Kurikulum merdeka memperkenalkan perubahan dalam pembelajaran Fikih kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan menggunakan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) sebagai alat penilaian utama. Dalam pendekatan tersebut, guru lebih fokus pada pemahaman konsep dan keterampilan praktik murid, bukan hanya pada nilai akhir. KKTP kurikulum merdeka dibuat dalam bahasa yang sederhana, terukur, dan dapat diamati langsung untuk mendesain capaian pembelajaran murid secara adil.

Materi Fikih kelas 4 MI pada fase ini bersifat fundamental dan aplikatif. Murid mempelajari bab thaharah atau tata cara bersuci dari hadas, termasuk wudhu, mandi wajib, dan tayamum. Selanjutnya, murid mendalami tata cara shalat fardhu lima waktu, di mana mereka menghafal bacaan shalat dan memahami gerakan-gerakannya. Bab puasa Ramadhan juga diperkenalkan secara bertahap dengan cara yang ringan. Zakat fitrah menjadi bahasan penting menjelang akhir semester.
Materi-materi tersebut menuntut praktik langsung, bukan sekadar hafalan, sehingga KKTP Fikih kelas 4 fase B kurikulum merdeka perlu memuat indikator unjuk kerja yang konkret. Guru mengamati gerakan, bacaan, dan urutan ibadah murid. Sikap khusyuk dan disiplin waktu juga menjadi perhatian khusus. Dengan demikian, penilaian mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Guru memulai perumusan KKTP Fikih kelas 4 MI fase B kurikulum merdeka dengan menjabarkan setiap tujuan pembelajaran. Setiap tujuan harus mencakup kata kerja operasional yang spesifik, seperti menyebutkan, menjelaskan, dan mempraktikkan. Selanjutnya, guru menentukan tiga hingga empat level penguasaan kompetensi yang biasanya dinamai cukup, baik, dan sangat baik. Setiap level dideskripsikan dengan kalimat yang jelas untuk menggambarkan perilaku nyata murid.
Misalnya, level cukup menunjukkan bahwa murid masih memerlukan bantuan guru. Level baik berarti murid mudah melakukannya sendiri dengan sedikit kesalahan. Level sangat baik berarti murid melakukan dengan sempurna dan menghafal di luar kepala. Guru juga menetapkan kriteria minimal yang harus dicapai oleh semua murid, yang menjadi ambang batas ketuntasan belajar.
Rubrik penilaian merupakan alat bantu yang sangat efektif dalam proses ini. Rubrik memuat beberapa aspek penilaian secara paralel dan terstruktur. Aspek pertama adalah kesesuaian urutan gerakan dengan tuntunan agama. Berikutnya, aspek kedua adalah ketepatan bacaan dari segi makhraj dan tajwid. Selanjutnya, aspek ketiga adalah konsistensi sikap tubuh selama melakukan ibadah.
Guru Fikih kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah memberikan skor pada setiap aspek berdasarkan rubrik yang ada. Skor tersebut dijumlahkan untuk menentukan level capaian akhir. Selain itu, guru menambahkan catatan kualitatif yang memberikan gambaran kekuatan dan kelemahan spesifik setiap murid. Dengan menggunakan rubrik, guru bisa meminimalkan unsur subjektivitas dalam penilaian. Murid juga mudah menggunakan rubrik untuk melakukan refleksi diri dan mengecek apakah telah memenuhi semua indikator.
Guru mengalami tantangan waktu dalam menilai murid, dengan jumlah murid per kelas mencapai 30 orang. Ada variasi kemampuan yang sangat berbeda, di mana beberapa sudah shalat sejak kecil dan lainnya belajar dari dasar. Guru perlu membuat strategi diferensiasi. Misalnya membagi kelas menjadi kelompok kecil dengan campuran kemampuan. Murid yang mahir mudah membantu yang kesulitan.
Guru juga memanfaatkan teknologi dengan merekam video praktik. Video tersebut mudah diputar ulang untuk evaluasi bersama di kelas, sehingga penilaian menjadi lebih efisien dan menyenangkan. Forum musyawarah antar guru mata pelajaran di Madrasah Ibtidaiyah juga sangat membantu. Dalam forum tersebut, guru bisa saling berbagi rubrik dan pengalaman dalam mengatasi masalah serupa. Kolaborasi tersebut secara kolektif bisa meningkatkan kualitas KKTP kelas 4.
Murid merasakan manfaat yang jelas dari adanya KKTP kurikulum merdeka. Mereka mempunyai peta jalan belajar yang terarah dan sistematis, sehingga tidak merasa cemas menghadapi ujian karena sudah mengetahui kriterianya. Setiap kali melakukan latihan, mereka bisa segera mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki. Umpan balik yang cepat ini memacu semangat mereka untuk terus berlatih, dan mereka belajar untuk menghargai proses daripada terpaku pada angka. Murid menjadi lebih bertanggung jawab atas kemajuan belajar mereka sendiri, berani bertanya, dan mencoba tanpa takut gagal. Kegagalan dianggap sebagai batu loncatan menuju kesempurnaan.
Di pihak lain, guru juga mendapatkan banyak kemudahan dari KKTP Fikih kelas 4 MI fase B kurikulum merdeka. Guru mudah mendesain pembelajaran dengan fokus yang lebih tajam dan terukur. Mereka mampu mengidentifikasi kelemahan dalam metode pengajaran secara dini dan melakukan perbaikan yang diperlukan tanpa menunggu akhir semester. Laporan hasil belajar yang disampaikan kepada orang tua menjadi lebih konkret dan jelas, sehingga orang tua mudah memahami capaian anak secara naratif dan bermakna. Hal ini juga meningkatkan kepercayaan diri guru dalam mengambil keputusan akademik, terutama terkait remedial atau pengayaan yang didasarkan pada data yang valid. Dengan demikian, profesionalisme guru semakin berkembang seiring waktu.
Untuk tetap sesuai setiap tahun, guru harus terus memperbarui KKTP Fikih kelas 4 MI fase B kurikulum merdeka. Perubahan karakter murid dan konteks sosial memerlukan penyesuaian yang tepat. Guru perlu meninjau kembali capaian murid dari periode sebelumnya. Jika mayoritas murid mengalami kesulitan, guru akan menurunkan sedikit tingkat kesulitan, sementara jika semua murid berhasil, maka tantangan pada level berikutnya akan dinaikkan. Evaluasi tersebut dilakukan secara kolaboratif dalam kelompok kerja guru, di mana mereka mendiskusikan setiap indikator secara kritis dan konstruktif.
Masukan dari pengawas madrasah juga sangat berharga untuk melakukan revisi. Guru bisa mengakses modul Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) melalui platform Merdeka Mengajar, yang menyediakan contoh-contoh dari berbagai mata pelajaran. Guru mudah mempelajari dan mengadaptasi modul tersebut sesuai dengan kondisi Madrasah Ibtidaiyah masing-masing. Pelatihan berkelanjutan dari dinas pendidikan juga memperkuat pemahaman ini, sehingga guru bisa terus belajar dan berinovasi.
Keterlibatan orang tua sangat menentukan keberhasilan pencapaian KKTP Fikih kelas 4 MI fase B kurikulum merdeka. Guru menyampaikan kriteria penilaian kepada orang tua melalui pertemuan wali murid. Orang tua memahami bahwa praktik ibadah tidak hanya dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah, tetapi juga penting untuk dilakukan di rumah. Mereka secara rutin memperkuat latihan wudhu dan shalat di rumah. Bimbingan orang tua menambah jam praktik harian yang sangat berharga bagi anak-anak. Selain itu, lingkungan masjid di sekitar juga memberikan dukungan bagi pembiasaan positif. Anak-anak mudah melihat contoh nyata dari jamaah yang lebih tua. Keteladanan dari orang dewasa memberikan dampak psikologis yang kuat bagi mereka.
Guru menyediakan lembar pantauan sederhana yang harus diisi oleh orang tua. Lembar tersebut mencatat frekuensi shalat berjamaah anak di rumah. Orang tua mengembalikan lembar tersebut kepada guru setiap minggu. Data yang dikumpulkan ini melengkapi penilaian terhadap sikap dan kebiasaan ibadah murid. Kerja sama tersebut membuat ekosistem pendidikan yang harmonis dan utuh.
Download KKTP Fikih kelas 4 fase B kurikulum merdeka selengkapnya klik disini
KKTP Fikih kelas 4 MI fase B dalam kurikulum merdeka merupakan petunjuk esensial. Guru merumuskan kriteria dengan rubrik yang jelas dan terukur. Mari kita terapkan KKTP kurikulum merdeka tersebut dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang. Hasilnya akan terlihat dalam perilaku keseharian murid. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, jujur, dan bertakwa. Inilah hasil manis dari pembelajaran Fikih di Madrasah Ibtidaiyah yang berkualitas.