Kurikulum merdeka membawa dampak yang baik pada dunia pendidikan di Indonesia. Filosofi yang diusungnya bersifat fleksibel dan berfokus pada pengembangan kompetensi serta karakter mengikuti dimensi profil lulusan. Untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti kelas 8 SMP, para guru tidak hanya mengajarkan aspek keislaman, tetapi juga nilai-nilai karakter yang baik.

Supaya kegiatan belajar mengajar berjalan efektif dan sesuai dengan Capaian Pembelajaran (CP), guru perlu melakukan perencanaan yang matang. Program Semester (Promes) PAI dan Budi Pekerti kelas 8 SMP fase D kurikulum merdeka berfungsi sebagai pedoman penting untuk guru dan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran selama semester.
Promes PAI dan Budi Pekerti kelas 8 fase D dalam kurikulum merdeka adalah rencana pengalokasian waktu selama satu semester untuk memenuhi setiap Tujuan Pembelajaran (TP) yang telah ditetapkan dalam Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
Program Semester (Promes) berfungsi sebagai rincian dari program tahunan (Prota). Jika Prota mencakup keseluruhan satu tahun, maka Promes kurikulum merdeka lebih spesifik, biasanya mencakup:
Mengapa Promes PAI dan Budi Pekerti kelas 8 SMP fase D kurikulum merdeka sangat penting?
Kelas 8 adalah tahun kedua dalam fase D. Promes kelas 8 membantu guru memastikan bahwa waktu yang dialokasikan untuk setiap elemen Pendidikan Agama Islam (Al-Qur’an, Aqidah, Akhlak, Fikih, Sejarah) sudah seimbang, sehingga saat kelas 9 selesai, semua CP bisa tercapai tanpa ada materi yang terlewat atau terlalu terfokus pada satu aspek saja.
Kurikulum merdeka sangat menekankan pentingnya penguatan dimensi profil lulusan, yang mencakup dimensi keimanan, ketakwaan, dan berakhlak baik. Melalui Promes kurikulum merdeka, guru bisa membuat aktivitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga membiasakan siswa untuk terlibat dalam aktivitas sosial, seperti kolaborasi (yang merupakan implementasi dari zakat/akhlak) atau penalaran kritis saat memahami ayat-ayat kauniyah.
Promes PAI dan Budi Pekerti kelas 8 SMP tidak bersifat kaku. Ia memberikan kesempatan bagi guru untuk berkreasi. Jika di pertengahan semester muncul isu aktual yang berkaitan dengan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam (misalnya, toleransi antar umat beragama), guru bisa sedikit menyesuaikan waktu atau metode tanpa mengorbankan TP utama. Promes kurikulum merdeka yang baik adalah yang bisa beradaptasi.
Dengan adanya Promes kelas 8 yang jelas, guru bisa membuat asesmen yang tepat. Waktu yang tepat untuk melakukan asesmen formatif dan sumatif bisa direncanakan dengan lebih efektif, sehingga tidak ada penumpukan beban penilaian di akhir semester.
Menyusun Promes PAI dan Budi Pekerti kelas 8 fase D kurikulum merdeka yang efektif memerlukan pemahaman mendalam tentang kurikulum dan kondisi di sekolah. Berikut adalah langkah-langkah praktisnya:
ATP merupakan dokumen yang memuat susunan Tujuan Pembelajaran (TP) secara terstruktur dan logis di setiap fase. Untuk kelas 8, baik pada semester 1 maupun 2, guru diharuskan mempunyai ATP yang telah dibuat (bisa dibuat sendiri, memodifikasi contoh dari pemerintah, atau bekerja sama dalam MGMP). Dari ATP inilah, kita akan memperoleh daftar TP yang akan diajarkan selama semester tersebut.
Ini adalah tahap administratif yang sangat krusial. Guru perlu merujuk pada kalender akademik yang dikeluarkan oleh dinas pendidikan atau sekolah. Hitunglah jumlah minggu dalam satu semester, lalu kurangi dengan minggu-minggu yang tidak efektif seperti:
• Minggu efektif: Minggu di mana aktivitas pembelajaran berjalan dengan baik.
• Minggu tidak efektif: Libur awal puasa, libur hari raya (Idul Fitri, Idul Adha), libur semester, asesmen tengah semester, asesmen sumatif, serta hari libur nasional lainnya.
Setelah mengetahui jumlah minggu efektif dan total Jam Pelajaran (JP) yang tersedia (misalnya: Pendidikan Agama Islam 3 JP per minggu, selama satu semester dengan 20 minggu efektif = 60 JP), alokasikan JP ini ke setiap TP. Pertimbangkan kedalaman materi dan tingkat kesulitan dari TP tersebut. TP yang berkaitan dengan praktik shalat jenazah mungkin memerlukan waktu lebih (misalnya 3-4 JP) karena melibatkan teori dan praktik, dibandingkan TP yang membahas sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang mungkin hanya memerlukan 2 JP.
Saat membuat Promes PAI dan Budi Pekerti kelas 8 SMP fase D kurikulum merdeka, guru juga harus memperhatikan momen-momen keagamaan. Contohnya, jika bulan Ramadhan jatuh pada semester genap, maka Promes kelas 8 perlu dialokasikan untuk aktivitas khas bulan Ramadhan seperti pesantren kilat, praktik shalat tarawih, atau kajian singkat mengenai keutamaan bulan suci. Ini adalah wujud nyata dari penerapan Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar teori yang ada di dalam kelas.
Di samping itu, integrasi dengan proyek penguatan dimensi profil lulusan juga bisa mulai dipertimbangkan. Meskipun proyek adalah aktivitas kokurikuler yang berbeda dari intrakurikuler, tema-tema proyek bisa selaras dengan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam (PAI). Contohnya, tema “Kewargaan” bisa dikaitkan dengan nilai-nilai Islam yang terintegrasi dengan budaya Nusantara. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) bisa berkolaborasi dengan guru lain atau koordinator proyek untuk menyelaraskan waktu supaya beban siswa tidak bertambah.
Download Promes PAI dan Budi Pekerti kelas 8 fase D kurikulum merdeka selengkapnya klik disini
Promes PAI dan Budi Pekerti kelas 8 SMP fase D dalam kurikulum merdeka adalah alat penting yang menghubungkan rencana tahunan dengan pelaksanaan di kelas. Program Semester (Promes) tidak hanya sekadar jadwal ajar, tetapi juga menggambarkan pemahaman guru mengenai kebutuhan siswa, tuntutan kurikulum, serta konteks sosial dan keagamaan. Dengan Promes kurikulum merdeka yang baik, guru bisa mengatur waktu dengan efisien dan membuat pengalaman belajar yang penuh makna. Pembelajaran menjadi lebih teroganisir dan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Promes kelas 8 yang efektif membantu mencapai tujuan PAI dan Budi Pekerti, yaitu membentuk generasi muslim yang berilmu dan berakhlak baik. Membuat rencana pembelajaran seharusnya tidak dianggap sebagai beban, melainkan sebagai proses kreatif yang memuaskan. Selamat berkarya untuk para guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia!