Guru mengajak siswa melakukan “Tur Mini” di area sekolah, memperhatikan papan nama kelas, tanda-tanda, atau poster kegiatan ekstrakurikuler. Setelah kembali ke kelas, siswa diminta untuk menuliskan kalimat deskriptif mengenai apa yang mereka lihat.
Sebagai contoh, proyek “Buku Mini Cerita Keluargaku”: setiap siswa mengumpulkan foto anggota keluarganya, lalu menuliskan nama dan satu kalimat tentang hobi atau kesenangan masing-masing. Proyek ini dipresentasikan dalam bentuk pameran kecil di kelas.
Guru menggunakan cerita rakyat atau lagu daerah sebagai bahan bacaan dan pendengaran. Siswa mendengarkan dan kemudian mendiskusikan kosakata baru serta makna cerita, sehingga pembelajaran terasa lebih dekat dengan budaya setempat.
Menggunakan aplikasi interaktif (seperti kuis Kahoot atau video animasi pendek) untuk latihan membaca kata. Walaupun berbentuk digital, guru tetap menekankan pentingnya diskusi lisan sesudahnya supaya siswa berpartisipasi aktif dalam berbicara dan mendengarkan rekan-rekan mereka.
Alih-alih hanya menggunakan tes tertulis, guru melakukan “Wawancara Kecil” dengan setiap siswa: menanyakan perasaan mereka saat membuat cerita keluarga atau pemahaman mereka tentang teks cerita rakyat. Dengan cara ini, penilaian mencakup konteks nyata dan aspek emosional siswa.
Dalam pelaksanaan Promes Bahasa Indonesia kelas 2 SD/MI fase A kurikulum merdeka, guru sering kali berhadapan dengan berbagai kendala yang bisa menghambat pencapaian kompetensi. Berikut beberapa tantangan umum beserta solusinya:
Download Promes Bahasa Indonesia kelas 2 SD/MI fase A kurikulum merdeka selengkapnya disini
Program Semester (Promes) Bahasa Indonesia kelas 2 SD/MI fase A kurikulum merdeka merupakan dokumen penting yang memastikan kegiatan pembelajaran berlangsung secara terstruktur, relevan, dan kontekstual. Keberhasilan implementasi Promes kurikulum merdeka memerlukan perencanaan yang matang, asesmen yang autentik, dan kerjasama yang erat antara seluruh pemangku kepentingan pendidikan.