Pendidikan di sekolah bukan hanya soal transfer pengetahuan. Ia berfungsi sebagai tempat untuk membentuk karakter, jiwa, dan kesadaran spiritual dari setiap individu yang belajar di sana. Namun, muncul pertanyaan: apakah perangkat ajar yang kita buat benar-benar mampu menyentuh hati para murid?

Seringkali, perangkat ajar kelas 11 dibuat dengan cara yang bersifat administratif lengkap, teratur, dan sistematis, namun kurang memberikan makna yang mendalam. Padahal, kelas 11 SMA/MA merupakan tahap yang sangat penting. Di usia ini, murid mulai mencari identitas diri, mempertanyakan nilai-nilai, dan membentuk tujuan hidup mereka. Jika perangkat ajar kelas 11 hanya terfokus pada aspek kognitif, kita akan kehilangan kesempatan berharga untuk membentuk karakter mereka.
Oleh karena itu, pengintegrasian kurikulum berbasis cinta dan deep learning (pembelajaran mendalam) dalam perangkat ajar KBC kelas 11 menjadi suatu keharusan, bukan hanya sekedar gagasan.
Menggabungkan kurikulum berbasis cinta dengan deep learning (pembelajaran mendalam) dalam perangkat ajar KBC kelas 11 berarti menyatukan dua konsep penting dalam pendidikan. Ini adalah langkah merajut nilai-nilai dan strategi secara utuh. Kurikulum berbasis cinta menitikberatkan pada pendidikan yang mengedepankan kemanusiaan, dengan cinta sebagai pondasi dari setiap interaksi, termasuk cinta Allah Swt, Rasulullah Saw, orang tua, guru, sesama, serta lingkungan. Sementara itu, pembelajaran mendalam menekankan kegiatan belajar yang signifikan, di mana murid belajar secara aktif, menemukan makna, dan menikmati kegiatan belajar. Hasilnya adalah pembelajaran yang sistematis, menyentuh emosi, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Bagaimana kedua pendekatan tersebut bisa diintegrasikan secara nyata dalam perangkat ajar kurikulum berbasis cinta (KBC) kelas 11?
Di sekolah, pentingnya integrasi nilai-nilai keislaman sangat ditekankan. Identitas sekolah yang kuat mendukung penerapan kurikulum berbasis cinta. Pendekatan deep learning memastikan bahwa nilai-nilai ini benar-benar dipahami, tidak hanya sebagai kata-kata.
Sebagai contoh, jika seorang murid kelas 11 mempelajari Fikih tentang muamalah, dan hanya sebatas mempelajari definisi serta dalil, mungkin ia hanya akan lulus ujian dengan baik. Namun, jika pengajaran tersebut dihubungkan dengan praktik ekonomi yang adil dan etis serta dianggap sebagai bentuk cinta kepada Allah dan sesama, murid tersebut tak hanya memahami konsep, tetapi juga mempunyai komitmen moral yang kuat.
Cinta merupakan energi terdalam dalam pendidikan. Tanpa cinta, kegiatan belajar akan terasa kering. Kurikulum berbasis cinta (KBC) menjadikan nilai sebagai pijakan utama.
Kurikulum berbasis cinta yang berlandaskan pada Panca Cinta, sementara deep learning memastikan kegiatan belajar berlangsung dengan mindful, meaningful, dan joyful learning. Ketika kedua pendekatan tersebut digabungkan dalam modul ajar, CP, ATP, Prota, Promes, dan KKTP, maka perangkat ajar KBC kelas 11 tersebut menjadi alat yang bisa mentransformasikan.
Modul ajar KBC kelas 11 dibuat dengan enam komponen berikut:
Contohnya, dalam pelajaran Ekonomi dan Fikih kelas 12: murid akan mempelajari tidak hanya teori pasar, tetapi juga berdiskusi tentang etika perdagangan dari sudut pandang nilai Islam serta kepedulian sosial.