Strategi pelaksanaan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah (MI) fase C harus direncanakan secara teratur. Pengajar perlu memastikan bahwa kriteria yang ada berfungsi dengan baik selama kegiatan pembelajaran, bukan hanya tercantum di kertas.

Pelaksanaan KKTP SKI kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah fase C kurikulum merdeka harus sesuai dengan tujuan pengajaran, kegiatan kelas, penilaian, dan tindak lanjut dari hasil belajar. Guru perlu memahami capaian pembelajaran, merincinya menjadi indikator yang jelas, dan menetapkan standar pencapaian yang realistis sesuai dengan kemampuan murid. Hal ini sangat penting supaya murid tetap termotivasi dan bisa belajar dengan tantangan yang sesuai.
Langkah awal dalam pelaksanaan KKTP SKI kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah fase C kurikulum merdeka adalah menyelaraskannya dengan tujuan pembelajaran. Guru harus memastikan bahwa setiap kriteria mencerminkan kompetensi yang ingin dicapai. Dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), tujuan pembelajaran tidak hanya terkait dengan pengetahuan sejarah. Tujuan tersebut juga meliputi pemahaman tentang nilai, teladan dari tokoh, dan sikap yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehar-hari. Karena itu, Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) harus menilai lebih dari sekadar penghafalan.
Guru bisa mengawali dengan pertanyaan sederhana: kompetensi apa yang paling penting setelah kegiatan pembelajaran? Pertanyaan tersebut membantu guru menentukan fokus penilaian. Contohnya, jika tujuan pembelajaran menekankan pemahaman tentang tokoh-tokoh Islam, maka kriteria tidak hanya sekadar kemampuan menyebutkan nama tokoh saja. Guru juga perlu menilai apakah murid bisa menjelaskan peran tokoh tersebut secara teratur. Dengan cara ini, KKTP kurikulum merdeka menjadi lebih bermakna, adil, dan sesuai dengan karakter Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) sebagai mata pelajaran yang kaya akan nilai.
Selanjutnya, penyelarasan ini juga membantu guru menjaga konsistensi antara perencanaan dan pelaksanaan. Ketika tujuan pembelajaran, kegiatan kelas, dan penilaian berada dalam satu garis, guru lebih mudah menilai perkembangan murid. Murid juga menjadi lebih jelas tentang apa yang perlu mereka capai. Kejelasan ini membuat kegiatan pembelajaran terasa lebih teratur dan tidak membingungkan.
Strategi selanjutnya adalah menerapkan pembelajaran yang kontekstual. Dalam SKI kelas 6 MI, pemahaman materi sejarah akan lebih mudah jika dihubungkan dengan pengalaman nyata murid. Guru tidak perlu menjelaskan materi secara kaku. Sebaliknya, guru bisa memanfaatkan cerita, ilustrasi, diskusi, permainan peran, atau pertanyaan yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Cara tersebut mengarahkan murid untuk lebih aktif dan lebih mudah memahami makna di balik setiap peristiwa sejarah.
Pembelajaran kontekstual juga mendukung penerapan KKTP SKI kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah fase C kurikulum merdeka. Saat murid belajar melalui kegiatan bermakna, guru bisa mengamati kemampuan mereka dengan lebih langsung. Misalnya, ketika murid diajak untuk menceritakan kembali kisah tokoh Islam, guru bisa menilai kesesuaian isi, urutan cerita, dan pemahaman nilai yang muncul dari kisah tersebut. Penilaian model ini jauh lebih berkualitas dibandingkan dengan tes tertulis biasa. Guru bisa melihat cara murid berpikir, berbicara, dan menghubungkan materi dengan hidup mereka.
Selain itu, pembelajaran bermakna memfasilitasi murid dalam mencapai kriteria dengan lebih natural. Murid tidak merasa tertekan untuk mendapatkan nilai. Mereka merasa sedang memahami cerita, mengambil pelajaran, dan membangun pengetahuan. Inilah kelebihan utama dari pembelajaran kontekstual. Ia menjadikan sejarah terasa hidup, bukan sekadar daftar nama dan tahun. Akhirnya, KKTP kelas 6 juga akan lebih efektif karena murid belajar dari pengalaman nyata yang berkesan.
Implementasi KKTP SKI kelas 6 fase C kurikulum merdeka memerlukan penilaian yang dilakukan secara bertahap, di mana guru tidak hanya mengevaluasi murid pada akhir pengajaran, melainkan juga sejak awal hingga proses selesai. Hal ini memungkinkan guru untuk memantau perkembangan murid secara menyeluruh. Berbagai jenis penilaian seperti pengamatan, ujian lisan, dan tugas tertulis bisa digunakan untuk memperoleh hasil yang lebih tepat. Penilaian yang berkesinambungan memungkinkan adanya perbaikan lewat umpan balik dan latihan tambahan, yang mendukung tujuan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) dalam membantu murid berkembang, serta membuat lingkungan belajar yang lebih mendukung sesuai dengan prinsip kurikulum merdeka.
Umpan balik merupakan elemen esensial dalam KKTP kelas 6. Tanpa umpan balik, murid tidak akan menyadari kekuatan serta kekurangan mereka. Guru perlu memberikan penjelasan yang spesifik dan mudah dimengerti. Umpan balik bisa diberikan setelah murid menjawab pertanyaan atau menyampaikan hasil dari diskusi. Guru harus menunjukkan aspek yang benar dan yang perlu diperbaiki. Umpan balik juga membantu guru dalam menyesuaikan metode pengajaran jika banyak murid belum memenuhi kriteria, sehingga mereka bisa memperbaiki kegiatan belajar di masa mendatang.