Pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) memegang peranan penting. Ini membantu siswa-siswa memahami huruf, angka, dan yang paling utama, petunjuk Ilahi. Kelas 1 MI adalah fase krusial ketika siswa mulai belajar Al-Qur’an Hadis. Jika cara pengajaran terasa berat dan kaku, siswa mungkin akan menganggapnya sebagai beban. Sebaliknya, jika pendidikan disampaikan dengan lembut dan menyenangkan, Al-Qur’an dan Hadis akan menjadi sahabat mereka.

Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan perangkat ajar yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga visioner dan berorientasi pada pengembangan karakter. Inilah tujuan dalam menyusun perangkat ajar kurikulum berbasis cinta (KBC) Al-Qur’an Hadis kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah yang mencakup modul ajar, capaian pembelajaran (CP), alur tujuan pembelajaran (ATP), program semester (Promes), program tahunan (Prota), serta kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP). Semua elemen ini harus mengintegrasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan pendekatan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadis kelas 1.
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) berlandaskan pada prinsip bahwa pendidikan, khususnya pendidikan agama, mesti didasari oleh kasih sayang. Rasulullah SAW diutus dengan penuh cinta, yang menjadi metode utama dalam proses pendidikan. Dalam Kelas 1, ungkapan cinta tercermin melalui: (1) cinta sayang guru kepada siswa, ditunjukkan melalui kesabaran dan penghargaan; (2) cinta siswa kepada guru dan teman, menciptakan atmosfer belajar yang aman; (3) cinta terhadap kegiatan belajar itu sendiri; dan (4) menumbuhkembangkan cinta kepada Allah, Rasul-Nya, Al-Qur’an, dan Hadis. Pembelajaran harus membangun ketertarikan, bukan menakut-nakuti.
Pendekatan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) di sini bertujuan untuk mendorong pemahaman yang mendalam serta hubungan emosional-spiritual dengan materi. Deep learning untuk siswa kelas 1 mencakup komprehensi dan emosi. Misalnya, menyadari bahwa huruf Alif adalah awal dari kalimat Bismillah dan menikmati lafaz “Ar-Rahman” serta “Ar-Rahim”. Pendekatan tersebut menekankan pada kegiatan sensorik, bercerita, nyanyian, gerakan, dan refleksi sederhana untuk menyentuh hati mereka.
Integrasi kedua filosofi ini diaplikasikan dalam setiap komponen perangkat ajar KBC Al-Qur’an Hadis kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah.
Capaian Pembelajaran untuk Al-Qur’an Hadis kelas 1 MI tidak hanya berhenti pada “siswa mampu mengenal huruf hijaiyah”. Lebih dari itu, capaian tersebut harus mencerminkan elemen KBC dan deep learning. Contohnya:
Capaian seperti ini berfungsi sebagai panduan untuk semua perencanaan selanjutnya.
Prota berfungsi sebagai peta perjalanan tahunan yang memetakan tema besar setiap semester dengan prinsip “dari yang paling mudah dan menyenangkan”. Semester 1 dapat fokus pada “Mengenal Sahabat Al-Qur’an: Huruf dan Kata Cinta”, sementara Semester 2 bisa mengembangkan tema “Kisah-Kisah Penuh Hikmah dari Al-Qur’an dan Hadis”.
Promes merupakan perencanaan bulanan yang bersifat adaptif. Para guru perlu memiliki kesempatan untuk menyesuaikan laju pembelajaran sesuai dengan kondisi siswa. Jika pada bulan September mayoritas siswa menunjukkan antusiasme, maka pembelajaran bisa berlangsung dengan baik. Sebaliknya, jika pada bulan November terdapat masa kebosanan, Promes memberikan kesempatan untuk menyegarkan kembali suasana melalui kegiatan seperti outbound religi atau pentas seni Islami tanpa terburu-buru hanya mengejar pencapaian kognitif. Prinsip utama panca cinta menekankan pentingnya waktu berkualitas bersama Al-Qur’an dibandingkan sekadar menyelesaikan juz.