aliyah.
Prota dan Promes berfungsi sebagai peta besar untuk perjalanan pembelajaran dalam satu tahun atau satu semester. Integrasi dilakukan dengan memetakan tema kurikulum berbasis cinta yang mengidentifikasi nilai-nilai Panca Cinta dalam setiap semester, seperti pada bab “Khulafaur Rasyidin” yang menekankan Cinta kepada Sesama dan Lingkungan serta Cinta kepada Ilmu Pengetahuan. Penjadwalan mendukung prinsip Deep Learning dengan alokasi waktu untuk materi, proyek, diskusi yang mendalam, kunjungan lapangan, dan pembuatan portofolio yang menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan.
CP adalah kompetensi yang harus diraih oleh murid di akhir fase (dalam hal ini, untuk kelas 10). CP fase E SKI kelas 10 perlu dibuat dengan menyertakan dimensi Panca Cinta dan kemampuan Deep Learning.
Contoh CP Terintegrasi: “Setelah menyelesaikan fase E, murid bisa menganalisis (pembelajaran bermakna) kebijakan politik, sosial, dan ekonomi pada masa Khulafaur Rasyidin dan merefleksikan (pembelajaran sadar) nilai-nilai kepemimpinan yang adil (Cinta kepada Sesama) serta teladan dalam menjaga persatuan umat (Cinta kepada Rasul) yang relevan dengan konteks kebangsaan saat ini, kemudian membagikannya dalam bentuk simulasi drama atau video kreatif (pembelajaran menyenangkan).”
ATP adalah serangkaian tujuan pembelajaran yang dibuat secara teratur dan logis untuk mencapai CP. Setiap tujuan pembelajaran dalam ATP bisa dimanfaatkan sebagai tempat ideal untuk merinci integrasi.
Membuat tujuan pembelajaran yang komprehensif berarti menambah dimensi pada materi yang diberikan. Sebagai contoh, tujuan pembelajaran tidak hanya supaya murid memahami ekspansi wilayah Islam, tetapi juga supaya mereka bisa menjelaskan cara-cara perluasan wilayah tersebut pada masa Umar bin Khattab, berdiskusi tentang prinsip-prinsip keadilan dalam pemerintahan, mengaitkannya dengan ide negara modern, dan membuat infografis mengenai peta ekspansi itu secara kolaboratif.
Modul ajar KBC SKI kelas 10 MA adalah pelaksanaan praktis dari ATP. Di sini, pengintegrasian benar-benar terwujud dalam aktivitas pembelajaran.
KKTP adalah indikator yang jelas menunjukkan seberapa jauh murid menguasai materi. KKTP perlu mencerminkan dimensi yang telah diintegrasikan.
Contoh KKTP SKI Kelas 10 Madrasah Aliyah untuk tujuan pembelajaran “Menganalisis Kebijakan Ekonomi Masa Khulafaur Rasyidin” mempunyai beberapa jenjang penilaian. Kategori ‘Baik Sekali’ menunjukkan kemampuan menganalisis kebijakan ekonomi dengan data yang benar, menghubungkannya dengan konteks saat ini secara kritis, dan melakukan refleksi nilai serta keteladanan secara mendalam sambil menyajikannya secara kreatif. Kategori ‘Baik’ menunjukkan kemampuan yang cukup bagus dalam analisis dan keterhubungan dengan konteks sekarang, serta pemahaman nilai yang memadai. Kategori ‘Cukup’ mencakup kemampuan untuk mendeskripsikan kebijakan ekonomi secara umum dengan analisis yang sedikit. Kategori ‘Perlu Bimbingan’ menunjukkan kesulitan dalam menjelaskan dan memahami inti dari kebijakan ekonomi yang dilaksanakan.
Integrasi ini ke dalam perangkat ajar KBC SKI kelas 10 MA tentu menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah peningkatan beban kerja guru dalam perancangan, kebutuhan akan pelatihan, dan penilaian yang lebih rumit. Beberapa strategi yang bisa dilakukan:
Silahkan download perangkat ajar KBC SKI kelas 10 MA klik disini
Merancang perangkat ajar kurikulum berbasis cinta (KBC) SKI kelas 10 Madrasah Aliyah dengan nilai-nilai Panca Cinta dan prinsip Deep Learning (Mindful, Meaningful, Joyful Learning) merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang bisa mengembangkan aspek intelektual, emosional, dan keterampilan hidup murid. Dengan berbagai perangkat ajar KBC kelas 10, pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam diubah menjadi sebuah pengalaman yang lebih hidup. Para murid tidak hanya belajar mengenai Umar bin Khattab, tetapi juga memikirkan makna keadilan dan cara mencegah perundungan di sekolah. Dengan demikian, diharapkan integrasi tersebut mampu melahirkan generasi yang cerdas, terampil, dan mempunyai karakter cinta untuk membangun peradaban Islam yang lebih baik.