Program Tahunan (Prota) adalah dokumen yang menguraikan rencana strategis untuk kegiatan belajar selama satu tahun ajaran. Prota kurikulum merdeka dibuat dengan memberikan kebebasan kepada guru untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kondisi lokal, sekaligus menanamkan nilai-nilai yang terdapat dalam Profil Pelajar Pancasila.

Komponen Prota Antropologi Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
Komponen Prota Antropologi kelas 11 SMA/MA fase F disusun berdasarkan prinsip dan struktur kurikulum merdeka:
Capaian Pembelajaran (CP) Antropologi Kelas 11 Fase F
Didasarkan pada CP fase F Antropologi kelas 11 SMA/MA:
- Menganalisis konsep budaya, keragaman, serta dinamika sosio-budaya dalam masyarakat.
- Mengevaluasi pengaruh globalisasi, modernisasi, dan perubahan lingkungan terhadap budaya lokal.
- Menerapkan metode etnografi dalam studi kasus fenomena budaya.
- Mengembangkan sikap menghargai keragaman budaya dan kearifan lokal.
Tema/Topik Utama Tahunan
Disesuaikan sesuai alur dan tujuan pembelajaran. Contoh topik Antropologi kelas 11:
- Berkenalan dengan Antropologi
- Perkembangan Antropologi Ragawi
- Kebudayaan Zaman Prasejarah
- Keanekaragaman Bahasa
- Sejarah dan Perkembangan Etnografi
Distribusi Materi per Semester
- Berkenalan dengan Antropologi (15 JP)
- Perkembangan Antropologi Ragawi (20 JP)
- Kebudayaan Zaman Prasejarah (25 JP)
- Keanekaragaman Bahasa (20 JP)
- Sejarah dan Perkembangan Etnografi (20 JP)
Fokus Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)
Integrasi dengan mata pelajaran lainnya:
- Projek: “Melestarikan Kearifan Lokal di Era Digital”
- Tema: Suara Demokrasi, Bhinneka Tunggal Ika, atau Kearifan Lokal.
- Aktivitas:
- Eksplorasi etnografi budaya lokal.
- Membuat konten digital (video/podcast) tentang tradisi masyarakat.
- Presentasi solusi untuk pelestarian budaya.
Alokasi Waktu dan Kalender Pendidikan
- Total JP Tahunan: 90–100 JP (contoh: @45 menit/JP)
- Pembagian per bulan, disesuaikan dengan kalender akademik sekolah.
- Waktu cadangan untuk asesmen, remedial, dan proyek.
- Asesmen Diagnostik: Pre-test untuk memahami konsep kebudayaan.
- Asesmen Formatif: Observasi diskusi, portofolio jurnal refleksi, kuis analisis kasus.
- Asesmen Sumatif:
- Asesmen sumatif tengah/akhir semester (analisis esai tentang fenomena budaya).
- Projek etnografi (laporan dan presentasi).
Integrasi Profil Pelajar Pancasila dan HOTS
Menggabungkan Profil Pelajar Pancasila dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) dalam Prota Antropologi kelas 11 SMA/MA fase F kurikulum merdeka adalah kunci untuk menyediakan pengalaman belajar yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membangun karakter serta kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Implementasi kedua elemen ini pada setiap tema dan subtema memastikan siswa berkembang menjadi individu yang berkualitas, kompetitif, serta mampu berpikir kritis, kreatif, dan solutif.
Penetapan Indikator Sikap dan Keterampilan Sesuai Profil Pelajar Pancasila
Setiap subtema dirancang dengan indikator sikap yang terukur berdasarkan lima pilar Profil Pelajar Pancasila:
- Beriman, Bertakwa, dan Berakhlak Mulia: Lewat diskusi mengenai etika dalam penelitian antropologi, siswa diminta untuk menuliskan refleksi mengenai nilai kejujuran dan rasa hormat terhadap masyarakat adat.
- Berkebinekaan Global: Kegiatan studi perbandingan budaya mendorong siswa dalam memahami beragam nilai dan norma antar-komunitas, serta menumbuhkan sikap toleransi.
- Bernalar Kritis: Dalam setiap proyek lapangan, siswa dilatih untuk mengajukan pertanyaan investigatif, meneliti data secara objektif, dan menolak asumsi yang tidak didukung bukti.
- Berkreasi: Tugas membuat produk budaya digital (seperti video dokumenter) memberi kesempatan pada siswa untuk mengekspresikan ide inovatif dalam menyajikan temuan antropologis.
- Bergotong Royong: Proyek kelompok yang melibatkan berbagai subtema memotivasi siswa untuk berkolaborasi, berbagi peran, dan saling mendukung demi mencapai hasil terbaik.
Penguatan HOTS dalam Setiap Aktivitas Pembelajaran
HOTS yang meliputi tingkat berpikir analisis, evaluasi, dan kreasi ditekankan melalui rangkaian aktivitas:
- Analisis: Siswa mempelajari secara mendalam struktur sosial dalam suatu komunitas adat, mengenali elemen-elemen utama (status, peran, institusi), lalu membandingkannya antar berbagai kasus.
- Evaluasi: Dalam sesi debat, siswa mengevaluasi argumen mendukung dan menentang globalisasi berkenaan dengan pelestarian budaya lokal, mempertimbangkan bukti-bukti nyata, dan merumuskan kesimpulan berdasarkan kriteria yang objektif.
- Kreasi: Dalam projek akhir, siswa merancang kampanye digital untuk melestarikan tradisi lokal, dari konsep visual hingga rencana publikasi di media sosial.
Contoh Rangkaian Kegiatan Terintegrasi
- Studi Kasus dan Diskusi Analitis: Setelah melakukan observasi di lapangan, siswa menyusun esai analitik menggunakan teori antropologi sambil menekankan nilai toleransi antarbudaya (Profil Berkebinekaan Global).
- Proyek Video Dokumenter: Dengan menggunakan teknik penceritaan yang kreatif, kelompok siswa memproduksi video pendek tentang ritual adat yang ada. Pada saat evaluasi, siswa memberikan umpan balik kritis terhadap teman sekelompok mereka (HOTS Evaluasi).
- Debat Terstruktur: Dengan tema “Modernisasi vs. Pelestarian Budaya,” siswa diminta untuk berpikir kritis dan berbicara secara komunikatif (Profil Komunikatif), kemudian menilai argumen-argumen dengan menggunakan rubrik yang mencakup aspek logika, data, dan etika.
Asesmen Terpadu Profil dan HOTS
Asesmen ini bertujuan untuk mengukur pencapaian sikap Pancasila serta kemampuan berpikir tingkat tinggi. Instrumen penilaian terdiri dari:
- Rubrik Sikap: Menilai tanggung jawab, kerjasama, dan toleransi berdasarkan observasi dari guru dan refleksi dari siswa itu sendiri.
- Rubrik Keterampilan Berpikir: Mengukur kemampuan analisis, evaluasi, dan kreasi melalui produk tertulis, presentasi, serta portofolio proyek.
Dengan mendesain aktivitas dan instrumen penilaian yang terintegrasi, Prota Antropologi kelas 11 fase F kurikulum merdeka tidak hanya mempersiapkan siswa untuk menguasai materi akademik, tetapi juga membentuk karakter Pelajar Pancasila serta kemampuan berpikir kritis dan inovatif yang sangat penting di era global.