Orang tua berfungsi sebagai mitra bagi guru. Mereka perlu memahami KKTP Fikih kelas 2 fase A kurikulum merdeka yang diterapkan. Guru bisa menginformasikan ringkasan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) melalui buku penghubung. Orang tua bisa memperhatikan praktik ibadah anak di rumah. Misalnya, apakah anak melakukan wudhu sendiri? Apakah anak mengucapkan doa sebelum makan? Pengamatan dari orang tua sangat berharga. Selanjutnya, orang tua bisa melaporkan kepada guru. Laporan itu menjadi tambahan informasi. Guru akan menggabungkannya dengan penilaian di sekolah.
Dengan cara tersebut, penilaian menjadi lebih komprehensif. Orang tua juga bisa memberikan semangat. “Kamu sudah memenuhi kriteria baik. Yuk, tingkatkan menjadi sangat baik.” Kerjasama tersebut sangat penting. Karena, Fikih adalah pelajaran yang bersifat praktik. Aktivitas ibadah bisa dilakukan kapan saja, bukan hanya di kelas.
KKTP Fikih kelas 2 MI fase A kurikulum merdeka bukanlah sebuah dokumen yang tidak berubah. Guru perlu melakukan evaluasi setiap semester. Apakah kriterianya sudah tepat?, apakah penjelasannya mudah dimengerti?, apakah semua murid bisa memenuhi kriteria tersebut?. Jika sebagian besar murid masih berada di tingkat “perlu bimbingan”, mungkin kriterianya terlalu sulit. Sebaliknya, jika semua sudah mencapai “sangat baik”, mungkin kriterianya terlalu mudah.
Oleh karena itu, revisi perlu dilakukan. Proses revisi juga harus mempertimbangkan konteks sekolah. Sarana sekolah di perkotaan dan pedesaan berbeda. Fase A memberikan ruang untuk penyesuaian. Yang paling penting, KKTP kelas 2 tetap harus menantang namun realistis. Seorang guru yang bijaksana pernah mengatakan, “Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) adalah peta, bukan tembok.”
Selain untuk murid, KKTP kelas 2 juga berguna bagi guru. Hasil prestasi murid mencerminkan kualitas pengajaran. Jika banyak murid masih memerlukan bimbingan, guru perlu melakukan refleksi. Apakah cara mengajarnya kurang efektif?, apakah media pembelajaran kurang menarik?, apakah waktu yang dialokasikan sudah cukup?. Selanjutnya, guru harus mencari solusi. Contohnya, menggunakan lagu untuk membantu murid menghafal rukun wudhu. Atau membuat kartu bergambar yang menunjukkan urutan shalat.
Refleksi ini bisa meningkatkan tingkat profesionalisme guru. Guru yang baik akan selalu belajar. KKTP kurikulum merdeka mengarahkan terjadinya siklus perbaikan yang berkesinambungan. Sehingga, kualitas pembelajaran Fikih di Madrasah Ibtidaiyah pun meningkat. Murid menjadi lebih bersemangat.
Download KKTP Fikih kelas 2 fase A kurikulum merdeka selengkapnya klik disini
KKTP Fikih kelas 2 MI fase A kurikulum merdeka perlu dibuat dengan cara yang sederhana dan konkret. Guru membuat berdasarkan indikator yang terukur. Mari kita terapkan KKTP kurikulum merdeka dengan penuh cinta. Dengan begitu, belajar Fikih di Madrasah Ibtidaiyah menjadi pengalaman yang berkesan. Anak-anak akan tumbuh sebagai generasi yang taat dalam beribadah. Inilah harapan dari kurikulum merdeka.