Kurikulum merdeka telah merubah cara pandang dalam pendidikan. Para guru kini tidak terikat pada batasan nilai minimum. Mereka lebih menitikberatkan pada pencapaian tujuan pembelajaran secara menyeluruh. Salah satu alat penting dalam hal ini adalah KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran). KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 7 Madrasah Tsanawiyah (MTs) fase D kurikulum merdeka berfungsi sebagai ukuran keberhasilan dalam aktivitas pembelajaran.

Kurikulum merdeka membagi Kelas 7 ke dalam fase D. Fase tersebut ditujukan untuk murid SMP/MTs. Di fase ini, murid mempelajari Al-Qur’an Hadis di Madrasah Tsanawiyah secara tema. Capaian pembelajarannya mencakup beberapa elemen. Pertama, murid diharapkan dapat membaca Al-Qur’an dengan baik. Kedua, mereka harus mampu menulis ayat-ayat yang pendek. Ketiga, murid harus bisa menghafal hadis yang telah dipilih. Keempat, diharapkan murid memahami makna dari ayat dan hadis. Kelima, murid menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dari capaian pembelajaran tersebut, guru merumuskan TP. Setiap TP mempunyai KKTP kurikulum merdeka yang berbeda.
Contoh konkret bisa diambil dari TP yang berhubungan dengan membaca QS. Asy-Syams. TP tersebut dinyatakan: “Murid membaca QS. Asy-Syams dengan baik.” Kriterianya bisa berupa rubrik penilaian. Rubrik tersebut meliputi indikator keberhasilan: kelancaran, makhraj, dan tajwid. Jika murid lancar, makhrajnya tepat, dan tajwidnya benar, mereka dinyatakan “sangat baik”. Predikat “baik” diberikan jika murid lancar tetapi terdapat sedikit kesalahan. Murid yang terbata-bata dan banyak melakukan kesalahan memerlukan bimbingan. Dengan cara tersebut, penilaian menjadi lebih jelas.
Guru perlu melakukan beberapa langkah yang terstruktur. Langkah pertama adalah menganalisis CP Al-Qur’an Hadis kelas 7 MTs. Guru harus membaca CP fase D dengan teliti. Kemudian, guru merinci CP menjadi beberapa TP. Setiap TP perlu dibuat spesifik dan bisa diukur. Kedua adalah menetapkan indikator pencapaian. Indikator tersebut adalah perilaku yang mudah diamati. Contoh indikator termasuk menyebutkan, menjelaskan, atau mempraktikkan.
Langkah ketiga adalah membuat deskripsi tentang kriteria. Deskripsi harus mencakup minimal tiga level. Keempat adalah memilih metode penilaian yang sesuai. Metode bisa berupa tes tertulis, lisan, atau praktik. Kelima adalah menguji di kelas. Guru harus menilai apakah deskripsi tersebut mudah dimengerti oleh murid. Langkah terakhir adalah merevisi KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 7 MTs fase D kurikulum merdeka berdasarkan hasil uji coba tersebut.
Materi Al-Qur’an Hadis kelas 7 di Madrasah Tsanawiyah sangat bervariasi. Misalnya, terdapat surah pendek dari juz 30, hadis mengenai niat, dan hadis tentang kebersihan. Setiap materi mempunyai KKTP kurikulum merdeka yang khas. Sebagai contoh, untuk materi hadis tentang niat, TP-nya adalah: “Murid menjelaskan isi hadis ‘innamal a’malu binniyat’. ” KKTP kelas 7 untuk TP ini mudah dibuat. Di level “sangat baik”: murid menjelaskan makna, sebab hadis tersebut diturunkan, serta memberikan contoh penerapan. Pada level “baik”: murid hanya menjelaskan makna dan memberikan contoh. Level “perlu bimbingan” berarti murid belum bisa menjelaskan makna dengan benar. Guru mencatat semua bukti pencapaian, yang bisa berupa hasil diskusi, jawaban lisan, atau tulisan.
Selanjutnya, untuk materi tentang QS. Al-Balad. TP-nya adalah: “Murid menulis QS. Al-Balad dengan benar.” KKTP kelas 7 di sini memperhatikan keakuratan penulisan. Indikator yang digunakan meliputi bentuk huruf, harakat, dan susunan ayat. Murid mendapatkan predikat “sangat baik” jika semuanya benar. Predikat “baik” jika hanya ada satu kesalahan. Predikat “perlu bimbingan” diberikan jika ada dua kesalahan atau lebih. Selain itu, guru juga akan menilai kerapian tulisan. Namun, kerapian bukanlah indikator utama. Yang terpenting adalah kebenaran bacaan dan tulisan. Dengan KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 7 fase D kurikulum merdeka yang jelas, murid mudah belajar dengan lebih terarah.
Setelah membuat KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 7 MTs fase D kurikulum merdeka, guru mendesain aktivitas pembelajaran. Aktivitas pembelajaran seharusnya berfokus pada pencapaian kriteria yang telah ditetapkan. Terapkan metode aktif seperti diskusi kelompok. Murid secara bergiliran membaca ayat. Rekan-rekan mereka mendengarkan dan memberikan tanggapan. Guru berkeliling untuk membantu murid dalam membaca. Selanjutnya, guru melaksanakan kuis lisan. Kuis tersebut digunakan untuk menilai pemahaman murid tentang makna hadis. Selain itu, guru juga memberikan tugas proyek sederhana. Contohnya, membuat poster yang menunjukkan penerapan hadis di sekolah. Proyek (kokurikuler) tersebut mengevaluasi aspek afektif dan psikomotorik murid. Keseluruhan aktivitas mengarah kepada indikator yang terdapat dalam KKTP kelas 7. Dengan cara ini, murid tidak akan terkejut saat penilaian dilakukan.
Selain itu, guru harus segera memberikan umpan balik. Umpan balik ini bertujuan untuk memberi tahu murid tentang posisi mereka. Contohnya, “Bacaanmu sudah baik, tapi perbaiki pengucapan huruf ‘ain’.” Umpan balik semacam ini membantu murid untuk meningkatkan kemampuan mereka. Pada akhirnya, semua murid diharapkan bisa mencapai minimal kategori “baik”. Namun, tidak masalah jika ada yang masih perlu diperbaiki. Guru hanya perlu memberikan pengajaran remedial. Remedial dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan. Misalnya, melalui bimbingan antar teman atau permainan kartu tajwid.
Menjelang akhir semester, guru melaksanakan asesmen sumatif. Asesmen tersebut bertujuan untuk mengevaluasi pencapaian semua tujuan pembelajaran. Guru mengumpulkan bukti dari berbagai metode. Metodenya bisa meliputi tes tertulis, praktik membaca Al-Qur’an, dan portofolio hafalan. Kemudian, nilai yang diperoleh diolah menjadi deskripsi akhir. Deskripsi akhir tidak berbentuk rata-rata angka.
Guru mempertimbangkan capaian tertinggi yang konsisten dari murid. Misalnya, dari 10 tujuan pembelajaran, murid berhasil mencapai 8 kategori Sangat Baik dan 2 kategori Baik. Maka, deskripsi akhir yang diberikan adalah “Sangat Baik”. Namun, guru juga menyebutkan dua tujuan pembelajaran yang masih berada dalam kategori “Baik”. Dengan demikian, orang tua dan murid mendapatkan gambaran menyeluruh. Selanjutnya, guru mengidentifikasi tujuan pembelajaran yang harus diperbaiki di semester mendatang.
Tantangan yang pertama adalah waktu yang diperlukan untuk persiapan. Membuat KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 7 fase D kurikulum merdeka yang detail memang memakan waktu. Solusinya, guru bisa bekerja sama dalam MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Di sini mereka berbagi tugas dalam membuat Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran per bab.
Tantangan yang kedua adalah adanya murid yang masih terbiasa dengan penilaian angka. Beberapa murid masih bertanya tentang “nilai saya berapa?”. Solusinya, guru terus memberikan informasi mengenai manfaat deskripsi kualitatif. Guru juga menyediakan opsi konversi ke nilai angka untuk keperluan rapor. Meskipun demikian, konversi bukanlah fokus utama.
Tantangan ketiga adalah orang tua yang kurang memahami. Sekolah bisa menyelenggarakan pertemuan khusus. Pada pertemuan tersebut, pihak sekolah menjelaskan mengenai KKTP kurikulum merdeka. Setelah memahami, diharapkan orang tua akan memberikan dukungan penuh.
Download KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 7 fase D kurikulum merdeka selengkapnya klik disini
KKTP Al-Qur’an Hadis kelas 7 MTs fase D kurikulum merdeka merupakan alat penilaian yang lebih adil. Ia lebih mengedepankan kompetensi nyata murid. Guru perlu membuat kriteria deskripsi yang jelas. Kriteria tersebut mencakup membaca, menulis, menghafal, memahami, dan menerapkan. Guru juga harus konsisten dalam menggunakan KKTP kurikulum merdeka selama aktivitas pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah. Pada akhirnya, pencapaian murid akan menjadi maksimal. Mereka tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga terampil dalam membaca Al-Qur’an dengan tartil. Selain itu, mereka juga mengimplementasikan hadis dalam kehidupan sehari-hari.