Pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) mempunyai tujuan yang lebih luas dari sekadar penyaluran pengetahuan. Tujuan utamanya adalah untuk membentuk karakter dan kepribadian murid secara utuh, berlandaskan pada prinsip-prinsip keislaman. Dalam aktivitas pembelajaran Al-Qur’an Hadis kelas 5, yang merupakan inti dari pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, tantangan utama adalah bagaimana menghadirkan ayat-ayat suci dan sabda Nabi tidak hanya sebagai teks yang dihafal, tetapi juga dimengerti, dirasakan maknanya, dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan kesadaran dan kebahagiaan yang penuh.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan pendekatan yang menyeluruh, yang menggabungkan perangkat ajar kurikulum berbasis cinta (KBC) Al-Qur’an Hadis kelas 5 MI yang solid dengan filosofi pendidikan yang berlandaskan Panca Cinta dan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam).
Sebelum membuat pengalaman belajar, penting bagi guru untuk mempunyai petunjuk yang jelas. Di sinilah keberadaan perangkat ajar KBC Al-Qur’an Hadis kelas 5 MI sangat penting sebagai kerangka yang diperlukan.
Dalam mata pelajaran Al-Qur’an Hadis kelas 5 MI, CP fase C tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca (tahsin) dan menghafal (tahfizh) saja. CP perlu dibuat supaya mencakup aspek yang lebih luas, seperti “Siswa mampu memahami arti sederhana dan pesan moral dari surat-surat pendek (seperti Al-Qadr, Al-‘Alaq ayat 1-5) dan hadis-hadis mengenai akhlak (seperti kasih sayang kepada anak yatim dan tetangga), serta menerapkannya dalam perilaku sosial di lingkungan sekolah dan rumah”. Pembuatan CP yang demikian telah membuka jalan bagi integrasi nilai dan penerapan.
ATP merupakan langkah-langkah berurutan untuk mencapai CP. Contohnya, urutan untuk memahami Surat Al-Qadr bisa dibuat sebagai berikut:
Program Tahunan (Prota) dan Program Semester (Promes) mengatur distribusi materi dalam jangka waktu yang lebih panjang. Dengan pendekatan yang baru, pembuatannya tidak hanya berfokus pada jumlah materi, tetapi juga pada ritme pembelajaran yang memungkinkan pembelajaran yang mendalam. Misalnya, waktu untuk satu surat atau hadis bisa diperpanjang untuk memberi kesempatan untuk proyek kecil atau refleksi, dibandingkan hanya mengejar jumlah hafalan.
Ini adalah alat yang bersifat praktis. Modul ajar KBC Al-Qur’an Hadis kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah untuk topik “Hadis tentang Menyayangi Anak Yatim” tidak lagi sekadar berisi teks hadis, terjemahan, dan soal latihan. Modul ajar KBC Al-Qur’an Hadis kelas 5 MI diformulasikan sebagai petunjuk kegiatan yang membawa guru dan murid melalui serangkaian pengalaman belajar. Pembelajaran tersebut akan menggabungkan bacaan, diskusi, observasi, simulasi, dan kegiatan amal.
Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) berfungsi sebagai alat ukur dengan pendekatan yang lebih menyeluruh. Penilaian tidak hanya menilai aspek kognitif (tes tertulis mengenai makna hadis), tetapi juga mengukur aspek afektif dan psikomotorik. KKTP bisa mencakup rubrik observasi sikap selama diskusi, penilaian portofolio (seperti catatan refleksi atau dokumentasi hasil nyata), serta penilaian diri (self-assessment) murid tentang perasaannya sebelum dan sesudah belajar materi.
Nilai dasar untuk semua perangkat ajar KBC kelas 5 tersebut adalah Panca Cinta. Filosofi tersebut, yang bermula dari nilai-nilai universal dalam Islam, memberikan “jiwa” pada setiap tahap pembelajaran.